Nasihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Bagi Orang Mukmin

1.) Wahai hamba Allah, hendaklah engkau malu kepada Allah dengan memalukan yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau lalaikan waktumu dengan sia-sia. Kamu disibukkan dengan urusan mengumpulkan harta, berangan-angan terhadap yang nir akan engkau temukan dan membentuk sesuatu yg tidak engkau tempati, maka yg demikian itu menjadi penghalang dirimu berdasarkan maqam Tuhanmu.

Duduklah berdiam diri sembari mengingat Allah dalam hati, itu adalah perbuatan orang-orang arif, perbuatan orang-orang siddiq, yg tempat tinggalnya pada nirwana. Maka jadilah engkau insan yg ridha atas ketentuan-Nya dan mendekatkan hati pada-Nya, bermunajat dan menyingkap tabir penghalang antara dirimu menggunakan Allah. Apabila demikian, jadilah persahabatan hati ini pada kesunyiannya beserta Dia Yang Haq.

Dua.) Wahai hamba Allah, orang mukmin itu selalu beramal buat global dan akhiratnya. Beramal buat dunia menyampaikannya menurut kehendak yg diharapkan pada sana. Terimalah global menjadi bekal penumpang, jangan hingga menariknya sesuka hatimu. Orang jahil itu setiap kehendaknya tertuju pada global, sedangkan orang arif setiap geraknya buat akhirat kemudian menuju Tuhan. Apabila engkau ambil kesenangan dunia hingga membumbung mencapai tingkat nafsu syahwat, maka perhatikan sebentar : Siapakah Penguasa yang mampu mencerai-beraikan segala sesuatu ? Karena hal itu tidak menguntungkan kamu, maka lawanlah impian nafsumu buat menguasai dunia & didiklah nafsumu disisi Allah Yang Haq.

3.) Orang mukmin hidup di dunia ini mencari bekal buat akhirat, tetapi orang kafir hanya bersenang-bahagia pada dalamnya. Orang mukmin selalu berbekal, lantaran mereka berada pada jalan qona?Ah, mereka selalu merasa cukup terhadap apa yg sudah terdapat pada tangannya, & selalu mempermudah lepasnya harta, lantaran lebih poly dicurahkan buat kepentingan akhirat, buat bekal menghadapi hari kiamat nanti. Apapun usahanya di global ini dipersiapkan buat dirinya, dijadikan bekal buat dirinya sinkron menggunakan kemampuannya. Semua kekayaannya dipersiapkan untuk kehidupan akhirat.

4.) Wahai hamba Allah, bila engkau memelihara iman, menyuburkan batangnya, tentu diperkaya Allah buat dirimu sendiri menurut segala makhluk. Allah menghias jiwa, hati, dan batinmu kemudian menempatkan engkau dalam pintu-Nya, memperkaya fikirmu menggunakan jangan lupa, dekat, dan tunduk beserta-Nya. Ketika itu engkau tidak peduli lagi terhadap orang yang bersimbah global atau disibukkan oleh keduniaan, pula nir memperdulikan orang-orang yang haus menguasai global.

Lima.) Orang beriman itu merupakan orang yang belajar sesuatu yg diwajibkan kepadanya, lalu selalu beribadah pada Allah. Ia mengenal Allah lalu mencintai-Nya, mencari dan melayani-Nya. Ia juga memahami bahwa bahaya, manfaat, baik atau jelek itu bukan tiba dari makhluk, & apapun yang menimpa makhluk itu merupakan berdasarkan Allah Azza wa Jalla. Orang yang menuju kepada Allah itu lebih damai daripada orang yang menuju kepada makhluk, karena makhluk itu beraneka macam, sedangkan Allah hanya satu. Maka orang yg menghadapi aneka macam macam kasus, hatinya tidak akan tentram, & ketentraman hati itu tercapai jikan hanya tertuju kepada Allah semata.

6.) Wahai hamba Allah, orang muslim merupakan orang yang selalu bersyukur atas nikmat & ketentuan-Nya, mereka selalu mengingat Allah melalui verbal lalu mengalir ke hati. Jika mereka tertimpa penyakit, tampak pada wajah mereka tersungging senyuman. Bagi mereka global tidak lebih bagai bangkai, nir berdaya, pesakit, fakir, dan surga juga neraka bagi mereka tidaklah punya makna. Mereka tidak merasa fakir, mereka beramal bukan buat memperoleh kenikmatan dalam surga , dan jua bukan lantaran takut siksa neraka. Tetapi seluruh yang dilakukan itu hanyalah semata-mata buat mengagungkan dan dzikir pada-Nya, mendekat dan mengabdi pada-Nya menjadi tugas setiap makhluk pada penciptanya. Maka setiap kecenderungan & eksistensi mereka selalu terjalin dengan Allah, sebagai akibatnya terjadi interaksi yg erat dengan Allah.

7.) Wahai hamba Allah, orang yg takut kepada Allah itu hanyalah orang yg berilmu. Mereka adalah golongan orang-orang yg ketika bekerja merupakan dengan ilmu, beramal & tahu apa yg diamalkan, mereka tidak mencari balasan menurut Allah Yang Haq terhadap apa yang dikerjakan, kecuali mereka hanya mengharap ridha Allah & bisa dekat menggunakan Allah. Mereka menghendaki kecintaan, tulus, & terbuka hijab yang menghalanginya. Mereka menghendaki agar pintu-Nya tidak tertutup di hadapannya, dunia dan akhirat. Mereka tidak terlalu cinta hidup di dunia pula pada akhirat, dan yang lain selain Allah. Dunia buat insan, akhirat buat insan, sedangkan Allah Al-Haq untuk orang beriman semata, untuk orang-orang yg bertakwa dan buat orang-orang arif yg selalu mengasihi-Nya, konfiden dan khusyu? Di hadapan-Nya.

8.) Sabda Nabi: ?Perumpamaan orang mukmin yg membaca Al-Qur?An bagaikan butir jeruk, harum baunya dan enak cita rasanya. Adapun perumpamaan orang mukmin yg nir membaca Al-Qur?An bagaikan buah kurma, nir berbau namun anggun cita rasanya.? (Al-Hadits)

9.) Wahai hamba Allah, sangat beruntung orang yg mengenal Allah Azza wa Jalla, menggunakan kenikmatan-Nya dan menyandarkan seluruh urusannya kepada-Nya, membersihkan jiwanya berdasarkan karena-sebab, daya, dan kekuatannya. Orang berakal tidak memperhitungkan amalnya untuk Allah, tidak mencari pahala atas perbuatan baiknya.

10.) Marah bila dilandasi lantaran Allah merupakan murka yang terpuji, namun apabila karena terdorong sang yang lain berarti marah yang tercela. Orang mukmin itu marah karena Allah, bukan karena diri sendiri. Ia murka lantaran untuk menolong agamanya, bukan untuk menolong diri sendiri. Ia mudah geram apabila hukum-hukum Allah dipermainkan, misalnya kegeraman singa tatkala menerkam buruannya.

11.) Wahai hamba Allah, apabila Islam nir terdapat di dalam jiwamu maka bagaimana iman mampu tumbuh dalam jiwamu. Jika keimanan itu nir terdapat pada jiwamu berarti engkau nir punya keyakinan. Apabila keyakinan nir engkau miliki berarti kamu tidak punya kebaikan. Inilah derajat yg tumbuh pada jiwa. Jika Islammu murni maka murni jua penyerahanmu. Jadilah kamu orang yg menyerahkan diri kepada Allah meliputi keberadaanmu, beserta memelihara aturan syara?. Serahkan jiwamu dari kewajibannya, perbaikilah adab beserta-Nya & makhluk-Nya. Janganlah engkau menganiaya dirimu sendiri atau orang lain, karena perbuatan aniaya itu menggelapkan hati, menggelapkan muka & catatan amal. Janganlah kamu menganiaya atau menolong orang yang menganiaya.

12.) Wahai orang yang berakal, bahwa kamu tak henti-hentinya membenci orang-orang miskin padahal engkau mengharap ridha Allah. Maka tidak mungkin keridhaan-Nya diberikan kepadamu sebelum kamu menyukai orang-orang miskin & menyukai kemiskinan. Dan bila engkau membenci orang-orang miskin & membenci kemiskinan tentu kamu akan memperoleh kemurkaan-Nya.

13.) Manusia yang hatinya tenang dan menjalankan perintah-Nya menggunakan istiqomah, maka menyerupai malaikat bahkan mereka diberi tambahan berupa manzilah-manzilah. Mereka dibekali menggunakan ma?Rifat & berilmu mengenai Dia, sedang para malaikat menjadi pembantu & pengikut mereka buat menyerap kegunaan mereka, lantaran berbagai nasihat telah dituangkan pada hati mereka. Maka, bila kamu ingin berpegang menggunakan manzilah-manzilah mereka hendaklah kamu jaga kebenaran Islam, setelah itu tinggalkan perbuatan dosa, baik dosa lahir juga batin, lalu bersikap wara?, menerapkan zuhud pada dunia, baik terhadap yang diperbolehkan atau yang dihalalkan, memperkaya diri menggunakan keutamaan Allah, berzuhud pada keutamaan-Nya, dan memperkaya diri menggunakan mendekati Allah. Jika rasa memperkaya diri telah nyata secara bersih pasti keutamaan-Nya dicurahkan kepadamu, & pintu-pintu pembagian-Nya terbuka untukmu mencakup pintu kelembutan, rahmat, & pertolongan-Nya.

Wallahu A?Lam

Sumber: Buku Wejangan Syekh Abdul Qodir Jaelani

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Nasihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Bagi Orang Mukmin"