Kisah Rasulullah Menghargai Masakan Istrinya

Seorang sahabat mengenang Rasulullah saw. Sebagai insan yang terbaik secara khalq & khuluq.Maksud khalq merupakan kreasi Allah yg bersifat lahiriah & fisik. Sementara khuluq merupakan ciptaan Alllah yg bersifat batiniah. Dengan demikian, Rasulullah adalah seorang yg terbaik, baik secara fisik juga akhlak.

Testimoni mengenai keagungan, khususnya akhlak Rasulullah juga tiba menurut Allah eksklusif dalam QS. Al-Qalam: 4. Di situ disebutkan bahwa Rasulullah memiliki akhlak yang sangat agung (Wa innaka la?Ala khuluqin adzim). Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan bahwa dalam diri Rasulullah terdapat sifat-sifat suri teladan yg baik.

Rasulullah sebagai teladan bagi umatnya pada segala aspek kehidupan. Tidak hanya pada urusan ibadah, akan tetapi jua urusan-urusan lainnya misalnya berteman, bertetangga, bahkan sampai berumah tangga. Termasuk tetap bersikap baik pada istri & tidak menyakitinya, meski apa yang diperbuat istri nir sesuai dengan apa yang beliau ?Kehendaki.? Rasulullah telah memberikan teladan tentang hal itu.

Dalam kitab Kisah-kisah Romantis Rasulullah (Ahmad Rofi? Usmani, 2017), disebutkan bahwa Rasulullah pernah menolak masakan istrinya yang tidak sinkron menggunakan seleranya. Meski demikian, Rasulullah menolaknya dengan cara yang baik dan halus sebagai akibatnya nir hingga menciptakan istrinya sakit hati.

Begini ceritanya, pada hari itu Rasulullah mengajak Khalid bin Walid menemui salah satu istrinya, Maimunah bin Harits. Sebagaimana diketahui, Maimunah merupakan saudara perempuan mak Khalid, Lubabah al-Sughra binti Harits. Dengan demikian, Khalid adalah keponakan menurut Maimunah, istri Rasulullah.

Ketika Rasulullah & Khalid tiba di bilik Maimunah, istri Rasulullah itu menuju ke dapur & memasak daging dhabb (sejenis biawak) yang diperoleh dari saudaranya yang tinggal pada Nejd, Hafidah binti Harits. Selang beberapa waktu, Maimunah berhasil merampungkan masakannya. Ia eksklusif menghidangkan masakannya itu buat Rasulullah & Khalid.

Pada ketika Rasulullah menjulurkan tangannya untuk mengambil sajian Maimunah itu, seorang tiba-datang memberikan liputan bahwa itu merupakan daging dhabb. Segera saja Rasulullah langsung menarik pulang tangannya. Beliau nir jadi memakan kuliner Maimunah itu.

Khalid yang berada di samping Rasulullah bertanya-tanya. Ia lalu bertanya pada Rasulullah tentang daging dhabb itu. Apakah halal atau haram? Dan mengapa Rasulullah mengurungkan niatnya buat mengambilnya dan tidak jadi memakannya?

?Daging dhabb tidak haram. Hanya saja daging dhabb ini tidak terdapat di wilayah kaumku. Lantaran itu aku kurang merasa berselera buat memakannya,? Kata Rasulullah menggunakan nada halus dan santun.

Setelah mendengar penerangan itu, Khalid ?Yang memang doyan dengan dhabb- eksklusif memakan kuliner yang dihidangkan Maimunah itu. Ia memakannya menggunakan begitu lahap. Sementara Rasulullah hanya melihatnya dan tidak melarang Khalid buat berhenti memakannya.

Demikian cara Rasulullah menolak kuliner istri yg tidak sinkron dengan seleranya. Beliau menggunakan alasan yg mampu diterima sang istrinya. Cara menyampaikannya pun dengan santun dan halus sebagai akibatnya istrinya tidak marah.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Rasulullah Menghargai Masakan Istrinya"