Cara Rasulullah Memperlakukan Narapidana

"Dan tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad) kecuali menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya: 107)

Demikianlah pernyataan Allah terhadap Rasulullah sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur?An. Kasih sayang Rasulullah mencakup alam semesta; umat non-Muslim, hewan, flora, jin, dan lainnya, nir hanya tertuju pada umat Islam saja. Dalam skala lebih kecil, rahmat Rasulullah nir hanya berlaku bagi umat Islam saja yang sebagai pengikutnya, namun pula bagi umat non-Muslim yg sebagai tawanannya ketika kalah perang.

Setelah perang Badar contohnya, setidaknya ada 70 musyrik Quraisy yang berhasil ditawan umat Islam. Mereka diperlakukan secara manusiawi, tidak disiksa dengan semena-mena, dan tidak dicederai kehormatannya. Merujuk kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah (Ibnu Katsir) & buku Rasulullah Teladan buat Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), Rasulullah memperlakukan tawanannya menggunakan empat cara.

Pertama, dieksekusi mati, namun ini sangat jarang sekali dilakukan. Dalam kasus tawanan perang Badar, hanya dua orang yang dieksekusi mati, sebagian besarnya dilepaskan dengan syarat ataupun tanpa syarat. Yaitu Nadhr bin Harits dan Uqbah bin Abu Mu’aith. Mereka berdua dibunuh karena kejahatan perangnya yang besar, bukan karena faktor balas dendam.

Kedua, dibebaskan dengan tebusan. Rasulullah sangat memperhatikan kondisi ekonomi setiap tawanannya. Jumlah tebusannya pun bervariasi, tergantung harta yang dimiliki mereka. Uang tebusan ini nantinya akan digunakan untuk keperluan umat Islam, bukan untuk Rasulullah secara pribadi. Diantara tawanan yang dilepas dengan tebusan harta adalah Abu Wada’ah dan Zararah bin Umair –saudara Mus’ab bin Umair (4000 dirham), al-Abbas bin Abdul Muthalib (100 uqiyah), Aqil bin Abu Thalib (80 uqiyah), dan lainnya.

Menariknya, tebusan tidak hanya berupa uang atau harta saja. Bisa pula barter tawanan perang. Dalam perkara Abu Amr bin Abu Sufyan contohnya, dia dilepaskan menggunakan syarat kaum musyrik juga melepaskan Sa?Ad bin an-Nu?Man bin Akal yang ditawan Abu Sufyan ketika umrah.

Ketiga, dibebaskan dengan syarat mengajarkan baca-tulis. Rasulullah tahu dan sadar kalau tidak semua tawanannya memiliki harta benda yang melimpah. Oleh karenanya, Rasulullah memiliki cara tersendiri untuk mengatasi persoalan itu. Bagi tawanan yang bisa baca-tulis, mereka akan dibebaskan jika mau mengajari umat Islam atau anak-anak Anshar tentang baca-tulis.

?Beberapa tawanan perang Badar ada yg memiliki uang buat tebusan, maka Rasulullah membuahkan tebusannya menggunakan mengajar anak-anak Anshar,? Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas.

Keempat, dibebaskan tanpa syarat apapun. Rasulullah juga membebaskan beberapa tawanannya tanpa uang tebusan sama sekali. Rasulullah tidak melakukan itu atas kehendak sendiri, akan tetapi keputusan itu diambil setelah beliau mendiskusikannya dengan para sahabatnya. Iya, Rasulullah adalah orang yang mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan suatu hal.

Adalah Abul Ash bin Ar-Rabi, suami Sayyidah Zainab putri Rasulullah, galat seorang tawanan perang yg dilepaskan tanpa uang tebusan. Pada waktu itu, menantu Rasulullah itu belum masuk Islam dan ikut bertarung di barisan kaum musyrik Makkah waktu perang Badar. Nahasnya, kaum musyrik kalah & dia tertawan. Semula Sayyidah Zainab menebus Abul Ash dengan kalung hadiah berdasarkan ibundanya Sayyidah Khadijah, namun Rasulullah mengembalikan itu dan membebaskan Abul Ash sesudah bermusyawarah dengan para sahabatnya.

?Seandainya Al-Muth?Im bin Adi (pembesar kaum Musyrik) masih hidup, kemudian ia berbicara kepadaku mengenai para tawanan ini, niscaya saya akan melepaskan mereka untuknya,? Kata Rasulullah di hadapan tawanan perang Badar. Al-Muth?Im merupakan keliru seorang elit musyrik yg dihormati Rasulullah. Dia merupakan salah seorang yg ikut membatalkan perjanjian boikot yg dilancarkan kaum musyrik kepada Bani Hasyim.

Sikap baik Rasulullah terhadap para tawanan nir sporadis menyebabkan mereka akhirnya memeluk Islam. Diantaranya adalah Tsumamah bin Atsal, seorang pemimpin Bani Hanifah. Pada ketika itu, dia tiba ke Madinah untuk membunuh Rasulullah. Namun gelagatnya tercium oleh para teman. Akhirnya dia ditawan.

Rasulullah yg mengetahui hal itu kemudian menyuruh sahabatnya buat memberinya makan. Tidak hanya sekali, akan tetapi berkali-kali. Tentu saja keadaan ini membuat para teman kebingungan. Bagaimana mungkin seorang yang hendak membunuh Rasulullah malah diberi makan, diperlakukan dengan penuh hormat, dan dimaafkan. Tsumamah kemudian dilepaskan sesudah beberapa hari ditawan. Menariknya, sehabis dilepaskan Tsumamah balik pada Rasulullah & menyatakan diri masuk Islam.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Cara Rasulullah Memperlakukan Narapidana"