Sejarah Walisongo Versi Maulana Habib Lutfi bin Yahya

Sebenarnya Walisongo pada Indonesia itu nir hanya yang biasa dikatakan sang pakar sejarah. Maulana Habib Luthfi bin Yahya mengisahkan sejarah Wali Songo yang tidak terekam oleh para ahli sejarah. Ahli sejarah itu membuatnya menurut kepentingan politik. Menurut Habib Luthfi, wali songo itu terdapat 5 generasi.

Generasi pertama dipimpin sang Syaikh Jamaludin Husein atau Syeikh Jumadil Kubra yang membawahi delapan wali lainnya. Sebagian terpencar pada Sumatera.

Generasi kedua dipimpin sang Syaikh Maulana Al-Malik Ibrahim yg membawahi delapan wali lainnya diantaranya Sayyidina Imam Quthub Syarif bin Abdullah Wonobodro, Syaikh Muhammad Sunan Geseng, Sayyid Ibrahim, Sunan Gribig, Amir Rahmatillah Sunan Tembayen, Imam Ali Ahmad Hisamuddin (Cinangka, Banten lama ), al-Imam Ahmad Zainul Alam.

Generasi ketiga dipimpin sang Imam Maulana Ibrahim Asmoroqond /Pandito Ratu (Tuban, Gresik) yg membawahi delapan sunan, diantaranya: Sunan Ali Al-Murtadlo (Genjang), Wali Lanang (Maulana Ishaq), Imam Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel), Sayyid Jalal Tuban, Syaikh Datuk Kahfi/Dzatul Kahfi/Sayyid Mahdi Cirebon, Syaikh Muhammad Yusuf Parang Tritis Jogja, Syaikh Maulana Babullah (Belabenung).

Generasi keempat dipimpin oleh Imam Ahmad Rahmatillah (Sunan Ampel) yg membawahi delapan sunan antara lain: Sultan Abdul Fatah, Sunan Drajat, Syaikh Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Syaikh Maulana Utsman Haji, Syaikh Muhammad bin Abdurrahman (Sunan Mejagung), Syaikh Maulana Ja?Far Shadiq (Sunan Kudus), Sayyid Abdul Jalil (Sunan Bagus Jeporo, Bukan Syaikh Siti Jenar).

Generasi kelima dipimpin sang Sunan Bonang yang membawahi delapan wali, diantaranya Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sultan Trenggono, Sunan Zainal Abidin/Qadli Demak, Sunan Muria.

Pada masa Syaikh Jamaluddin Husein usaha dititikberatkan dalam keorganisasian, dedikasi, ekonomi. Kemudian dilanjutkan pada global pendidikan & pengkaderan dalam masa Sayyid Malik Ibrahim, sebagai akibatnya bisa memasuki wilayah kerajaan tanpa campur tangan politik dan (imbalan) ekonomi. Selanjutnya pada masa Syaikh Asmaraqandi, mulai dilakukan pengaturan struktur organisasi menjadi media dakwah dan memperkuat perekonomian dan spiritual.

Selanjutnya dalam masa Sunan Ampel dilanjutkan dengan pemetaan geografi & antropologi, pembangunan ekonomi dan pertanian, pengelolaan tanah bantuan gratis menurut Hayam Wuruk dan Gajah Mada, sebagai akibatnya sanggup menghidupi dakwah dan pendidikan. Selain itu, kerapian organisasi lebih disempurnakan sehingga melahirkan ketatanegaraan/negarawan, ekonomi, pertanian, yang antara lain dipegang sang putra dia, Maulana Hasyim, seseorang ulama, fuqaha, tasawuf, ekonom, & sanggup memberdayakan ekonomi umat, sebagai akibatnya orang-orang fakir, miskin, anak-anak yatim, dan para siswa terjamin hidupnya.

Sunan Bonang; adalah seorang yg ?Allamah, membidangi segala ilmu, guru akbar berdasarkan para sultan/ratu, senopati, adipati, tumenggung, dan guru para wali & ulama. Kedudukan beliau shulthaan al-auliyaa? Fii zamaanihi.

Imam Ja?Far Shadiq (Sunan Kudus); merupakan seorang muhaddits & faqih, mahir ilmu kelautan, ekonomi, & pola pendidikan sehingga sanggup menyejahterakan kerajaan dan lingkungan, dan seseorang budayawan.

Sunan Kalijaga;  merupakan seorang ‘alim yang sangat memahami budaya, sekalipun aliran-aliran dan agama lain, sehingga mampu mengendalikan segala aliran, dari situ beliau mendapat gelar Kalijogo (kalinya aliran-aliran). Disamping itu, beliau merupakan budayawan, seniman, pengarang gending dan lagu yang berbentuk puisi ataupun syair. Beliau juga seorang dalang yang mampu memadukan dari mahabharata menjadi carangan, dari carangan menjadi karangan dan karangan itu menjadi pakem para dalang. Media tersebut juga menjadi media dakwah.

Sunan Giri (Muhammad ?Ainul Yaqin); adalah seseorang yg mahir hukum, mufti di zamannya & fatwanya sangat ditaati, impak beliau hingga pada anak cucunya, diantara keabsahan para sultan pada jawa, beliaulah yg melantiknya.

Sultan Abdul Fatah; merupakan seseorang ?Alim bijaksana, luas wawasannya pada kebangsaan, seseorang negarawan, seorang politisi yang sangat rapi dalam mengatur struktur pemerintahan di zamannya, imbas beliau hingga malaka bahkan Turki pada zaman itu.

Syaikh Ali Zainal Abidin / Qadli Demak; merupakan orang yg ?Allamah, kebijakan-kebijakan dia pada syariat sangat dihargai dalam waktu itu, dia sangat sukses pada menjaga pemerintahan, keamanan, & pertahanan nasional.

Sunan Gunung Jati; merupakan orang yang sangat ?Allamah, negarawan, budayawan, pakar taktik, pengaruhnya sangat luar biasa di kalangan muslim juga non muslim, disegani dan dicintai umat, serta sebagai pelindung umat dan bangsa.

Sunan Muria; merupakan shulthaan al-Auliyaa? Fii zamanihi, pembesar ahli thariqah, budayawan, seniman, ekonom. Pengaruh beliau sangat luar biasa berdasarkan semua kalangan menengah, atas, & bawah. Pertumbuhan thariqoh pada zamannya mengembang. Beliau pendamai & sangat disegani dan dicintai umat.

Sunan Bagus Jeporo (Syaikh Abdul Jalil); adalah seseorang sufi yg faqih, pengendali berdasarkan bentuk gejolak yang akan membawa perpecahan, sehingga tumbuh kedamaian & ketentraman. Syaikh Abdul Jalil ini bukan Syaikh Abdul Jalil yang disebut Syaikh Siti Jenar.

Demikianlah Siroh singkat Wali Songo yang disampaikan Habib Muhammad Luthfi Yahya di ndalem beliau dalam hari jumat lepas 13 April 2012, yakni waktu kami dari Idarah ?Aliyah MATAN berkonsultasi terhadap pola pengkaderan di MATAN, lalu dia memberi masukan agar pola pengkaderan pada MATAN misalnya kisah Wali Songo.

Semoga kita mampu mengambil pelajaran, nasihat, & menjadikan kisah di atas sebagai teladan buat gerak dan perjuangan kita. Amien. Al-Fatihah

Sumber: bangkitmedia.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Sejarah Walisongo Versi Maulana Habib Lutfi bin Yahya"