Kisah Kiai NU Menolak Tawaran Menjadi Pejabat TNI

Membaca sejarah konvoi nasional Indonesia secara umum, khususnya yang terkait usaha pesantren, santri, para kiai, & Nahdlatul Ulama, KH. Saifuddin Zuhri (1919-1986) merupakan sosok yang dapat sebagai acum otoritatif. Bukan hanya dari catatan-catatan menarik dirinya soal bepergian sejarah Indonesia & pesantren, namun karena Kiai Saifuddin Zuhri pula ikut berjuang secara fisik.

Rekam sejarah konvoi nasional dicatat & ditulis dengan baik sang Kiai Saifuddin Zuhri. Lintasan sejarah tadi dapat dibaca berdasarkan karyanya ?Guruku Orang-orang menurut Pesantren?, buku memoar tebalnya berjudul ?Berangkat menurut Pesantren?, serta karya-karya lainnya. Dari historiografi atau goresan pena sejarah Kiai Saifuddin Zuhri, sejarah nir hanya berisi narasi-narasi pokok (core), namun pula catatan-catatan pinggiran yg krusial diketahui menjadi faktor penentu terjadinya narasi core sejarah tadi.

Pria kelahiran Sokaraja, Banyumas dalam 1 Oktober 1919 itu adalah sosok yang terbilang lengkap. Ia seorang ulama, pejuang kemerdekaan, wartawan, politikus, & birokrat. Semua kiprahnya itu dia lakukan demi bangsa dan negara. Di dalam tubuh NU, ia beserta KH. Wahid Hasyim membuatkan jaringan NU di aneka macam daerah.

Dalam catatan Munawir Aziz (Pahlawan Santri: Tulang Punggung Pergerakan Nasional, 2016), Kiai Saifuddin Zuhri menjadi pejuang kemerdekaan melawan kolonial pernah menjadi sasaran operasi intelijen Belanda. Dia dianggap buron semenjak 21 Desember 1948. Bersama anak dan istrinya yg sedang hamil tua, ia menyusuri tebing curam dan licin selama beberapa bulan dengan melewati lebih menurut 22 desa sebagai tempat proteksi dari kejaran tentara Belanda.

Perjuangan militer beliau lakukan saat mengomando Laskar Hizbullah (laskar militer santri) yg kerap berbarengan menggunakan pasukan pimpinan Jenderal Soedirman. Seperti para gurunya pada pesantren yang tidak kalah besarnya dalam usaha memerdekakan bangsa, Kiai Saifuddin Zuhri nir mau terbuai dengan tawaran jabatan militer oleh pemerintah.

Prof. KH. Saifuddin Zuhri bersama Presiden Soekarno

Dalam buku karyanya ?Berangkat berdasarkan Pesantren? (LKiS, 2013), Kiai Saifuddin Zuhri pernah didatangi utusan Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin buat menunjukkan jabatan militer. Dari utusan tadi, Kiai Saifuddin Zuhri diberitahu bahwa dirinya telah diangkat menjadi opsir TNI (Tentara Nasional Indonesia) menggunakan pangkat Letnan Kolonel (Letkol). Namun, dia memilih buat tidak menerima tawaran tersebut. Berikut pernyataannya:

?Suatu hari datang kepadaku utusan Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin. Kedatangannya memberitahukan kepadaku bahwa saya sudah diangkat menjadi opsir TNI menggunakan pangkat Letnan Kolonel (Letnan Kolonel). Ia datang menggunakan membawa tanda pangkat sekalian bendera kecil yg lazim dipasang di verbal mobil. Aku pikir, ini suatu cara yang meninabobokan saja. Dan lagi, buat apa bendera mini pertanda kepangkatanku, padahal saya tidak mempunyai kendaraan beroda empat. Siapa yang memikirkan mobil di zaman penuh usaha itu? Aku katakan pada utusan itu bahwa kedatangannya saya hormati, tetapi aku tidak mampu menerima kepangkatanku menjadi Letnan Kolonel. Lebih baik, saya tetap pada pada Hizbullah, menyertai masyarakat mempertahankan Republik yg amat kucintai ini, menurut ancaman musuh. Kita jangan amat percaya kepada Belanda, dengan persetujuan Renville-nya. Itu cuma politik melucuti kekuatan Republik saja. Tanda pangkat aku kembalikan. Tetapi Mr. Amir Syarifuddin menolak, biarlah di tanganku saja, ucapnya. Begitu dia pergi, pertanda pangkat saya buang ke sungai. Pikirku, pada zaman begini, siapa yg mementingkan pangkat? Perjuangan masih panjang dan situasi belum menentu.?

Kiai Saifuddin Zuhri adalah satu berdasarkan ribuan santri dan kiai menurut kalangan pesantren yang berjuang keras untuk kemerdekaan bangsa Indonesia tanpa memikirkan jabatan dan pangkat atau kasus global lainnya. Hal ini menerangkan sikap wara? & tawadhu? Terhadap perkara duniawi atas perjuangan mewujudkan kemaslahatan orang banyak yang diajarkan oleh para gurunya pada pesantren.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Kiai NU Menolak Tawaran Menjadi Pejabat TNI"