Demonstrasi Berdarah Yang Menewaskan Khalifah Utsman

Tragedi Politik dalam Masa Kekuasaan Utsman bin Affan

Para pencatat sejarah membagi masa pemerintahan Utsman sebagai 2 periode, yaitu:

1.) Periode I

Pemerintahan Utsman membawa kemajuan luar biasa berkat jasa panglima yang ahli & berkualitas dimana peta Islam sangat luas dan bendera Islam berkibar dari perbatasan Aljazair (Barqah Tripoli, Syprus pada front al-maghrib bahkan terdapat sumber menyatakan hingga ke Tunisia). Di al-maghrib, pada utara sampai ke Aleppo & sebagian Asia mini , di timur bahari hingga ke Ma'wara al-Nahar ?Transoxiana, & di Timur seluruh Persia bahkan hingga di perbatasan Balucistan (sekarang daerah Pakistan), dan Kabul & Ghazni. Selain itu beliau jua berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan menghalau serangan-agresi pada bahari tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium dengan kemenangan pertama kali dilaut pada sejarah Islam.

Dua.) Periode ke-II

Kekuasaannya identik dengan kemunduran menggunakan kemunduran menggunakan huru-hara dan kekacauan yg luar biasa sampai dia wafat. Sebagian ahli sejarah menilai bahwa Utsman melakukan nepotisme. Beliau mengangkat sanak saudaranya pada jabatan-jabatan strategis yang paling besar & paling banyak menyebabkan suku-suku dan kabilah-kabilah lainnya merasakan pahitnya tindakan Utsman tersebut. Para pejabat & para panglima era Umar hampir semuanya dipecat oleh Utsman, lalu mengangkat dari famili sendiri yang tidak bisa & tidak cakap sebagai pengganti mereka. Adapun para pejabat Utsman yang berasal menurut keluarga dan famili dekat, diantaranya Muawiyah bin Abi Sufyan, Gubernur Syam, satu suku dan famili dekat Utsman. Oleh karenanya, Utsman dianggap bahwa beliau sudah melakukan KKN.

Mengetengahkan pulang kronologi seputar pemerintahan Utsman bin Affan, bukanlah pekerjaan yang gampang dilakukan. Terutama bila dikaitkan menggunakan ketersediaan data menggunakan kualitas dan kuantitas yg memadai. Upaya memojokkan pemerintahan Utsman menjadi rezim nepotis sendiri hanya berangkat dari satu sudut pandang menggunakan argumentasi mengungkap motif sosial-politik belaka. Lebih menurut itu, lebih banyak berkutat dalam dugaan dan produk kreatif imajinatif. Sumber data yang tersedia kebanyakan didominasi sang naskah yang ditulis pada masa dinasti Abbasiyah, yang secara politis sudah sebagai rival bagi Muawiyah, famili, & sukunya, nir terkecuali khalifah Utsman bin Affan.

Oleh karena itu, kesulitan pertama yg harus dihadapi adalah menyaring data-data valid pada antara rasionalisasi kebencian dan permusuhan yg menyelusup pada antara input data yang tersedia. Dakwah Islam dalam masa awal kekhilafahan Utsman bin Affan menerangkan kemajuan dan perkembangan signifikan melanjutkan estafet dakwah dalam masa khalifah sebelumnya. Wilayah dakwah Islam menjangkau perbatasan Aljazair (Barqah dan Tripoli Tunisia), di sebelah utara mencakup Allepo & sebagian Asia Kecil. Di timur laut sampai Transoxiana & seluruh Persia dan Balucistan (Pakistan sekarang), serta Kabul & Ghazni. Utsman jua berhasil menciptakan armada & angkatan laut yg kuat sebagai akibatnya berhasil menghalau agresi tentara Byzantium pada Laut Tengah. Peristiwa ini adalah kemenangan pertama tentara Islam dalam pertempuran di samudera .

Sebagaimana sudah dijelaskan di atas bahwa Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai pejabat publik. Di antaranya merupakan Muawiyah bin Abu Sufyan. Sosok Muawiyah dikenal menjadi politisi piawai dan tokoh berpengaruh bagi bangsa Arab. Yang sudah diangkat menjadi ketua wilayah (Gubernur) Syam semenjak masa khalifah Umar bin Khaththab. Muawiyyah tercatat menunjukkan prestasi & keberhasilan pada banyak sekali pertempuran menghadapi tentara Byzantium pada front utara. Muawiyah adalah sosok negarawan ulung sekaligus pahlawan Islam pilih tanding pada masa khalifah Umar maupun Utsman. Dengan demikian tuduhan nepotisme Utsman jelas tidak mampu masuk melalui celah Muawiyah tadi. Sebab beliau sudah diangkat menjadi gubernur sejak masa Umar. Belum lagi prestasinya bukannya gampang dipercaya ringan.

Selanjutnya penggantian Gubernur Bashrah Abu Musa al-Asy'ari dengan Abdullah bin Amir, sepupu Utsman pula sulit dibuktikan sebagai tindakan nepotisme. Proses pergantian pimpinan tadi didasarkan atas aspirasi & kehendak rakyat Bashrah yang menuntut Abu Musa al-Asya'ri meletakkan jabatan. Oleh warga Bashrah, Abu Musa dipercaya terlalu hemat dalam membelanjakan keuangan Negara bagi kepentingan warga dan bersikap mengutamakan orang Quraisy dibandingkan penduduk pribumi.

Pasca menurunkan jabatan Abu Musa, khalifah Utsman menyerahkan sepenuhnya urusan pemilihan pimpinan baru pada rakyat Bashrah. Tetapi pilihan masyarakat tersebut justru dipercaya gagal menjalankan roda pemerintahan & dievaluasi nir cakap sang rakyat Bashrah yang memilihnya sendiri. Maka kemudian secara aklamasi masyarakat menyerahkan urusan pemerintahan pada khalifah & meminta dia memilih pimpinan baru bagi wilayah Bashrah. Maka lalu khalifah Utsman memilih Abdullah bin Amir sebagai pimpinan Bashrah & warga setempat menerima pimpinan berdasarkan khalifah tersebut. Abdullah bin Amir sendiri sudah memperlihatkan reputasi relatif baik dalam penaklukan beberapa daerah Persia. Dengan demikian nepotisme pulang belum terbukti melalui penunjukan Abdullah bin Amir.

Sementara itu pada Kuffah, terjadi pemecatan atas Mughirah bin Syu?Bah lantaran beberapa kasus yang dilakukannya. Pemecatan ini sebenarnya atas perintah khalifah Umar bin Khaththab tetapi baru terlaksana pada masa khalifah Utsman. Penggantinya, Sa?Ad bin Abu Waqqash, juga diberhentikan sang khalifah Utsman dampak penyalahgunaan jabatan dan kurang transparansinya urusan keuangan daerah. Salah satu kasusnya, Sa?Ad meminjam uang dari kas propinsi tanpa melaporkannya kepada pemerintah sentra. Oleh karena itu tuduhan nepotisme terhadap kepemimpinan Utsman bin Affan hanyalah intrik politik sang para pesaingnya yg jua mempunyai kepentingan kekuasaan, hal tadi telihat menurut adanya reaksi-reaksi mereka yg sengaja mengeruhkan suasana agar pemerintahan pada keadaan goyang, sambil mencari titik kelemahan yg dimiliki oleh khalifah Utsman bin Affan.

Pada masa pemerintahan Khulafau ar-Rasyidun, setiap daerah menikmati otonomi penuh, kecuali dalam perseteruan keuangan permanen terkait & berada pada bawah koordinasi bendahara pemerintah sentra. Amil (pengumpul zakat, semacam bendahara) Kuffah waktu itu, Abdullah bin Mas?Ud, dipanggil sebagai saksi dalam pengadilan atas insiden tadi. Abdullah bin Mas?Ud sendiri akhirnya jua dipecat akibat insiden tersebut.

Perlu diketahui, Abdullah bin Mas?Ud termasuk keluarga dekat & sesuku dengan Khalifah Utsman. Pengganti Sa?Ad bin Abu Waqqash merupakan Walid bin Uqbah, saudara sepersusuan atau dalam sumber lain saudara tiri khalifah Utsman. Tetapi lantaran Walid memiliki watak tidak baik (senang minum khamr dan berkelakuan kasar), maka khalifah Utsman memecatnya & menyerahkan pemilihan pimpinan baru kepada kehendak warga Kuffah.

Sebagaimana masalah pada Bashrah, gubernur pilihan warga Kuffah tersebut terbukti kurang cakap menjalankan pemerintahan & hanya bertahan selama beberapa bulan. Atas permintaan masyarakat, pemilihan gubernur kembali diserahkan pada khalifah. Utsman bin Affan lalu mengangkat Sa?Id bin ?Ash, kemenakan Khalid bin Walid & saudara sepupu Utsman, menjadi gubernur Kuffah, lantaran dipercaya cakap dan berprestasi pada penaklukan front utara, Azarbaijan. Namun terjadi perseteruan antara Sa?Id dengan rakyat setempat sehingga khalifah Utsman berfikir ulang terhadap penempatan sepupunya tersebut. Maka lalu Sa?Id digantikan kedudukannya sang Abu Musa Al-Asy?Ari, mantan gubernur Bashrah. Namun stabilitas Kuffah sukar dikembalikan misalnya semula sampai insiden tewasnya oleh khalifah. Meskipun demikian nepotisme dalam frame makna negative kembali sukar dibuktikan.

Sedangkan di Mesir, Utsman meminta laporan keuangan daerah kepada Amr bin Ash selaku gubernur dan Abdullah bin Sa?Ah bin Abu Sarah selaku ?Amil. Laporan Amil dievaluasi tak seimbang sedangkan Amr dipercaya telah gagal melakukan pemungutan Pajak. Padahal negara sedang membutuhkan pendanaan bagi pembangunan armada bahari guna menghadapi serangan Byzantium. Khalifah Utsman permanen menghendaki Amr bin Ash menjadi gubernur Mesir sekaligus diberi jabatan baru menjadi panglima perang. Tetapi Amr menolak perintah khalifah tersebut dengan kata-kata yg kurang berkenan di hati oleh khalifah (perkataan kasar).

Kemudian Amr bin Ash dipecat berdasarkan jabatannya. Sedangkan Abdullah bin Sa?Ah bin Abu Sarah diangkat menggantikannya sebagai gubernur. Tetapi kebijakan gubernur baru tadi pada bidang agraria kurang disukai warga sehingga menuai protes terhadap khalifah Utsman. Dari insiden inilah akhirnya muncul informasi nepotisme pada pemerintahan Utsman. Isu yang beredar berdasarkan Mesir ini dalam akhirnya menyebabkan khalifah terbunuh. Salah satu bukti penguat info nepotisme yg digulirkan adalah diangkatnya Marwan bin Hakam, sepupu sekaligus ipar Utsman, sebagai sekretaris Negara. Namun tuduhan ini pada dasarnya hanya sekedar luapan gejolak emosional dan alasan yg dicari-cari. Marwan bin Hakam sendiri merupakan tokoh yang memiliki integritas menjadi pejabat Negara pada samping dia sendiri merupakan ahli rapikan negara yg cukup disegani, bijaksana, ahli bacaan Al-Qur?An, periwayat hadis, & diakui kepiawaiannya dalam banyak hal dan berjasa menetapkan indera dosis.

Namun pada kenyataannya bukan misalnya apa yg telah dituduhkan pada Utsman, dengan aneka macam alasan yang bisa dicatat atau digaris bawahi bahwa Utsman nir melakukan nepotisme, di antaranya adalah:

1.) Para gubernur yang diangkat sang Utsman tidak semuanya keluarga (famili) Utsman. Ada yg saudara atau anak asuh, terdapat yang saudara susuan, terdapat jua saudara tiri.

Dua.) Ia mengangkat familinya tentunya atas pertimbangan berdasarkan beberapa faktor yg melatarbelakanginya.

Tiga.) Meskipun sebagian pejabat diangkat menurut kalangan keluarga, tetapi mereka semuanya punya reputasi yang tinggi & memiliki kemampuan. Hanya saja faktor ekonomi yang menyatukan untuk memprotes guna memperoleh hak mereka. Situasi ini dimanfaatkan oleh orang oportunis menyebarkan informasi menjadi kapital bahwa usman sudah menaruh jabatan-jabatan krusial & strategis kepada famili.

Melihat kabar-warta tadi pada atas, kentara bahwa nepotisme Utsman nir terbukti. Karena pengangkatan saudara-saudaranya itu berangkat berdasarkan profesionalisme kinerja mereka di lapangan. Akan namun memang pada masa akhir kepemimpinan Utsman para gubernur yg diangkat tersebut bertindak sewenang-wenang terutama dalam bidang ekonomi. Mereka pada luar kontrol Utsman yg memang telah berusia lanjut sehingga rakyat menduga hal tersebut menjadi kegagalan Utsman, hingga pada akhirnya Utsman meninggal terbunuh.

Detik-dtk Pembunuhan Khalifah Usman bin Affan

Detik-dtk terjadinya pemberontakan yg berakhir menggunakan terbunuhnya Khalifah Utsman dapat dilihat berdasarkan beberapa segi:

Pertama, rasa tidak puas terhadap Khalifah Utsman semakin menjalar. Di Kufah dan Bashrah rakyat bangkit menentang gubernur yang diangkat oleh Utsman. Di Mesir hasutan Abdullah bin Saba’ orang Yaman yang diklaim sebagai orang Yahudi sangat provokatif dengan mendakwahkan hak Ali sebagai khalifah yang sah. Keberhasilan propaganda jahat Abdullah bin Saba’ membuat jumlah kekuatan pemberontak bertambah banyak.

Pertentangan yg dilakukan penduduk kaum Kuffah, Mesir, & Bashrah terhadap kebijakan Utsman semakin memanas. Mereka meminta Utsman buat segera memecat para gubernur seperti Al-Wahid bin Uqbah. Akhirnya selesainya menerima desakan monoton Utsman pun segera mencopot jabatan mereka dan merubahnya menggunakan Sa?Id bin Ash sebagai gubernur Kuffah dan Muhammad bin Abu Bakar sebagai gubernur Mesir. Tindakan ini pun bisa meredakan ketegangan yang sempat terjadi sebelumnya. Tetapi, beberapa ketika kemudian insiden lain menghiasi ketegangan pada masa itu.

Para penentang Utsman berbondong-bondong pulang mendatangi Utsman dengan kemarahannya dikarenakan mereka mendapati sebuah surat rahasia yang ditujukan pada Gubernur Mesir pada mana isinya berupa perintah buat menangkap & membunuh para penentang Utsman. Surat berstempel Utsman bin Affan tersebut mengindikasi bahwa Utsman tidak sepenuhnya mendukung mereka dan Utsman pun nir mengakui bahwa beliau yang menulisnya.

Surat yg dituduhkan dari menurut Utsman ternyata diduga palsu. Begitu pula munculnya surat yang dituduhkan dari Ali bin Abi Thalib yang isinya mengajak grup-kelompok tersebut datang ke Madinah, juga surat Thalhah & Zubair yang mengajak gerombolan Kufah & Bashrah agar bergerak ke Madinah merupakan surat palsu. Namun lantaran situasi yg telah sangat memanas, mereka para demonstran makin berani bersikap pada Utsman, mengurungnya pada dalam rumah & mengepungnya. Sejumlah sahabat berusaha membelanya, seperti Hasan, Husein, Abdullah bin Zubair, & Abdullah bin Umar. Tetapi para pemberontak kian bertindak berani & menerobos masuk tempat tinggal sesudah selama 40 (empat puluh) hari mengepungnya. Kemudian beberapa mereka membunuh sang Khalifah Utsman bin Affan.

Kedua, persaingan dan permusuhan antara keluarga Hasyim dan keluarga Umayyah turut memperlemah kekuatan Utsman. Sebelum Nabi Muhammad lahir telah berlangsung persaingan kedua keturunan yang masih bersaudara ini. Pada masa pemerintahan Utsman benih kebencian ini tumbuh kembali.

Ketiga, lemahnya karakter kepemimpinan Utsman turut pula menyokongnya, khususnya dalam menghadapi gejolak pemberontakan. Bahwa Utsman adalah pribadi yang sederhana dan sikap lemah-lembut sangat tidak sesuai dalam urusan politik dan pemerintahan, lebih-lebih lagi dalam kondisi yang kritis. Pada kondisi yang demikian dibutuhkan sikap yang tegas untuk menegakkan stabilitas pemerintahan. Sikap seperti ini tidak dimiliki oleh Utsman. Pada beberapa kasus beliau terlalu mudah untuk memaafkan orang lain sekalipun musuhnya sendiri yang membahayakan. Sikap lemah-lembut ini mendorong pihak-pihak yang bermaksud jahat melancarkan maksudnya. Dengan sikap dan karakter Utsman yang seperti itulah akhirnya pada tanggal 17 Juni 656 M (35 H) Utsman dibunuh dengan cara ditikam oleh gerombolan pemberontak yang berjumlah sekitar 500 massa (di antaranya bernama Hamran bin Sudan Asy-Syaqy) yang tiba-tiba datang mengepung rumah Khalifah Utsman pada saat beliau sedang membaca Al-Qur’an.

Kematian Utsman dengan cara tersebut menyebabkan huru-hara pada kalangan kaum muslimin yg menyebabkan poly jatuh korban di kalangan pemuda muslim. Pembunuhan yang bermotif politik atas diri Khalifah Utsman membawa impak yang panjang terhadap sejarah Islam sesudahnya, yg kemudian membuka pintu perpecahan antara kaum muslimin.

Demonstrasi melawan pemerintah yg absah

Dampak dari Tragedi Pembunuhan Utsman

Gonjang-ganjing politik yg terjadi pada sejarah Islam adalah cerita tentang politik pada masa lalu sebagaimana yg telah dijelaskan di atas sekiranya jika pandangan tadi kita terima maka sejarah umat Islam merupakan sejarah perpecahan. Mungkin terasa relatif berlebihan apabila dikatakan demikian. Namun dalam kenyataannya, masalah politik adalah sumber perpecahan umat Islam yang terbesar, sehingga Al-Syahrastani (wafat th. 548 H) pada bukunya Al-Milal wa al-Nihal mengungkapkan bahwa perselisihan terbesar di antara umat adalah perselisihan tentang imamah (kepemimpinan), karena nir pernah pedang dihunus pada Islam menggunakan alasan agama sebagaimana (sesering) dihunus lantaran imamah pada setiap zaman.

Masalah kepemimpinan merupakan masalah politik, perkara memilih siapa yg akan memimpin umat. Walaupun sebenarnya perselisihan tentang imamah itu telah bermula semenjak Rasulullah saw. Wafat, terutama antara golongan Muhajirin dan golongan Anshar, tetapi akhirnya bisa diselesaikan dengan tenang, yaitu menggunakan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Sejak terbunuhnya Utsman bin Affan (tahun 35 H) sebagai akibatnya hari itu umat Islam tidak lagi memiliki pemimpin yg diakui oleh seluruh pihak. Setiap kelompok memiliki pemimpinnya tersendiri & nir mengakui pemimpin menurut kelompok lain.

Terbunuhnya Utsman itu sendiri sebenarnya ditimbulkan sang masalah politik pula. Kelompok pemberontak yang nir senang menggunakan para gubernur yang diangkat oleh Utsman dan kebijaksanaannya menuntut supaya khalifah ketiga itu meletakkan jabatan, namun Utsman enggan melakukannya. Keengganan Utsman melakukan tuntutan grup tersebut membuat mereka marah & akhirnya Utsman terbunuh di tempat tinggal ketika sedang membaca Al-Qur`an. Tragedi politik yg berujung terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan sesungguhnya menjadi titik tolak bagi perpecahan umat Islam.

Menurut Al-Baghdadi (wafat th. 429 H) dalam bukunya Al-Farq bayna al-Firaq mengatakan bahwa Mereka para sahabat berselisih setelah terbunuhnya khalifah Utsman dalam masalah orang-orang yang sudah membunuhnya dan orang-orang yang membiarkannya terbunuh, perselisihan yang tak pernah mati akan berbekas sampai hari kita kini ini. Suatu rangkaian dalam insiden politik yang berkaitan menggunakan pergantian kekuasaan (suksesi kepemimpinan) biasanya memang selalu diwarnai dengan intimidasi, kekerasan sampai menggunakan perlawanan & pemberontakan. Hal ini terjadi nir hanya di akhir masa kepemimpinan Utsman bin Affan akan tetapi jua dialami sang banyak pemimpin akbar pada dunia ini, termasuk pada Indonesia.

Sehingga bisa dipahami waktu perseteruan politik pada masa Utsman semakin meruncing maka terjadilah poly insiden kekerasan massa (chaos) yang terjadi pada antaranya adalah beberapa perang saudara yang tidak mampu dihindari. Perang pertama yang terjadi merupakan perang unta (Perang Jamal) tahun 36 H. Antara grup yang dipimpin oleh Aisyah istri Rasul saw., yang menuntut bela atas kematian Utsman, menggunakan grup Ali bin Abi Thalib yang diangkat sebagai khalifah setelah Utsman. Kelompok pemberontak setelah membunuh Utsman bergabung dengan Ali, itulah sebabnya gerombolan Aisyah & kelompok Muawiyah bin Abi Sufyan menuntut agar Ali menegakkan hukum terhadap mereka. Tetapi Ali tidak bisa melaksanakan tuntutan itu. Hal ini menyebabkan krisis politik yg berkepanjangan.

Problematika politik yang terjadi pada era pemerintahan Utsman ini merupakan puncak yg diklaim menggunakan al-Fitnah al-Kubra (bencana akbar) pada kalangan umat Islam. Umat Islam berpecah pada 3 grup: Pertama: kelompok Ali, kedua: gerombolan Muawiyah, & ketiga: grup moderat/netral yang nir memihak kepada galat satu dari 2 gerombolan tersebut. Dua kelompok pertama mempunyai pengikut yg poly, sedangkan grup moderat lantaran tidak ikut campur dalam perkara politik maka jumlahnya tidak diketahui, tetapi gerombolan ini adalah secara umum dikuasai umat, pada antara para sahabat yg bergabung pada pada kelompok moderat ini merupakan: Abdullah bin Umar, Sa'ad bin Malik, Sa'ad bin Abi Waqqas, Muhammad bin Maslamah, Usamah bin Zaid, dan lain-lain. Kemudian Pasca terjadinya perang Shiffin bertambah satu grup lagi yaitu grup Khawarij. Kelompok khawarij ini adalah gerombolan pendukung Ali yang membelot karena menolak keputusan Ali buat melakukan Arbitrase pada Muawiyah dalam waktu peristiwa perang Shiffin tersebut.

Kesimpulan

Gonjang-ganjing politik dalam masa pemerintahan Utsman bin Affan terjadi berawal berdasarkan suksesi kepemimpinan Umar bin Khattab yang menghasilkan ketetapan buat melantik Sayyidina Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga menggantikan Sayyidina Umar bin Khattab. Sebelum ditetapkannya Utsman menjadi khalifah, sesungguhnya terjadi ketegangan-ketegangan pada antara rivalitas pendukung Utsman & Ali yang kemudian terus bergulir sepanjang pemerintahan Utsman bin Affan. Situasi yg rawan ini kemudian dieksploitasi sang poly pihak, khususnya Abdullah bin Saba? Buat memprovokasi 2 kubu yang bersebrangan.

Suhu politik yg semakin memanas menyebabkan terjadinya demonstrasi akbar-besaran yang dilakukan sang para pendukung Ali dan terjadilah sebuah bencana yang dikenal menjadi peristiwa ?Fitnah al-Kubra? Yang ditandai dengan insiden kelam terbunuhnya sang khalifah ketiga yaitu Utsman bin Affan. Sepeninggal Utsman bin Affan ternyata menyisakan banyak insiden panjang yang memilki impak domino dalam perpecahan umat Islam.

REFERENSI

Abdullah, Amin, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.

Abu Zahrah, Al-Imam Muhammad, Tarikh al-Madzahib alIslamiyyah, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 1996.

Al-Imam Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim alSyahrastani, Al-Minal?, hlm. 136-137. Tregedi Pembunuhan Khalifah Usman Bin Affan 100 Fikrah, Vol. Tiga, No. 1, Juni 2015

Al-Baghdadi, Al-Imam Abdul Qadir bin Tahir bin Muhammad, al-Farq Bayn Al-Firaq, Beirut: Dar al-Marifah, 1997.

Al-Malghuts, Sami Binu Abdillah, Ahammul Ahdas at-Tarikhiyyah fi ?Ahdi al-Khulafa ar-Rasyidin. Riyadh: Maktabah Obekan, 1426 H.

Al-Syahrastani, Al-Imam Abu Al-Fath Muhammad bin Abd alKarim, Al-Milal Wa Al-Nihal. Jilid.1. Beirut: Dar AlKutub Al-Ilmiyyah. T.Th. Amin, Ahmad, Islam dari Masa ke Masa, Jakarta: PT. Remaja Rosdakarya, 1987.

Dasuki, A. Hafidz, dkk., Ensiklopedi Islam. Jilid III. Cetakan IV. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997.

Ibrahim, Hasan, Sejarah & Kebudayaan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2001.

Ibrahim, Qasim A. Dan Saleh, Muhammad A, Buku Pintar Sejarah Islam: Jejak Langkah Peradaban Islam berdasarkan Masa Nabi Hingga Masa Kini, Jakarta: Zaman. 2014.

Ja?Far, Abu, Tarikh at-Thabari, Jilid IV. Kairo: Dar al-Ma?Arif, 1973. Maryam, Siti, dkk., Sejarah Peradaban Islam berdasarkan Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: LESFI IAIN Sunan Kalijaga, 2003.

Murad, Musthafa, Kisah Kehidupan Usman Bin Affan, Jakarta: Zaman, 2007.

Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah analisa Perbandingan. . Jakarta: UI-Press, 2002.

Shiddiqi, Nourouzzaman, Menguak Sejarah Muslim, Yogyakarta: PLP2M,1984. Sou?Ayb, Joesoef, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Su?Ud, Abu, Islamologi: Ajaran & Peranannya pada Peradaban Umat Manusia, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003.

Yusuf, Muhammad, Hayah ash-Shahabah, Mesir: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.Th.

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Demonstrasi Berdarah Yang Menewaskan Khalifah Utsman"