Cara Mengendalikan Nafsu Menurut Imam Al-Ghazali

?Awal mula kecelakaan, penyesalan, kehinaan, dosa & penyakit yang hinggap pada insan semenjak awal dia diciptakan sampai hari kiamat adalah datang berdasarkan NAFSU.?

Kita kerap menisbatkan segala keburukan dalam setan, iblis dan agen eksternal lainnya. Padahal, kata Al-Ghazali, asal segala perbuatan jelek itu justru terdapat pada diri kita sendiri. Maksiat mula-mula yang dilakukan sang Iblis sendiri adalah nafsunya; takabur & hasud. Singkatnya, asal keburukan itu adalah agen internal, sesuatu yg terdapat pada pada diri kita sendiri.

Iblis pun beribadah. Kata Al-Ghazali, Iblis beribadah selama delapan puluh ribu tahun. Tapi nafsunya itulah yang lalu menyeret dia dalam jurang kesesatan. Nafsu juga yang kemudian membuat Nabi Adam dan Siti Hawa terperdaya. Contoh yg sama sanggup jua dijumpai dalam kisah Qabil & Habil dan Harut dan Marut (2 malaikat yang diberikan hawa nafsu sang Allah).

Hematnya, inilah penjelasan Al-Ghazali yg penting buat diinternalisasi. Bahwa nafsu tidak mungkin dihilangkan menurut diri manusia. Bahkan, nafsu itu sendiri merupakan motor penggerak. Maka hal yang paling mungkin bisa dilakukan merupakan mengendalikan nafsu dan menahan diri agar kita tidak dikuasainya.

Tentu saja itu bukanlah kasus gampang. Menahan diri buat tidak berlaku konsumtif saat terdapat banyak saldo tersedia tentu tidak gampang. Ibu-bunda (termasuk sebagian akbar bapak-bapak) yg kebetulan nir mampu keluar rumah, bukan berarti pasif berbelanja. Tinggal klik ?Oke? Beberapa mnt kemudian barang hingga di rumah. Praktis & sederhana.

Kalaulah nafsu itu diumpamakan hewan buas atau kuda binal yang liar, maka terdapat 3 cara mengendalikannya istilah Al-Ghazali:

Pertama, mengekang atau mencegah asa (man?Us syahwat). Kuda yang binal akan tidak berdaya jika dikurangi makannya. Ini tentu saja hanya perumpamaan. Pointnya pada pengendalian diri. Lagi-lagi ini masalah yg bersifat internal. Manusia kerap memprioritaskan keinginan meski sesungguhnya itu bukanlah kebutuhannya. Inilah sesungguhnya cikal bakal kerusakan yang terjadi pada diri manusia. Nafsu, karenanya, wajib terlebih dahulu dikendalikan dengan cara mengekang asa.

Kedua, dibebani menggunakan ibadah, lantaran keledai yang dibebani poly & dikurangi makannya, akan tunduk dan berdasarkan. Sekali lagi ini jua tamsil atau perumpamaan. Makna kontekstualnya kira-kira begini; kita perlu mentarget diri menggunakan sesuatu yg berguna, buat kita sendiri maupun orang lain (yg kedua tentu lebih baik). Seorang dosen perlu membuat target contohnya pada satu minggu wajib membuat 5-10 paper. Pembebanan misalnya inilah yg dimaksud Al-Ghazali. Mengendalikan nafsu galat satunya bisa dengan cara membebani diri menggunakan target-target eksklusif. Sehingga, tidak ada lagi saat yg terbuang sia-sia. Tidak lagi tersisa ruang bagi nafsu buat menyelinap & melambungkan hasrat-cita-cita yang tidak perlu.

Ketiga, meminta petunjuk pada Tuhan. Memaknai hal ini sebagai bentuk kerendah-hatian manusia. Setelah berikhtiar kemudian tawakkal. Tuhan punya kuasa pada insan.

Wallahu A?Lam

Sumber: nujateng.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Cara Mengendalikan Nafsu Menurut Imam Al-Ghazali"