Kisah Syaikhona Kholil Berguru Kepada Syaikh Nawawi Al-Bantani

Singkat cerita, Kholil kecil sekarang sudah dewasa, dia sangat tekun dalam mencari ilmu di beberapa pondok pesantren. Beliau telah lupa dengan insiden luar biasa yg dia alami waktu pada Pasuruan dulu. Berkat ketekunan pada hal mencari ilmu, beliau akhirnya sebagai sosok pemuda yang disegani lantaran kealimannya. Beliau bahagia sekali mengikuti bahtsul masa?Il yang diadakan dimanapun, apalagi bila ngobrol mengenai buku-kitab atau hukum-hukum syar'i niscaya beliau sangat betah sekali. Beliau sudah merasakan manisnya rasa beribadah & menuntut ilmu.

Meskipun beliau telah nyantri ke beberapa kiai alim dalam saat yg tidak sebentar, sampai ukuran ilmu yang dia peroleh sebenarnya sudah sangat mencukupi buat diajarkan, tetapi beliau ibarat orang yang selalu haus akan tetesan air yang segar waktu berada di tengah padang pasir. Begitu pula pada dalam masalah belajar & tabarruk (mengharap berkah), beliau masih merasa haus akan dua hal itu.

Hingga suatu waktu, dia mendengar tentang seseorang ulama besar yg sangat alim di daerah Banten yg bernama Kiai Nawawi (Syaikh Nawawi Al-Bantani). Sebenarnya Kiai Nawawi nir berada di Banten, loka kelahirannya, tetapi beliau sudah menetap dan berdakwah pada kota Makkah Al-Mukarromah. Kealiman & kezuhudan Kiai Nawawi telah terdengar pada semua penjuru Indonesia, sampai saking seringnya Kiai Kholil mendengar mengenai Kiai Nawawi, maka niat dan tekad dia buat berguru dalam Kiai Nawawi tidak sanggup dibendung lagi. Beliau dengan sabar menunggu kedatangan Kiai Nawawi pulang ke Banten. Memang umumnya Kiai Nawawi jua pulang ke Banten, entah itu dua tahun sekali atau lebih, meski cuma sebentar.

Kiai Nawawi sendiri merupakan keliru satu kekasih Allah yang pada kehidupan beliau selalu dipenuhi dengan kemuliaan dan karomah. Terbukti saat dia masih berada di kota Makkah, beliau memahami dengan apa yg diinginkan oleh Kiai Kholil yang terdapat pada Madura pada saat itu. Segera beliau berangkat pergi ke Banten dengan ketika bepergian yang tidak misalnya umumnya, seperti yang dilakukan sang Syaikh Abul Qais Al-Haroni, seorang wali menurut Turki yg tiap habis berjamaah Subuh di Turki kemudian mengajar pada Madinah Al-Munawwaroh, dan pulang lagi ke Turki sebelum surya terbit.

Jika Allah yg berkehendak dalam Kiai Nawawi misalnya halnya pada Syaikh Al-Haroni tersebut, maka nir perlu ketika lama buat menempuh perjalanan berdasarkan Makkah ke Banten. Sesampainya Kiai Nawawi pada Banten, poly yang gembira atas kepulangan dia, poly yang sowan. Berita kepulangan dia pun segera menyebar ke semua tanah Jawa & Madura.

Begitu senangnya hati Kiai Kholil mendengar hal itu. Segera beliau bersiap-siap menempuh bepergian ke Banten. Ketika Kiai Nawawi mengetahui bahwa Kiai Kholil akan berkunjung ke Banten, dia hanya tersenyum dan segera dia bersiap-siap pulang ke Makkah supaya Kiai Kholil tidak bisa menemuinya. Beliau berpesan dalam galat satu keluarganya:

"Jika terdapat pemuda yg bernama Kholil tiba, bilang saja saya sudah kembali ke Makkah, & tolong hal ini jangan kamu ceritakan pada siapapun jua, lantaran ini adalah urusan saya menggunakan kiai muda itu (Kiai Kholil)".

Ternyata Kiai Nawawi memang sahih-benar pulang ke Makkah. Akhirnya sampailah Kiai Kholil belia itu di tempat tinggal Kiai Nawawi. Begitu kecewanya dia lantaran tidak mampu bertemu dengan Kiai Nawawi yg sangat beliau harapkan barokah dan nasihatnya. Beliau sangat ingin belajar pada Kiai Nawawi meski cuma sebentar. Rasa capek nir beliau nikmati, tekadnya buat belajar ke Kiai Nawawi tidak surut malah semakin sebagai-jadi. Akhirnya Kiai Kholil pun berencana menyusul Kiai Nawawi ke Makkah.

Adapun Kiai Nawawi yang telah berada pada Makkah, saat tahu bahwa Kiai Kholil belia akan menyusul dirinya ke Makkah, beliau mengajar seperti umumnya pada galat satu daerah di Makkah sambil menunggu kedatangan Kiai Kholil muda itu. Akhirnya datang saatnya Kiai Kholil berangkat ke Makkah menggunakan membawa bekal secukupnya yg mampu beliau bawa. Meskipun sangat lama bepergian menuju Makkah, namun seluruh itu terkalahkan oleh tekad dan niat dia buat belajar ke Kiai Nawawi. Itulah citra sosok Kiai Kholil yg tidak pernah merasa relatif & puas menggunakan ilmu kepercayaan yang telah didapat pada beberapa pesantren, dia masih permanen ingin belajar & belajar terus.

Tibalah Kiai Kholil muda pada Tanah Suci, terlebih dulu dia tiba ke Masjidil Haram, yang pada dalamnya terdapat Ka'bah yang mulia. Belum jelas sejarah mencatat apakah saat dia tiba ke Makkah buat mencari Kiai Nawawi itu adalah yang pertama kali atau yang kedua kali. Kemudian beliau pun mencari loka pada mana umumnya Kiai Nawawi mengajar. Dalam saat yg tidak seberapa lama , akhirnya ketemulah tempat Kiai Nawawi itu. Tetapi apa yang terjadi?.

Ketika ditanyakan. Memang benar rumah itu merupakan loka Kiai Nawawi tinggal & mengajar, tetapi telah dua hari yang kemudian dia berangkat pergi ke Indonesia (Banten). Pasti mampu kita rasakan bagaimana perasaan dia waktu itu.

Meskipun nir bertemu dengan Kiai Nawawi, Kiai Kholil muda nir pribadi pulang lantaran beliau harus melaksanakan ibadah haji dulu. Musim haji pun telah usai, & Kiai Kholil belia bergerak pergi ke negerinya lagi. Namun buat kepulangan beliau yang ini, Allah SWT menaruh satu karomah kepada beliau, yaitu entah bagaimana kisahnya, yg kentara bepergian dia menuju ke Indonesia berlangsung sangat singkat dan cepat. Kita niscaya mengerti akan hal itu, bila Allah berkehendak maka tidak terdapat yang mustahil buat terjadi, walaupun semuanya ada pada luar jangkauan akal kita.

Kiai Kholil belia akhirnya sampai pada Indonesia. Singkat cerita, selesainya beliau terselesaikan mendapat tamu-tamu yang menyambut kedatangan dia menurut tanah kudus, maka niat buat menemui Kiai Nawawi dia teruskan lagi. Berangkatlah dia menuju ke Banten buat yang ke 2 kalinya. Susah payah dalam perjalanan itu tidak dia hiraukan. Akhirnya, sampailah Kiai Kholil muda di tempat tinggal Kiai Nawawi.

Ada yg tidak sinkron kali ini, yaitu Kiai Nawawi sengaja menunggu kedatangan Kiai Kholil muda & akan menemuinya. Tidak misalnya sebelumnya, pada mana dia selalu menghindar supaya Kiai Kholil muda tak bisa menemui dirinya. Pastilah itu semua terdapat tujuan dan maksud tertentu, & Allah-lah yg mengatur seluruh bepergian para kekasih-Nya.

Pertemuan pun akhirnya terjadi. Bahagia sekali hati Kiai Kholil muda mampu berhadapan pribadi dengan Kiai Nawawi dalam waktu itu. Kiai Kholil belia sungkem di hadapan beliau. Kemudian saling ngobrol pun berlangsung:

"Anda menurut mana Gus?", tanya Kiai Nawawi.

"Saya dari Madura, Yaidanquot;, jawab Kiai Kholil belia.

"Kira-kira ada keperluan apa ya Gus?" tanya Kiai Nawawi

Kiai Kholil belia pun menyebutkan tujuan dia yg ingin menimba ilmu pada dia dengan bahasa yang sangat santun yang mencerminkan bahwa Kiai Kholil belia nantinya adalah bukan orang sembarangan. Kiai Nawawi pun mengerti akan maksud Kiai Kholil itu.

"Lho, kenapa Anda datang jauh-jauh ke sini buat menimba ilmu pada saya?. Bukankah di dekat wilayah Anda terdapat seorang yg sangat alim, sangat zuhud & sangat wara'nya?. Kenapa Anda tidak menimba ilmu pada beliau saja?", istilah Kiai Nawawi.

"Ngapunten (maaf) Yai.. Siapakah orang yang Yai maksud tadi?", tanya Kiai Kholil belia bertanya-tanya.

"Lho itu, Kiai yg ada di Pasuruan itu. Bukankah saat Anda masih kecil dulu telah pernah ke sana?. Dan bukankah Kiai itu dulu pernah bilang pada Anda agar Anda datang ke sana lagi jika telah akbar?", jelas Kiai Nawawi.

Jawaban Kiai Nawawi itu menciptakan dia membuka pulang kenangan masa kecil dulu. Beliau teringat ketika diajak ayahandanya bersilaturrahmi ke tempat seorang Kiai yang bernama Sayyid Abu Dzarrin. Tetapi pada hati Kiai Kholil muda masih ragu, apakah Kiai Abu Dzarrin itu yang dimaksud oleh Kiai Nawawi?.

"Nah, sudah jangan lupa kan?, iya benar , nama beliau Kiai Abu Dzarrin. Anda sudah usang ditunggu oleh dia. Segeralah ke Pasuruan dekat desa Karangsono itu!", kata Kiai Nawawi sebelum Kiai Kholil belia menanyakan siapa Kiai yg beliau maksudkan itu.

Kiai Kholil muda menyesal kenapa beliau hingga lupa menggunakan insiden yg beliau alami beserta Kiai Abu Dzarrin dulu?. Bukankah Kiai itu memang sudah berpesan agar beliau menemuinya lagi pada ketika dirinya sudah dewasa?. Dan dia juga semakin konfiden bahwa Kiai Nawawi adalah sahih-sahih seseorang kekasih Allah. Dari mana beliau tahu sedetail itu mengenai peristiwa yang dia alami dulu bersama Kyai Abu Dzarrin?.

Foto Asli Syaikhona Kholil Bangkalan

Akhirnya, Kiai Kholil belia pun menuruti anjuran Kiai Nawawi supaya pulang ke Jawa Timur & menemui Kiai Abu Dzarrin pada Pasuruan. Ada hal yang menarik pada kisah ini. Sebenarnya Sayyid Abu Dzarrin telah tewas global 3 tahun yg lalu. Kiai Nawawi pun sudah memahami akan hal itu, namun Kiai Kholil muda belum mengetahuinya, & rupanya Kiai Nawawi sengaja nir memberi tahu beliau tentang hal itu. Dengan tekad yg sangat bertenaga, akhirnya dia menuju ke Pasuruan ke tempat Kiai Abu Dzarrin.

Nah, sekarang timbul pertanyaan, logika apa yg akan kita pakai, apabila terdapat seorang yang masih hidup, akan menemui bahkan belajar pada orang yang konkret-konkret telah mangkat global 3 tahun yg lalu?. Sekali lagi jawabannya merupakan, Allah-lah yg mengatur dan menghendaki seluruh itu, dan nir terdapat sesuatu pun yg sulit bagi-Nya.

Setelah hingga pada Pasuruan, dia pun menanyakan tempat Kiai Abu Dzarrin. Sudah usang sekali dia tidak kembali ke tempat itu sehingga sekarang dia lupa tempatnya. Sedangkan tiap orang yg beliau tanya dimana loka Kiai Abu Dzarrin, mereka menyangka bahwa yg beliau tanyakan adalah loka kubur (makam) dia. Mereka pun menerangkan tempat kubur Kiai Abu Dzarrin itu, tetapi bagi Kiai Kholil belia yg mereka tunjukkan adalah rumah Kyai Abu Dzarrin, bukan kuburnya.

Setelah beliau hingga di tempat Kiai Abu Dzarrin, subhanallah.. Benar-benar Kiai Kholil ditemui oleh beliau, seakan-akan Kiai Abu Dzarrin itu sahih-benar masih hayati. Tidak jelas seperti apa proses belajar Kiai Kholil belia di loka Kiai Abu Dzarrin waktu itu, yang jelas hingga kini pada makam Kiai Abu Dzarrin terdapat sebuah goresan pena pada dinding yg menceritakan tentang pertemuan & belajarnya Kiai Kholil muda bersama Kiai Abu Dzarrin At-Tuqo (Kiai Tugu), dan insiden itu telah menjadi sebuah kisah yang selalu disampaikan disaat program haul akbar Sayyid Abu Dzarrin pada Pasuruan yang biasanya diselenggarakan pada tanggal 16 Syawal tiap tahunnya. Bahkan hingga sekarang menurut pihak anak cucu Kiai Kholil selalu mengirimi beras ke Pasuruan buat acara haul tadi.

Wallahu A?Lam

Sumber: dutaislam.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Syaikhona Kholil Berguru Kepada Syaikh Nawawi Al-Bantani"