Kisah Kiai Pencipta Shalawat Badar Didatangi Ahli Badar

Hampir seluruh warga NU dan warga Indonesia mengenal Shalawat Badar. Syair ini diawali menggunakan kata Shalatullah salamullah ala thaha rasulillah. Shalatullah salamullah ala yasin habibillah. Shalawat ini terdiri berdasarkan 24 bait menggunakan dua baris pada setiap baitnya.

Namun siapa sebenarnya pengarang Shalawat Badar yg saat ini telah menjadi Mars NU?

Shalawat Badar dikarang oleh KH.M. Ali Manshur kurang lebih tahun 1960-an. Kiai Ali Manshur mempunyai garis keturunan berdarah ulama besar . Dari ayah, tersambung hingga Kiai Shiddiq Jember sedangkan menurut jalur mak , tersambung menggunakan Kiai Basyar, seseorang ulama di Tuban.

"Abah dilahirkan pada Jember dalam 23 Maret 1921. Nasabnya masih menyambung ke Kiai Shidiq Jember. Kalau menurut jalur mak orisinil orang Tuban," kata putra ke 2 Kiai Ali yg bernama Kiai Syakir Ali

Shalawat Badar dewasa ini sudah menjadi syair harus bagi nahdliyin. Hampir setiap aktivitas NU, shalawat ini dilantunkan. Bahkan telah merambah ke aliran musik pop yg dipopulerkan sang beberapa kelompok band dan penyanyi religi. Tak hanya di Indonesia, Shalawat Badar jua dikenal di aneka macam belahan negara Islam pada dunia.

Kiai Ali terkenal haus ilmu. Beliau belajar berdasarkan satu pesantren ke pesantren lain. Mulai dari Pesantren Termas Pacitan, Pesantren Lasem Rembang, Pesantren Lirboyo Kediri sampai Pesantren Tebuireng Jombang.

Kiai Syakir mengisahkan, ketika kecil Kiai Ali belajar di Tuban. Setelah itu Kiai Ali ingin belajar ke Termas namun beliau hanya punya modal sepeda onthel & nasi jagung. Akhirnya menurut Tuban ke Tremas, beliau naik onthel dan bekal nasi jagung. Selama di pesantren Kiai Ali mendapat jasa ojek ke pasar & hasilnya buat membeli kitab .

"Kiai Ali suka ilmu Arrudh (Ilmu Sya'ir), dan belajar ilmu ini di Lirboyo. Beliau sering diajak diskusi  oleh pengasuh pesantren tentang masalah Arrudh. Menurut Gus Dur, Kiai Ali juga pernah belajar di Tebuireng," ujarnya.

Seusai nyantri, Kiai Ali kembali ke Tuban & aktif berorganisasi pada Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Beliau jua aktif sebagai seorang pegawai pada bawah Kementerian Agama. Tepatnya, sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan sampai kenaikan pangkat sebagai Kepala Kementerian Agama (Kemenag) di tingkat kabupaten.

Pada tahun 1955, Kiai Ali terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Partai NU Cabang Bali. Pada tahun 1962, dia menetapkan pindah ke Banyuwangi dan dipercaya sebagai Ketua Cabang NU Banyuwangi. Selama di Banyuwangi inilah, Kiai Ali melahirkan karya fenomenal Shalawat Badar.

Ada kisah yang sangat menyita perhatian sesaat sebelum Kiai Ali menulis Shalawat Badar. Kiai Ali bermimpi didatangi orang berjubah putih yang diduga para pakar perang badar.

Dalam keputusan Muktamar ke-28 NU di Krapyak, Yogyakarta, Shalawat Badar  dikukuhkan menjadi Mars Nahdlatul Ulama (NU). Keputusan ini ditegaskan kembali oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat menjabat ketua PBNU pada Muktamar ke-30 di Lirboyo Kediri. Pada Harlah ke-91 NU, Kiai Ali juga dianugerahi tanda jasa Bintang Kebudayaan atas karyanya ini.

"Awalnya banyak yang tidak tahu siapa penulis Shalawat Badar  sebelum Gus Dur menyebutkan Kiai Ali sebagai pengarangnya. Saat itu Gus Dur takut Shalawat Badar  diakui orang luar. Gus Dur minta saya bawakan data penguat bila Kiai Ali memang penulis Shalawat Badar  ke Jakarta," papar Kiai Syakir

Pasca dibahas sang Gus Dur, nama Kiai Ali terus jadi bahan pembicaraan pada kalangan para ahli sejarah & budayawan, terutama dari kalangan Nahdliyin. Sehingga akhirnya banyak para peziarah dari banyak sekali wilayah tiba ke Desa Maibit buat ziarah dan pertanda kebenaran ucapan Gus Dur.

Saat ini di makam Kiai Ali tertulis prasasti Shalawat Badar  yang terletak di bagian barat makam. Setiap hari selalu ada yang berziarah ke makam, terutama para santri yang belajar di pesantren milik putra-putrinya di sekitar pesantren.

"Saya hanya mengungkapkan sesuai yang dituliskan Abah saja. Saya fotokopikan catatan abah & tidak kasih kepada yang minta," ungkap Kiai Syakir.

Sosok Kiai Ali Manshur memang unik, makamnya berada pada Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Dulu tak banyak yang tahu jikalau Kiai Ali dimakamkan pada Desa Maibit. Bahkan beberapa masyarakat desa setempat tak mengenal sepak terjang Kiai Ali. Makam Kiai Ali baru beberapa tahun terakhir direnovasi dan tak jarang dikunjungi khalayak ramai.

Menurut Kiai Syakir, hal ini bukan disengaja melainkan memang tak banyak orang mencari tahu. Barulah setelah Gus Dur bicara tentang Shalawat Badar  banyak orang yang mencari dan menelisik sejarah Kiai Ali. Ia bersyukur Kiai Ali suka menulis dan punya catatan pribadi setiap melakukan sesuatu. Sehingga tak bingung menjelaskan kepada penanya.

"Abah itu punya kitab harian & suka menulis kegiatannya di buku harian, kertas kosong dan pinggir kitab . Sampai kini saya masih punya catatan pribadi Kiai Ali dalam tulisan Pegon dan Latin," akunya

Diantara catatan dalam tulisan pegon yang ditemukan misalnya:

?Naliko kulo gawe lagune Shalawat Badar, yoiku sak ba'dane teko songko Makkah al-Mukarramah, kang tidak anyari ketika lailatul qiro'ah kelawan ngundang almarhum Haji Ahmad Qusyairi sak muride. Yoiku ono malem jum'at tahun 1960, tonggoku podo ngimpi weruh ono bongso sayyid utowo habib podho melebu ono omahku. Wa karimati, Khotimah, ugo ngimpi ketho' kanjeng Nabi Muhammad iku rangkul-rangkulan karo al-faqir. Kiro-kiro dino jum'at ba'da shubuh, tonggo-tonggo podho ndodok lawang pawon, podho takon: 'Wonten tamu sinten mawon kolo ndalu?'. Lajeng kulo tanglet Habib Hadi al-Haddar, dan dijawab: 'Haa ulaai arwaahu ahlil badri rodhi-yalloohu 'anhum'. Alhamdulillahi Robbil 'aalamiin".

Terjemahnya

?Sewaktu saya membuat syair Shalawat Badar, yaitu sepulang menurut Mekah al-Mukarromah, baru pertama kalinya saya populerkan waktu lailatul qira?Ah dengan mengundang almarhum Haji Ahmad Qusyairi bersama santri-santrinya. Tepatnya pada malam Jum?At tahun 1960. Tetangga aku poly yg bermimpi melihat para sayyid atau habib masuk ke tempat tinggal saya. Budhe Karimati dan Budhe Khotimah pula bermimpi melihat Nabi Muhammad saw. Berangkul-rangkulan menggunakan al-faqir. Kira-kira hari Jum?At ba?Da Subuh, para tetangga mengetuk pintu dapur, lalu bertanya: ?Ada tamu siapa saja tadi malam??. Kemudian saya bertanya pada Habib Hadi al-Haddar, & dijawab: ?Mereka merupakan ruh-ruh ahli Badar?. Alhamdulillah Rabbil ?Alamin.?

Gerbang Makam Ahli Perang Badar

"Shalawat Badar  meledak dan dipopulerkan ke berbagai wilayah untuk menandingi lagu hymne PKI 'Genjer-genjer'. Bila melihat isi shalawatnya maka tak bisa lepas dari kondisi zaman saat itu. Banyak rakyat yang susah mencari makan karena perang sesama anak bangsa," bebernya.

Selain itu, sebelum wafat, Kiai Ali juga mengarang sebuah buku akhlak & mengumpulkan syair-syair latif. Jariyah lain yang ditinggalkan Kiai Ali yaitu madrasah di samping rumahnya. Hingga kini , madrasah tadi sudah berkembang hingga taraf aliyah.

"Membangun madrasah ini juga unik, waktu itu Kiai Ali minta pemborong merampungkan bangunan madrasah dengan bayaran Rp. 50 ribu," tambah Kiai Syakir

Ciri khas Kiai Ali menurut penuturan Kiai Syakir yaitu tegas, semangat mencari ilmu dan mengabdi dalam NU. Kiai Ali sering menolak donasi menurut pemerintah dan bahkan gajinya sporadis diambil. Salah satu ketegasan Kiai Ali yaitu setiap hari Jum?At pukul 10.00 WIB, kantor tempat bekerjanya harus ditutup & siap-siap ke masjid.

"Abah ini punya kemampuan komunikasi yang mengagumkan. Sehingga ketika jadi wakil NU beliau disukai berdasarkan pihak pro dan kontra. Hidupnya sederhana dan tidak poly gaya. Hidup di tempat tinggal sederhana bekas temannya pun mau. Itulah Abah," tandas Kiai Syakir.

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Kiai Pencipta Shalawat Badar Didatangi Ahli Badar"