Kisah Kakeknya Habib Luthfi Belajar Pada Kiai Sholeh Darat

Kakek Habib Luthfi bin Ali bin Yahya bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan putra dari Habib Umar bin Hasan bin Toha bin Yahya. Sebelum lahir, Habib Umar (kakek buyut Habib Luthfi yg dimakamkan pada Indramayu) pernah berencana memberi nama calon putranya dengan nama Abdullah. Tetapi, oleh Habib Hasan (kakek canggah Habib Luthfi, dimakamkan di Penang, Malaysia), calon cucunya diminta bernama Hasyim.

Mengapa lebih memilih nama Hasyim daripada Abdullah, nir ada keterangan lebih lanjut. Yang niscaya, Hasyim adalah nama populer yang sangat berpengaruh pada Jawa ketika itu. Buktinya, Habib Hasyim bin Yahya memang hayati sezaman menggunakan pendiri NU, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy?Ari. Sama-sama Hasyim, sama-sama dzurriyah Nabi, dan sama-sama berpengaruh. Barangkali, inilah pesan tersirat dibalik pemilihan nama Hasyim daripada Abdullah.

Di usia 6 tahun, kakek Habib Luthfi tersebut pernah diambil sang Nabi Khidir berdasarkan abahnya, Habib Umar bin Yahya, selama 9 tahun, buat dididik dan dibersihkan hatinya. Beliau kembali saat usia 15 tahun dan melanjutkan belajar (mondok) di Yaman.

Usai dari Yaman, Habib Hasyim lalu diperintah abahnya nyantri kepada KH. Sholeh Darat pada Kampung Darat Semarang. Syaratnya, ia tidak boleh mengenalkan diri menjadi putra Habib Umar bin Yahya (pengajar KH. Sholeh Darat), & tidak boleh menggunakan fam sadat ?Bin Yahya? Di belakangnya.

Saat mendaftar sebagai santri KH. Sholeh Darat pun, Habib Umar nir mengantarkan pribadi putranya itu. Akibatnya, Kiai Sholeh Darat tidak mengetahui siapa sebetulnya santri barunya itu.

Habib Hasyim remaja kemudian diperlakukan misalnya santri biasa, yang tidur pada lantai, mengolah, ngaji, ro?An, beserta-sama santri lainnya. Kiai Sholeh Darat juga biasa memerintah Habib Hasyim buat keperluan pondok & ndalem, misalnya santri lainnya jua.

Suatu kali, Kiai Sholeh Darat mendengar ada seseorang habib muda pada Pekalongan, yang dikabarkan memiliki kealiman dan karomah bernama Hasyim.

Dari Semarang, Kiai Sholeh Darat naik kereta hingga ke stasiun Pekalongan. Oleh Habib Hasyim, Kiai Sholeh Darat dijemput dengan andong kuda yang disopiri muridnya tadi, yg pula dimohon mampir ke rumahnya terlebih dulu. ?Mampir ke tempat tinggal saya kiai,? Demikian pinta Habib Hasyim pada gurunya.

Tamu di rumah Habib Hasyim ternyata sesak dipenuhi para tamu yg memanggilnya menggunakan sebutan ?Ndoro?. Kiai Sholeh Darat pun baru mengetahui kalau rumah tersebut dikenalnya sebagai ndalem pengajar dia, Habib Umar bin Hasan bin Toha bin Yahya. Betapa kagetnya beliau.

?Hasyim, engkau putranya Ndoro Umar kah?? Tanya Kiai Sholeh Darat

?Betul, kiai,? Jawab Habib Hasyim.

?Mengapa berdasarkan dulu engkau tidak memberitahuku?? Kata Kiai Sholeh Darat

?Kalau aku beri tahu, kiai pasti akan membelikan kasur,? Jawabnya.

Sejak itulah KH. Sholeh Darat mengetahui jika muridnya adalah putra sang pengajar.

Demi menjaga keikhlasan sebagai siswa ngaji, Habib Hasyim diminta sang abahnya agar nir menggunakan nama fam sadat pada belakangnya.

Keterangan:

Kisah ini dituturkan sang Habib Luthfi bin Yahya, didengar pribadi oleh penulis dari anak didik khalifah thariqah dia di Jepara, KH. Masduki Ridlwan di rumahnya Sowan, Kedung, Jepara pada Sabtu Malam Ahad Pahing (2 Maret 2019) usai Isya'. Saksi penuturan kisah ini merupakan bunda penulis & salah satu Pengurus Pusat MATAN, Syukron Makmun (Bugel).

Sumber: badriologi.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Kakeknya Habib Luthfi Belajar Pada Kiai Sholeh Darat"