Enam Kondisi Yang Diperbolehkan Menggunjing

Pada dasarnya, ghibah merupakan perbuatan tercela yg dilarang oleh Islam. Tetapi dalam suatu kondisi, kita boleh menempuh jalan tadi karena kepentingan-kepentingan tertentu yg hendak dituju. Imam An-Nawawi mengungkapkan enam syarat di mana seseorang Muslim boleh mengghibahkan orang lain:

?Ketahuilah, ghibah -sekalipun diharamkan- dibolehkan dalam beberapa kondisi eksklusif buat suatu kemaslahatan. Hal yang membolehkan ghibah adalah sebuah tujuan yg dibenarkan berdasarkan syariat pada mana tujuan nir tercapai tanpa ghibah tersebut. Hal itu adalah satu berdasarkan enam karena,? (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, hal. 292).

Secara lebih rinci Imam An-Nawawi menjelaskan enam syarat itu menjadi berikut:

Pertama, dalam sidang perkara di muka hakim. Seseorang boleh menceritakan penganiaya yang memperlakukannya secara zalim.

Kedua, dalam melaporkan pelanggaran hukum kepada aparat kepolisian atau otoritas terkait dengan niat mengubah kemungkaran tersebut.

Ketiga, dalam meminta fatwa kepada seorang mufti. Seseorang boleh menceritakan masalahnya untuk memberikan gambaran yang jelas bagi ulama yang mengeluarkan fatwa. Tetapi kalau penyebutan nama secara personal tidak dibutuhkan, lebih baik tidak mengambil jalan ghibah.

Keempat, dalam mengingatkan publik agar terhindar dari kejahatan pihak baik personal maupun institusi. Hal ini dilakukan antara lain oleh para ahli hadits terhadap perawi-perawi bermasalah atau misalnya dalam konteks kekinian adalah travel umrah bermasalah.

Kelima, dalam kondisi di mana pihak-pihak tertentu melakukan kejahatan terang-terangan seperti meminum khamar, mengambil harta secara zalim, menarik upeti, mengambil kebijakan-kebijakan batil. Dalam kondisi ini, kita boleh mengghibah pihak tersebut sesuai dengan kejahatan yang diperlihatkannya. Tetapi kita haram menyebutkan aib lain pihak tersebut yang tidak dilakukan secara terang-terangan.

Keenam, menandai seseorang dengan kekurangan fisik atau gelar-gelar buruknya. Misalnya Abdullah. Orang bernama Abdullah tidak satu. Tetapi kita boleh menyebutnya tanpa maksud merendahkan, “Abdullah yang buta, Abdullah yang tuli, Abdullah yang bisu, dan lain sebagainya.” Baiknya sebutan itu didahului kata “maaf” untuk menghilangkan kesan merendahkan.

Imam Nawawi mengajak kita mempertimbangkan karena keenam kondisi tadi. Sebab keenam ini mampu dipakai menggunakan niat identifikasi, bukan maksud merendahkannya. Imam Nawawi menyarankan kita untuk menggunakan identifikasi lain bagi seorang di luar identifikasi fisik.

Enam syarat ini bukan mengada-terdapat. Enam syarat ini disarikan berdasarkan banyak sekali hadits shahih diantaranya riwayat yg dikemukakan teman Ibnu Mas?Ud ra. Menjadi berikut:

“Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas‘ud ra. Ia bercerita bahwa Rasulullah saw. membagikan ghanimah suatu peperangan. Ada salah seorang Anshar kecewa, ‘Demi Allah, Muhammad dengan ini sedang tidak mengharapkan ridha Allah.’ Aku -kata  Ibnu Mas‘ud- menemui Rasulullah saw. lalu menceritakan kekecewaan tersebut. Seketika warna wajah Rasulullah saw. berubah karena marah lalu berkata, ‘Semoga Allah memberikan rahmat-Nya untuk Musa yang disakiti umatnya lebih dari ini, lalu ia bersabar.’ Pada sebagian riwayat, Ibnu Mas‘ud ra. berkata, ‘Setelah itu aku tidak membawa cerita kekecewaan seorangpun kepada Rasulullah saw.’ Menurut kami, Imam Bukhari berhujah dengan hadits ini perihal kebolehan seseorang yang menceritakan ucapan orang lain,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, hal. 293).

Hadits lain yang berkaitan dengan kondisi fatwa atau meminta fatwa atau pertimbangan jodoh merupakan hadits riwayat Hindun & Fathimah binti Qais berikut ini:

?Dalam buku Shahih diriwayatkan hadits Hindun, istri Abu Sufyan dan keluhannya pada Rasulullah saw., ?Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan adalah suami yang bakhil...? Dan hadits Fathimah binti Qais yang meminta pertimbangan dua lelaki yg meminangnya, kemudian Rasulullah saw. Mengatakan kepadanya, ?Muawiyah bin Abu Sufyan lelaki miskin. Sedangkan Abu Jahm tak pernah lepas tongkat dari bahunya (suka memukul istri),?? (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, hal. 294).

Dari pelbagai hadits itu, ulama menyimpulkan bahwa ghibah pada enam syarat ini dibolehkan tanpa maksud merendahkan, tetapi menggunakan niat memperjelas atau mengatasi masalah.

فهذه ستة أسباب ذكرها العلماء مما تباح بها الغيبة على ما ذكرناه. وممن نص عليها هكذا الإمام أبو حامد الغزالي في  الإحياء وآخرون من العلماء، ودلائلها ظاهرة من الأحاديث الصحيحة المشهورة، وأكثر هذه الأسباب مجمع على جواز الغيبة بها.

?Ini enam karena yg disebutkan ulama di mana seseorang boleh melakukan ghibah. Ulama yang menyebutkan karena ini diantaranya merupakan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin & sejumlah ulama lain. Dalilnya kentara, hadits-hadits shahih yang masyhur. Mayoritas karena yg disebutkan disepakati ulama terkait kebolehan ghibah,? (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, hal. 293).

Ghibah dibolehkan untuk kepentingan umum, kepentingan aturan, atau maslahat yang dibolehkan menurut syar?I.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Enam Kondisi Yang Diperbolehkan Menggunjing"