Bahaya Besar Menggunjing Orang Lain Menurut Nabi

Persaingan & cemburu merupakan perilaku masuk akal yg tidak perlu dikhawatirkan. Keduanya adalah sikap manusiawi. Yang nir boleh merupakan tindakan berlebihan & melewati batas seperti ujaran kebencian lantaran keduanya. Rasulullah jua pernah menghadapi salah seseorang yang dilanda cemburu berlebihan.

Siti Aisyah ra. Secara jujur menceritakan bahwa Rasulullah saw. Pernah menegur dirinya karena melontarkan perkataan yg menyangkut fisik istri Rasulullah saw. Lainnya. Rasulullah saw. Nir segan menegur sebuah tindakan seseorang pada luar batas dalam mengekspresikan perasaan cemburu atau kecewa sebagaimana riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi ini dia:

Diriwayatkan kepada kami dalam Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Aisyah ra., ia berkata, “Aku pernah mengatakan kepada Rasulullah saw., ‘Cukup bagimu perihal kekurangan Shafiyyah yang ini dan itu,’–sebagian perawi mengatakan bahwa yang dimaksud Aisyah adalah soal tinggi badan Shafiyah yang rendah.–Rasul menegurku, ‘Engkau telah melontarkan sebuah kalimat luar biasa, yang bila dilemparkan ke laut, niscaya ia akan bercampur (mengubah rasa air) laut tersebut.’ Aku juga pernah menceritakan (keburukan) seseorang kepada beliau. Lalu Rasul menanggapi, ‘Aku tidak suka bercerita perihal seseorang dan aku mendapatkan (keuntungan) ini dan itu.’’ At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar,  hal. 289)

Imam An-Nawawi yg mengutip hadits ini dalam kitab Al-Adzkar mengungkapkan bahwa bila saja ucapan ghibah itu berwujud fisik lalu dilemparkan ke laut, niscaya ucapan keji itu membarui rasa & aroma air bahari tadi sebagai busuk & pahit.

Menurut Imam An-Nawawi, ia belum pernah menemukan hadits lain di mana Rasulullah saw. Berbicara sekeras ini menanggapi kasus ghibah. Ia pula berdoa pada Allah agar melindungi kita seluruh berdasarkan tindakan yang dibenci sang Allah itu sebagaimana informasi Imam An-Nawawi berikut adalah:

?Menurutku (istilah Imam An-Nawawi), maksud ?Bercampur? Adalah percampuran yang dapat mengganti rasa & bau air laut lantaran sangat bau busuk dan keburukan kalimat tadi. Hadits ini adalah salah satu embargo terkuat ihwal ghibah atau bahkan larangan paling bertenaga. Saya tidak menemukan hadits lain yang mengecam keburukan ghibah melebihi hadits ini. Allah berfirman, ?Tidaklah ia (Nabi Muhammad saw.) berbicara dari hawa nafsu. Ucapannya itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya belaka? (QS. An-Najm). Kita memohon kelembutan dan pemeliharaan menurut segala yang perbuatan yang dibenci kepada Allah yang murah,? (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, hal. 289-290).

Imam An-Nawawi tampak sekali menjaga diri dari ghibah. Ia menampakan hal ini saat ditanya pandangannya soal paham kontroversial Ibnu Arabi yg hidup seabad sebelumnya sebagaimana didokumentasikan sang Syekh Ibnu Ajibah berikut adalah:

“Adapun bentuk penghormatan (kita) terhadap orang terdahulu -mereka yang  dimaksud adalah para sahabat rasul, tabi‘in, para wali, orang-orang saleh, dan ulama- adalah hanya menyebut kebaikan mereka dan mengambil madzhab (jalan atau pandangan) terbaik dari mereka. Imam An-Nawawi ketika ditanya sikapnya terhadap pandangan Ibnu Arabi (yang wafat lebih dulu) menjawab dengan bijak, ‘Perkataan (Ibnu Arabi) adalah perkataan kalangan sufi. Ia termasuk umat terdahulu. Mereka akan menerima jerih payah mereka. Begitu juga kalian. Kalian akan menerima jerih payah kalian. Kalian takkan diminta pertanggungjawaban atas jerih payah mereka.’ Salah satu bentuk penghormatan (kita) untuk mereka adalah permohonan ampunan dan ridha Allah untuk mereka. Allah berfirman, ‘Orang-orang beriman yang datang sepeninggal mereka berdoa, ‘Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang beriman yang telah mendahului kami’.” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Al-Futuhatul Ilahiyyah fi Syarhil Mabahitsil Ashliyyah, hal. 263).

Ilustrasi menggunjing

Menceritakan atau menciptakan sebuah narasi tentang seseorang atau forum tertentu yang dapat menguntungkan diri secara duniawi sekalipun usahakan dihindari. Pasalnya, dosa ghibahnya lebih akbar daripada keuntungan duniawi tadi sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Alan tentang liputan Imam An-Nawawi berikut ini:

?Ini merupakan isyarat atas besarnya dosa ghibah. Sementara keuntungan -meskipun banyak- yang didapat menurut ghibah itu nir sebanding dengan dosa ghibah tersebut sebagaimana ditunjukkan sang Rasulullah saw. Dengan ?Ini & itu?. Kata ini merupakan kiasan yang mengilustrasikan kuantitas yang demikian poly. Meninggalkan ghibah adalah jalan keselamatan. Sedangkan kegiatan (menggunakan niat) baik itu membawa laba. Tetapi jalan keselamatan wajib didahulukan dibandingkan keuntungan sebagaimana informasi sudah kemudian. Wallahu a?Lam,? (Lihat Muhammad bin Alan As-Shiddiqi, Al-Futuhatur Rabbaniyyah, juz VI, hal. 390).

Dari pelbagai catatan pada atas, kita dapat menarik konklusi bahwa rona-warni batin yang kita rasakan termasuk marah, senang , cemburu, murung , kecewa, dan perasaan lainnya adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Yang perlu diperhatikan merupakan bagaimana kita mengendalikan perasaan itu supaya nir melahirkan ucapan (ujaran kebencian) atau tindakan yang melewati batas-batas baik aturan syariat maupun aturan positif yg berlaku pada Indonesia, termasuk salah satunya adalah menyerang kekurangan fisik orang lain.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Bahaya Besar Menggunjing Orang Lain Menurut Nabi"