Kisah Seorang Kiai Menyalati Jenazah Non-Muslim

Hubungan antaragama selalu dijaga dengan baik sang para kiai NU. Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH. Bukhori Muslim menceritakan seorang kiai yang begitu akrab menggunakan seseorang Tionghoa yang beragama Kristen.

?Ada seseorang kiai kampung punya pesantren punya tetangga seorang Chinese (Tionghoa), agamanya Kristen., tetapi luar biasa akrab dan baik sekali,? Pungkasnya mengawali ceritanya dalam Diskusi Publik bertema The First Abrahamic Circle: Understanding Interfaith at The Grasroots di Gedung Mayapada Tower 1 lantai 19, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (22/8).

Ia, katanya, selalu membeli semen dan pasir ke tetangganya tersebut mengingat dialah yg berjualan material pada dekatnya. Saking akrabnya, anak seseorang Tionghoa itu juga begitu akrab dengan sang kiai.

Suatu waktu, lanjutnya, tetangganya tadi meninggal. Anaknya seringkali melihat bila ada tetangganya yang mati, selalu minta didoakan dan dishalatkan oleh kiai tersebut. Karenanya, ia meminta pada kiai tadi buat mendoakan & menshalatkannya.

?Kiai, Bapak saya meninggal. Tolong doakan dan dishalatkan,? Ucapnya menceritakan.

Meskipun tidak selaras agama, tetapi kedekatan mereka membuatnya tak canggung. Kiai tersebut pun menyanggupi & memanggil santri-santrinya buat menyalatkannya. ?Tetapi ia panggil santri-santrinya. Ayo kita ke tempat tinggal tetangga. Kita shalatin tetangga,? Ujarnya.

Santri pun dibentuk gundah. Mereka memikirkan aturan menshalatkan mayit orang kafir. Pikiran demikian pun pribadi diputus sang oleh kiai dengan pernyataan. ?Ayo, kita shalat. Shalatnya shalat Ashar. Empat rakaat pakai rukuk & sujud,? Ucapnya.

Laku demikian, pungkasnya, adalah langkah krusial sebagai bentuk penghormatan para kiai terhadap tetangga. ?Ini lantaran menghormati tetangga. Inilah yang perlu dikembangkan sekarang,? Tegas guru pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Dalam global ini, manusia diwajibkan buat saling mengenal satu sama lain. Perbedaan telah merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. ?Orang ini urusannya global urusannya wajib ta?Aruf, harus mengenal. Allah menciptakan manusia nir sama, agamanya nir sama, namun Allah perintahkan buat saling mengenal, saling menghormati, menciptakan peradaban,? Jelasnya.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi warga Islam terbesar sangat inklusif, terbuka buat semua kalangan. ?Di NU mau agamanya apa, dateng ke pesantren ayo gak papa,? Terangnya.

Ia berharap pertemuan tadi dapat menaruh sumbangsih penting dalam mempersatukan umat pada dunia. ?Praktis-mudahan pertemuan ini bisa membawa ke sana, buat membangun persatuan global, saling menghormati,? Katanya.

Pertemuan tadi pula dihadiri oleh Pendiri FPCI Dino Pati Djalal, Kepala Pusat Studi Al-Qur?An H. Muchlis M Hanafi. Hadir pula para peserta The First Abrahamic Circle, yakni guru di Jagar Arsy World Civilization Boarding School, BSD, Tangerang Selatan, Banten Ustaz Oji Fahrurroji; Rabbi Eliot Baskin berdasarkan Sinagog Emanuel Denver, Colorado, Amerika Serikat, dan Pendeta Ryhan Prasad berdasarkan Gereja Khandallah Presbyterian, Wellington, Selandia Baru.

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Seorang Kiai Menyalati Jenazah Non-Muslim"