Kisah Pangeran Diponegoro Dijebak dan Ditangkap Belanda

Manakala Pangeran Diponegoro memproklamirkan perlawanan terhadap Belanda, maka jejaring sosial yang telah dia bersinar-sinar sebelumnya menyuplai pasukan, logistik, sampai jaringan bawah tanah. Khusus para kiai, Pangeran Diponegoro poly didukung sang para ulama yg dari menurut berbagai pesantren di wilayah Mataram (Yogyakarta). Laskar santri ini poly berada pada bagian infantri.

Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan infantri, kavaleri & artileri (yg semenjak perang Napoleon menjadi senjata andalan pada pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung menggunakan sengit. Front pertempuran terjadi pada puluhan kota dan desa pada semua Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu daerah bisa dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu telah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu juga sebaliknya.

Jalur-jalur logistik dibangun menurut satu wilayah ke daerah lain buat menyokong keperluan perang. Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun pada hutan-hutan dan di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan sedang berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan keterangan yg diperlukan untuk menyusun taktik perang. Informasi tentang kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, syarat medan, curah hujan sebagai keterangan primer; lantaran strategi & taktik yg jitu hanya bisa dibangun melalui dominasi liputan.

Serangan-agresi besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan dalam bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali buat berafiliasi menggunakan alam menjadi "senjata" tidak terkalahkan. Jika animo penghujan datang, gubernur Belanda akan melakukan bisnis-bisnis untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yg deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya adalah "musuh yang tidak tampak", melemahkan moral & kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka.

Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan & membuatkan mata-mata dan provokator mereka berkiprah pada desa & kota; menghasut, memecah belah & bahkan menekan anggota famili para pangeran dan pemimpin usaha warga yg berjuang dibawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tadi nir gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.

Pada zenit peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi saat itu pada mana suatu wilayah yg tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini merupakan perang pertama yg melibatkan seluruh metode yang dikenal dalam sebuah perang terbaru. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerrilla warfare) yg dilaksanakan melalui strategi hit and run dan penghadangan (Surpressing). Perang ini bukan adalah sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang terkini yg memanfaatkan aneka macam siasat yg ketika itu belum pernah dipraktekkan. Perang ini pula dilengkapi dengan strategi perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta pancingan sang pihak Belanda terhadap mereka yg terlibat eksklusif pada pertempuran; & aktivitas telik sandi ( spionase ) di mana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari kabar tentang kekuatan dan kelemahan lawannya. (Ditulis Oleh: Rijal Mumazziq Z, Dosen Tetap STAI Al-Falah As-Sunniyyah Kencong Jember)

Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Pangeran Diponegoro dengan memakai sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kiai Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul lalu Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Raden Ali Basa Abdoel Moesthofa Sentot Prawirodirjo menyerah pada Belanda. Akhirnya dalam lepas 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Pangeran Diponegoro di Magelang. Siasat licik lalu dijalankan, pada bulan Syawal 1830, Pangeran Diponegoro diundang buat berunding, lalu ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makasar hingga wafatnya pada Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Berakhirnya Perang Jawa adalah akhir perlawanan bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban pada pihak pemerintah Hindia Belanda sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, & 200.000 orang Jawa. Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.

Para ulama pengikut Pangeran Diponegoro banyak yang syahid di medan perang, sisanya menyingkir ke pedalaman, membuka perkampungan, mendirikan masjid, lalu merintis pesantren. Sebagian akbar para ulama & santri ini membarui nama dan identitasnya buat menghindari intelijen Belanda yg monoton memantau konvoi sisa-residu laskar Pangeran Diponegoro.

Penulis: Raden Thomas Sugeng Sutaman

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Pangeran Diponegoro Dijebak dan Ditangkap Belanda"