Hikmah Hijrahnya Nabi Musa dan Nabi Muhammad

Dalam Mu?Jam Lisanu al-Arab karya Ibnu Mandhur, jus 5 disampaikan bahwa hijrah secara bahasa bermakna:

?????? ?? ????? ??? ?????

?Migrasi menurut satu belahan bumi ke belahan bumi yang lain? (Ibnu Mandhur, Lisan al-?Arab, 5/250).

Makna leksikal pada atas senada menggunakan suara firman Allah:

?Maka keluarlah Musa berdasarkan kota itu menggunakan rasa takut, menunggu-nunggu sembari khawatir. Dia berdoa: ?Ya Tuhanku, selamatkanlah aku berdasarkan kaum yang aniaya ini!? (QS. Al-Qashash: 21)

Ayat ini seolah jua menjelaskan bahwa migrasinya Nabi Musa 'alaihissalam menurut kota Mesir ke kota Kanaan adalah pula merupakan peristiwa hijrah. Dalam ayat ini pula seolah digambarkan bahwa proses migrasinya Nabi Musa adalah didahului sebuah insiden yaitu ancaman menurut Fir?Aun & bala tentaranya yg hendak membunuhnya. Sebagaimana hal ini disampaikan pada firman Allah dalam ayat sebelumnya:

?Lalu datanglah seseorang pria berdasarkan tengah kota sembari berjalan. Dia mengatakan: Wahai Musa, sesungguhnya Fir?Aun dan bala tentaranya sedang mencarimu hendak membunuhmu. Maka keluarlah (menurut kota Mesir ini)! Sesungguhnya saya kepadamu termasuk orang yang memberi petuah .? (QS. Al-Qashash: 20)

Di pada buku Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa pria yang datang dan memperingatkan Nabi Musa ?Alaihissalam tadi adalah seorang malaikat. Ia datang sambil membawa kuda dan sebagai penunjuk jalan.

Jadi, makna hijrah sebagaimana tergambar pada dua ayat di atas, seolah-olah menunjuk dalam pengertian terdapat sesuatu kekuatan zalim yg ditakuti sehingga memaksanya buat melakukan migrasi dari suatu daerah ke wilayah lain. Makna lain berdasarkan hijrah adalah selain lantaran tujuan ?Menjauhi? Sebuah perbuatan, jua ditimbulkan lantaran tujuan mencari keselamatan diri dan jiwa, alih-alih selamat akhirat..

Untuk hijrah yang bermakna menjauhi sebuah perbuatan, bisa diketahui berdasarkan firman Allah sebagai berikut:

?Dengan menyombongkan diri terhadap Al-Qur?An dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya (Al-Qur?An) dalam waktu engkau bercakap-cakap pada malam hari.? (QS. Al-Mu?Minun: 67)

Dalam Terjemah Al-Qur?An versi Kementerian Agama RI, lafadz ?????? Diikatkan maknanya menggunakan kalimat ????? . Arti leksikal berdasarkan ????? Merupakan percakapan pada malam hari. Sementara itu makna ?????? Bermakna ?Pada ketika kalian menjauhi?. Dengan demikian, bila dirangkai pada satu rangkaian kalimat, maka seolah maksud menurut ayat ini merupakan ?Mereka membicarakan Al-Qur?An dengan perkataan-perkataan keji di malam hari saat kalian sedang nir terdapat di sisi mereka.? Apabila ditelusuri lebih jauh, makna ini sepertinya menemukan kesesuaian menggunakan yg disampaikan sang Ibnu Katsir pada Kitab Tafsir-nya. Ia sembari menukil sebuah riwayat tafsir menurut Ibnu Abbas yang diriwayatkan sang An-Nasai & dimuat pada Kitab Sunan-nya sebagai berikut:

?? ??? ???? ??? ??? : ???? ??? ????? ??? ???? ??? ????? : ( ???????? ?? ????? ?????? ) ? ???? : ???????? ?????? ? ?????? : ??? ???? ? ( ????? ) ??? : ??????? [ ??????? ??? ? ??? ] ??????? ? ????????

?Dari Ibnu Abbas radliyallahu ?Anhuma, ia mengatakan: Sesungguhnya dialog di malam hari amat dibenci waktu turunnya ayat ini (???????? ?? ????? ??????). Lalu dia melanjutkan: ?Mereka sudah berlaku takabur menggunakan Baitullah. Mereka berkata: Kami adalah ahlinya.? Lalu terhadap makna (?????), Ibnu Abbas berkata: Mereka menyombongkan diri (dengan mengungkapkan pada malam hari pada Baitullah, padahal mereka tiada pernah memakmurkannya), justru menjauhinya.? (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir)

Makna hijrah dalam riwayat tafsir ini secara jelas memilih kepada pengertian menjauhi & meninggalkan suatu perbuatan. Jika dirujuk ke konteks orang mukmin, maka perbuatan menjauhi dan meninggalkan ini sudah pasti ditujukan dalam menjauhi & meninggalkan perbuatan yg aniaya, sebagaimana digambarkan pada ayat sebelum QS. Al-Mu?Minun: 67 ini, yaitu:

?Tetapi, hati mereka (orang-orang kafir) itu dalam kesesatan menurut (memahami Al-Qur?An) ini, dan mereka mempunyai (kebiasaan banyak mengerjakan) perbuatan-perbuatan lain (tidak baik) yg terus mereka kerjakan. Sehingga bila Kami timpakan siksaan kepada orang-orang yg hayati bermewah-mewah di antara mereka, seketika itu mereka berteriak-teriak meminta tolong. Janganlah kamu berteriak-teriak meminta tolong pada hari ini! Sungguh, kamu nir akan mendapat pertolongan dari Kami. Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Qur?An) selalu dibacakan pada engkau , namun kamu selalu berpaling ke belakang.? (QS Al-Mu?Minun: 63-66).

Berbekal QS. Al-Mu?Minun ayat 67, maka perbuatan yg hendak dijauhi melalui prosedur hijrah, khususnya bagi kalangan mukmin merupakan menjadi berikut:

1.) Menjauhi perbuatan maksiat yang terus-menerus dan kesesatan (QS. Al-Mu?Minun: 63)

2.) Hidup bermewah-mewahan tanpa mau buat bersikap prihatin sebagai akibatnya ketika ditimpa cobaan, mengeluh seolah telah menerima musibah berdasarkan Allah (QS. Al-Mu?Minun: 64)

tiga.) Jika ingin Allah menolong kita, maka seyogyanya kita menolong agamanya Allah di kala ketika senggang. (QS. Al-Mu?Minun: 65)

4.) Hendaknya hati seseorang mukmin senantiasa mau membaca Al-Qur?An & mengamalkannya dalam kehidupan.

Lima.) Semua upaya ini absolut wajib dilakukan oleh seseorang mukmin meskipun harus berkorban dengan meninggalkan daerah atau harta yg dimiliki, manakala nir memungkinkan diri untuk melakukan dakwah, sebagaimana tergambar menurut QS. Al-Qashash: 21.

Inilah citra menurut hijrah yang bermakna menjauhi & meninggalkan. Perbuatan yang ditinggalkan adalah perbuatan buruk, berbuat maksiat terus-menerus & dalam kesesatan. Perbuatan & syarat yg dituju adalah antitesa berdasarkan perbuatan tadi, yaitu perbuatan baik, senantiasa berlaku taat & pada bingkai petunjuk. Semua itu bisa didapat jikalau sosok Muslim ini mau senantiasa menjadikan Al-Qur?An menjadi petunjuk.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Hikmah Hijrahnya Nabi Musa dan Nabi Muhammad"