Hikmah dan Manfaat Menikah Menurut Imam Al-Ghazali

Boleh jadi, banyak orang yang tidak menghargai, mempermainkan, bahkan cenderung mengabaikan institusi pernikahan karena belum tahu faidah dan pesan tersirat di kembali pernikahan. Padahal, pesan tersirat pernikahan itu begitu akbar, baik bagi individu, keluarga, maupun masyarakat manusia secara umum.

Berbicara pernikahan, mau tidak mau wajib disadari bahwa kehidupan insan tidak mungkin berlangsung & berkelanjutan kecuali dengan memelihara generasi yg baik. Dan generasi yg baik tak mungkin lahir kecuali dari pernikahan & keluarga yg utuh dan serasi, jua tentunya famili yang berakidah kuat, taat beribadah, dan berbudi pekerti luhur. Karena itu, menikah adalah satu-satunya jalan terbaik melahirkan generasi pilihan dan memperbanyak keturunan, sebagaimana yang disampaikan Allah:

Hai sekalian insan, bertakwalah pada Tuhan-mu yg sudah membentuk engkau berdasarkan seseorang diri, & darinya Allah membangun istrinya; serta dari keduanya Allah memperbanyak laki-laki & perempuan yang poly, (QS al-Nisa? [4]: 1).

Demikian juga yang diinginkan & dibanggakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

?Menikahlah kalian menggunakan wanita yg paling dicintai dan paling poly memberi keturunan. Sebab, saya akan membanggakan banyaknya jumlah kalian atas umat-umat lain dalam hari Kiamat,? (HR. Ahmad).

Selain itu, menikah juga adalah cara termulia buat memenuhi kebutuhan biologis, insting, & fitrah saling mencinta yang dititipkan Allah pada insan. Siapa pun memahami manakala kebutuhan, insting dan fitrah itu tidak terpenuhi akan membawa pemiliknya pada kegelisahan, kekacauan, bahkan putus harapan yg berujung dalam berbagai tindakan tak terpuji. Dengan kata lain, menikah adalah benteng pada menjaga kehormatan serta kesucian diri, jua pandangan dan kemaluan menurut segala tindakan nista yg diharamkan Allah, semisal perzinaan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

?Wahai para pemuda, siapa saja pada antara kalian yg sudah bisa ba?At (menikah), maka menikahlah! Sebab, menikah itu lebih bisa menundukkan (menjaga) pandangan & memelihara kemaluan. Tetapi, siapa saja yang nir bisa, maka usahakan beliau berpuasa. Sebab, puasa adalah penekan nafsu syahwat baginya,? (HR. Muslim).

Pun tak mampu dipungkiri bahwa pernikahan adalah gerbang meraih ketenangan, saling mengasihi, serta kebahagiaan beserta, sebagaimana dalam Al-Qur?An.

"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya artinya Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, agar engkau cenderung & merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya pada antaramu rasa kasih dan sayang". (QS. Ar-Rum: 21).

Selanjutnya, menikah juga merupakan satu jalan untuk saling mengikat, saling menutupi kekurangan, saling menaruh kepercayaan, saling membutuhkan, saling berbagi peran,  saling menolong, saling memenuhi hak-kewajiban, saling meringankan beban, dan sebagainya. Karena tak mungkin seluruh tugas rumah tangga tertangani seluruhnya oleh suami atau istri. Maka di sanalah pentingnya berbagi peran dan saling meringankan beban satu sama lain. Kesibukan suami mencari nafkah di luar rumah, misalnya, akan lebih berat jika harus ditambah dengan kesibukan memasak, mengasuh anak, dan pekerjaan rumah lainnya. Karenanya, dibutuhkan sosok yang fokus menangani tugas-tugas dalam rumah dan mengatur rumah tangga, yaitu seorang istri. Dan yang lebih penting lagi dari semua itu adalah meneguhkan kepemimpinan suami dalam rumah tangga.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan , lantaran Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki ) atas sebagian yg lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki ) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka perempuan yang saleh artinya yg taat kepada Allah lagi memelihara diri saat suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka), (QS. An-Nisa?: 34).

Di sisi lain, pernikahan juga sanggup menciptakan silaturahim, persaudaraan, & hubungan erat antar keluarga dan rakyat tempat suami dan istri asal yg semula tidak saling mengenal. Ini pula nasihat yg hendak dicapai melalui pernikahan, sebagaimana yg difirmankan Allah pada Al-Qur?An.

"Hai insan, sesungguhnya Kami menciptakan kamu berdasarkan seseorang pria dan seorang wanita dan membuahkan kamu berbangsa-bangsa & bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenaldanquot;, (QS. Al-Hujurat: 13).

Maka berkat individu-individu yg menghormati pernikahan, fondasi keluarga yang kokoh & serasi, akan terwujud bangunan rakyat akan kuat, bersih, rukun, & terhindar berdasarkan segala perbuatan nista.

Kaitan ini, al-Ghazali jua pernah menguraikan empat pesan tersirat lain di kembali anjuran menikah:

Pertama, meraih kecintaan dan keridaan Allah dengan cara memperbanyak keturunan guna melestarikan eksistensi dan kehidupan manusia.

Kedua, kecintaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena turut memperbanyak umatnya yang akan dibanggakannya kelak pada hari Kiamat, sebagaimana hadits,  ?Menikahlah kalian menggunakan wanita yg paling dicintai dan paling poly memberi keturunan. Sebab, saya akan membanggakan banyaknya jumlah kalian atas umat-umat lain dalam hari Kiamat,? (HR. Ahmad).

Ketiga, meraih keberkahan dari doa anak-anak yang shalih.

?Ketika seorang meninggal, maka putuslah seluruh amalnya kecuali berdasarkan 3 perkara: (1) sedekah yg mengalir pahalanya; (dua) ilmu yg bermanfaat; dan (tiga) anak shalih yg selalu mendoakan,? (HR. Tirmidzi).

Keempat, mendapat syafaat dari anak yang meninggal di waktu kecil. Hal ini berdasarkan hadits:

?Siapa saja yang tewas global pada keadaan memiliki tiga orang anak yang belum akil baliq, maka dia memiliki sebuah tirai penghalang menurut neraka atau beliau masuk surga ,? (HR. Bukhari).

Demikianlah hikmah-hikmah pernikahan yang disarikan dari kitab Ihya Ulum al-Din karya al-Ghazali, (Beirut: Darul Ma‘rifat, jilid 2, hal. 24), kitab Fiqh al-Nikâh karya Muhammad  Abdul Lathif Qindil (Beirut: Darul Kutub, t.t., hal. 55), dan kitab al-Zawâj fî Zhill al-Islâm karya ‘Abdurrahman ibn ‘Abdul Khalik al-Yusuf (Kuwait: Daru al-Salafiyyah, 1988, cetakan ketiga, hal. 21). Semoga bermanfaat.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Hikmah dan Manfaat Menikah Menurut Imam Al-Ghazali"