Kisah Seseorang Mencela dan Mencaci-maki Keturunan Nabi

Dalam buku al-Tibr al-Masbuk f? Nashihah al-Muluk, Imam al-Ghazali memasukkan kisah Sayyidina Ali Zainal Abidin yg dicaci-maki sang seseorang. Berikut kisahnya:

Sayyidina Zainal Abidin Ali bin Husain radliyallahu ?Anhu keluar (rumah) menuju masjid. Tiba-tiba seseorang mencaci-makinya. Para pengawalnya hendak memukul dan menyakiti orang tadi. Sayyidina Ali Zainal Abidin melarangnya & berkata: ?Tahanlah tangan kalian darinya!?

Kemudian dia berpaling kepada orang yang mencacinya itu dan berkata: ?Wahai tuan, aku mempunyai keburukan lebih banyak berdasarkan yang tuan katakan. Apa yg tuan tidak ketahui (mengenai keburukanku) lebih banyak menurut yang tuan ketahui. Jika tuan membutuhkannya, saya akan menceritakan (seluruh)nya dalam tuan.? Orang itu pun menjadi membuat malu.

Lalu Sayyidina Ali Zainal Abidin merogoh kantong bajunya & memberinya uang seribu dirham. Orang itu pun berlalu sambil mengatakan: ?Aku bersaksi bahwa pemuda ini (Sayyidina Ali Zainal Abidin) adalah keturunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.? (Imam Abu Hamid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, hal. 25)

Mencela adalah perbuatan yang dilarang agama, apalagi bila celaan itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka tingkatannya sanggup naik sebagai fitnah. Rasulullah bersabda:

?Tidaklah seseorang yang melemparkan tuduhan kefasikan pada orang lain, & tidaklah juga seseorang yg melemparkan (tuduhan) kekufuran melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya, jika saudaranya nir seperti itu.? (HR. Bukhari)

Di zaman bertabur rekaan ini, pencegahan dan respon sama pentingnya. Pencegahan pada arti mengamalkan sunnah Rasul yang melarang mencela dan mencaci, & pada ketika yg sama menampilkan respon yg penuh adab seperti yang ditunjukkan Sayyidina Ali Zainal Abidin.

Untuk mampu merespon fitnah & celaan menggunakan bijak, seorang harus menumbuhkan perilaku tawadhu' pada hatinya. Kenapa ini krusial, silahkan perhatikan ucapan Imam Abu ?Utsman al-Hirri:

?Akar tawadhu' terdapat tiga: (1) mengingatkan seorang hamba akan kebodohannya, (2) mengakui kekurangannya di (setiap) keadaan, & (tiga) jangan memperhatikan (menilai) kekurangan orang lain.? (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya?, alih bahasa Arab sang Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi?I [836 H], hal. 480)

Ucapan Imam al-Hirri perlu kita renungi dalam-dalam, bahwa insan merupakan makhluk terbatas, bukan makhluk yg ?Segala tahu? Atau ?Maha tahu?. Sepintar-pintarnya insan, apabila menggunakan ukuran ruang, lebih banyak ruang kebodohannya. Sebaik-baiknya insan, lebih poly kebaikan yg belum diamalkannya, & sejahat-jahatnya insan, beliau masih mempunyai ruang waktu yang cukup luas buat memperbaikinya.

Karena itu, kita wajib menunda diri. Jangan menuduh asal-asalan, apalagi jika tuduhan itu berkaitan dengan karakter-karakter negatif yg terdapat dalam agama, misalnya munafik, fasik, zindik, kafir & lain sebagainya. Selain tuduhan semacam itu diharamkan kepercayaan , jua bisa mengakibatkan ketidak-nyamanan sosial. Lagipula, siapa yg mampu menjamin jika orang yang kita fasikkan, kita munafikkan & kita kafirkan tidak akan berubah hingga akhir hayatnya. Siapa kita yang berani memastikkan kezindikan, kemunafikan atau kekafiran seseorang. Serahkan itu pada Allah saja.

Kembali ke kisah di atas, Imam Ali Zainal Abidin seakan-akan menganggap cacian sebagai kasih sayang Tuhan yang mengingatkan dosa-dosanya. Bagi orang yang selalu jangan lupa akan dosa-dosanya, beliau tidak akan mudah terhina sang cacian dan makian. Cacian merupakan cambuk pengingat bahwa, ?Saya lebih tidak baik menurut itu,? & ?Dosaku lebih poly berdasarkan itu.? Maka, seberapa kasar & bejatnya sebuah cacian, tidak akan berarti apa-apa karena beliau merasa jauh lebih jelek dari itu. Bahkan, Imam Ali Zainal Abidin menawari pencacinya semua warta tentang keburukannya.

Sebagai gantinya, Imam Ali Zainal Abidin berterima kasih pada pencacinya karena sudah diingatkan kembali. Seumpama dia hendak berujar, ?Cacian yg mengingatkanku atas segala keburukan lebih kunikmati daripada kebanggaan yg melalaikanku.? Karenanya beliau tanpa ragu memberi pencacinya uang cukup banyak, karena caciannya membangkitkan penyesalannya balik atas dosa-dosanya.

Sisi lain kisah di atas adalah teladan akhlak yang baik. Meski dicaci sedemikian rupa, Imam Ali Zainal Abidin membalasnya menggunakan kebaikan. Ia melarang pengikutnya menyakiti orang tersebut dan menghampirinya menggunakan penuh keramah-tamahan. Sikapnya ini menciptakan sang pencaci membuat malu. Belum hilang rasa malunya, Imam Ali Zainal Abidin memberinya uang seribu dirham. Akhlak mulia inilah yg membuatnya bersaksi bahwa dia benar-sahih keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

Jadi, sudilah kiranya kita berhenti mencaci & menampilkan adab yg baik ketika dicaci-maki. Pertanyaannya, sudahkah?

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Seseorang Mencela dan Mencaci-maki Keturunan Nabi"