Ketika Rasulullah Menyuruh Belajar Bahasa Asing

?Dan Engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu Kitab pun sebelum adanya Al-Qur?An dan Engkau nir (pernah) menulis suatu Kitab menggunakan tangan kananmu; sekiranya (Engkau pernah membaca dan menulis), niscara ragu orang-orang yang mengingkarinya.? (QS. Al-Ankabut: 48).

Zaid bin Tsabit merupakan keliru seorang sahabat yang cerdas & cakap. Karena itulah, Nabi Muhammad mempercayakan posisi penulis wahyu kepada Zaid bin Tsabit. Tiap kali wahyu turun, Nabi Muhammad mendiktekannya pada Zaid bin Tsabit. Zaid kemudian eksklusif menghafal dan menuliskannya ke pelepah kurma, kulit hewan, batu, dan lainnya.

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menugaskan Zaid bin Tsabit buat menulis surat-surat untuknya. Nabi mendikte dan Zaid kemudian menuliskannya. Jika penerima surat nir berbahasa Arab, maka tugas Zaid bin Tsabit adalah menerjemahkannya ke pada bahasa mereka. Oleh sebab itu, Zaid bin Tsabit dituntut menguasai banyak bahasa.

Merujuk dalam Hayatush Shahabah karya Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Nabi Muhammad pernah memerintahkan Zaid bin Tsabit buat mengusut aksara Yahudi. Hal itu bermula saat suatu hari orang-orang yg tengah menghadap Nabi menyampaikan bahwa terdapat seorang anak berdasarkan Bani Najjar -galat satu suku Yahudi yg mendiami Jazirah Arab- telah menghafal 17 Surat Al-Qur?An. Nabi takjub sesudah mendengar anak tersebut membaca Al-Qur?An.

Setelah itu, Nabi Muhammad memerintahkan Zaid bin Tsabit yg ketika itu berada pada sampingnya buat memeriksa aksara Yahudi, baik mulut juga goresan pena. Alasannya, supaya Zaid bin Tsabit sanggup menerjemahkan istilah-kata yg disampaikan Nabi Muhammad ketika berinteraksi dengan orang Yahudi, baik dalam hal surat-menyurat ataupun berpidato di hadapan mereka.

?Wahai Zaid, pelajarilah untukku aksara Yahudi, lantaran demi Allah, saya tidak merasa kondusif terhadap suratku berdasarkan orang Yahudi,? Kata Nabi Muhammad.

Zaid bin Tsabit kemudian mempelajari aksara Yahudi. Dalam kurun saat 1/2 bulan, beliau berhasil menguasainya menggunakan baik, baik verbal juga tulisan. Apabila Nabi Muhammad hendak mengirimkan surat kepada komunitas Yahudi, maka Zaid bin Tsabit menuliskannya. Zaid jua yg menerjemahkan waktu Nabi Muhammad mendapat surat berdasarkan mereka.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga memerintahkan Zaid bin Tsabit buat mempelajari bahasa-bahasa asing lainnya seperti Bahasa Suryani. Lantaran dalam waktu itu, Nabi tengah mendapat surat berdasarkan suku yg berbahasa Suryani. Sementara para teman nir terdapat yang memahami bahasa tadi.

?Telah tiba kepadaku surat, & saya tidak ingin dibaca sembarang orang. Nah, bisakah kamu (Zaid bin Tsabit) memeriksa aksara Ibrani, atau beliau menyampaikan; aksara Suryani?? Tanya Nabi Muhammad.

Zaid menyanggupi permintaan Nabi. Dia kemudian berhasil menguasai bahasa tersebut selesainya mempelajarinya selama 17 malam.

Dalam mendakwahkan Islam, Nabi Muhammad tidak hanya menyampaikannya secara eksklusif pada hadapan umatnya tapi juga melalui surat-menyurat. Biasanya Nabi menggunakan metode dakwah tersebut buat mengajak para raja-raja pada wilayah Jazirah Arab & sekitarnya supaya memeluk Islam.

Di antara raja-raja yang Nabi Muhammad pernah mengirimkan surat pada mereka merupakan Muqawqis (Raja Qibthi di Mesir), Heraclius (Kaisar Romawi Timur), Raja Najasyi (Penguasa Habasyah), Gassan Jabalah bin Aiham (Raja Thaif), Negus (Penguasa Abessinia), Munzir bin Sawi (Penguasa Bahrain), Kisra (Penguasa Persia), & lainnya.

Tentu saja, para raja tersebut nir semuanya berbahasa Arab. Oleh karena itu, Nabi perlu memiliki penulis pribadi yang menguasai bahasa-bahasa mereka. Sehingga pesan yg hendak disampaikan Nabi Muhammad mampu dipahami mereka. Dan penulis pribadi Nabi yang menguasai poly bahasa adalah Zaid bin Tsabit.

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Ketika Rasulullah Menyuruh Belajar Bahasa Asing"