Belajar Menahan Emosi Dari Kisah Murid Sunan Kudus

Nabi saw. Bersabda: ?Orang bertenaga bukanlah yang dapat mengalahkan musuhnya, namun yg dapat mengendalikan emosinya ketika murka ?. Perang melawan diri sendiri adalah perang melawan emosi pada pada dirinya. Emosi adalah tenaga yang mendorong seorang buat melakukan sesuatu yang ada dari pada dirinya sendiri. Hadits tadi mengajarkan bahwa mengendalikan emosi sendiri lebih hebat daripada menundukkan orang lain.

Rasulullah mencontohkan bagaimana dia bisa mengendalikan emosinya. Saat mengajak ke jalan kebenaran, dia dilempari batu. Wajahnya berlumuran darah dan mengalir hingga kakinya. Rasulullah menunda marahnya. Beliau malah mendoakan kebaikan buat mereka yang melempari & melukainya menggunakan batu. "Ya Allah, berikan petunjuk kepada kaumku, lantaran mereka belum mengetahui." Betapa tulus & agung doanya. Doa yang lahir berdasarkan jiwa dan hati yg higienis. Subhanallah.

Kekuatan dzikir di samping karunia Allah, di dalamnya juga ada pengendalian emosi. Orang membaca basmalah sehari 7000 selama 7 hari. Lalu terasa ringan, maka dinaikkannya menjadi 12.000 sehari. Sampai terasa bisa ditingkatkan. Lalu sehari 21.000 kali. Sampai emosinya nyaman dan  mengatakan bisa lebih dari itu, dan seterusnya.

Saat memperbanyak dzikir, galat satu ujiannya adalah emosi. Bosan, capek, banyak yang menyukai, ada yang bikin kesal, & lain lain.

Ratminah, gadis manis yg orang tuanya kaya raya waktu dilamar oleh Ibunya Baridin yg miskin, emosinya meledak. Ia memarahi, memaki, bahkan mengusir Ibu Baridin. Ia nir kuat menunda gemuruh emosi marahnya.

Baridin sakit hati. Kalau ditolak, kenapa tidak dengan cara yang baik-baik? Ia pulang meninggalkan rumahnya. Ia menyendiri, nir makan & tidak minum. Lisannya membaca mantera kemat jaran goyang. Setelah dibaca berhari-hari dengan hati yg luka berlumuran darah dan dipenuhi dendam, tenaga manteranya mengkristal, lalu seperti anak panah gaib melesat terbang menembus hati dan jiwa Ratminah.

Ratminah gelisah. Hati dan pikirannya dipenuhi paras Baridin. Kemanapun paras memandang, yg terdapat wajah Baridin yang dulu dibencinya. Rindu Ratminah meluap dan cintanya tumbuh menggunakan cepat tidak tertahankan. Benteng pikirannya tidak bisa membendung gejolak rindu & cintanya. Ia pulang meninggalkan orang tua dan kekayaannya. Ia pergi ke sana kemari. Satu yg dicarinya dan satu yang diklaim-sebut lisannya, yaitu Baridin. Ia misalnya orang gila. Anak-anak pada jalanan mempermainkan dan memanggilnya gila. Rambut dan tubuhnya tidak terurus. Matanya seringkali menitikkan air mata. Lisannya terus menyebut lirih nama Baridin. Lisannya jadi liar, sering tertawa sendiri. Tubuhnya dibawa oleh jiwanya yang dipenuhi luapan cinta mencari yang dicintainya.

Saat pada satu momen Ratminah bertemu Baridin. Ia terkejut. Ia merengek manja memohon supaya Baridin mau pergi dan hidup bersama dengannya. Baridin menolak. Sakit hatinya begitu pada. Ia tirakat nir makan dan nir minum hanya punya satu tujuan, yaitu membalaskan sakit hatinya, bukan mencari kebahagiaan dan bukan ingin menyebarkan kebahagiaan.

Jiwa Ratminah goncang. Harapannya lenyap. Jiwanya bergetar keras lalu keluar berdasarkan tubuhnya. Tubuhnya beku tidak mampu bergerak. Ia mangkat pada hadapan Baridin, orang yang selalu terdapat dalam bayangannya dan mengganggu jiwanya.

Baridin terkejut. Tubuhnya yang lemah, dehidrasi. Ia pun menyusul Ratminah ke alam barzakh. Baridin gagal mengendalikan emosi marah & dendamnya yang membara.

Orang hebat bukan orang yang marahnya mustajab, tapi yang marahnya bisa dikendalikan. Saat marah & hati mendidih akan meluapkan kutukan, segeralah tolak bala, bersedekah & berdzikir agar emosi murka tersebut tidak menjadi bala bagi diri maupun orang lain.

Makam Arya Penangsang

Arya Penangsang gagal sebagai raja, lantaran nir kuat tirakat menahan emosi murka selama 40 hari, sebagaimana pesan gurunya, Sunan Kudus.

Kita ini nir punya apa-apa dan nir punya siapa-siapa. Kendalikan emosi murka . Jangan sampai kutukannya mewujud. Boleh jadi itu istidraj. Dan jangan memancing kemarahan orang lain dengan merendahkan & menyakitinya. Bukankah doa orang yang disakiti itu mustajab?

Kalaupun mereka tidak murka & mengutuk. Tetap saja kezaliman kita adalah kegelapan, membuat hidup jadi naas, susah & menderita. Sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan. Cahaya ilmu, kebaikan, dzikir, dll jangan sampai padam diterpa angin kezaliman yg kita lakukan.

Ya Allah, ampuni hamba, sayangi hamba, beri hamba rezki, tambal kekurangan hamba, angkat derajat hamba, beri hamba petunjuk, sehatkan, & maafkan kelalaian hamba. Demikian salah satu terjemahan doa duduk pada antara dua sujud.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Belajar Menahan Emosi Dari Kisah Murid Sunan Kudus"