Apakah Benar Sidharta Gautama Seorang Nabi?

Tak poly yang memahami, beberapa ketika sebelum Allah mengutus baginda Muhammad menjadi Rasul, bangsa Arab sebetulnya sudah mengenal sejumlah Nabi. Sebagaimana layaknya Nabi, orang-orang ini jua dibekali kemampuan istimewa; sesuatu yang luar biasa (khariq al-?Adah).

Nabi yg pertama berdomisili pada Yaman. Bangsa arab saat itu, termasuk kabilah Quraisy pada Kota Makkah, mengenal orang ini menjadi Rahman al-Yamamah (Penguasa Kota Yamamah). Itulah memang julukannya, atau setidaknya begitulah beliau menyeru umat buat mengenang dirinya. Salah satu mukjizatnya merupakan, seperti diilustrasikan Al-Jahizh dalam buku Al-Hayawan, memasukkan telur ke pada botol.

Bayangkan, sebutir telur bisa diselipkannya ke pada botol melalui celah yang amat sempit. Masya Allah, orang Yamamah pun terkagum-kagum, dan selanjutnya mereka pasrah buta; mengikuti ?Syariat? Nabi yg syahdan melegalkan minuman keras dan perzinahan.

Musailamah, nama orang itu, hayati di 3 zaman. Usianya yang mencapai 150 tahun bisa membuatnya bertemu dengan masa sebelum, sedang, & setelah Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul. Ia bahkan sempat bertemu & mengajak sang Rasul membuatkan (sharing) kenabian, yg tentu saja dia tolak mentah-mentah. Nabi bahkan, pada sebuah surat balasan yg dikirim untuknya, menyebutnya menjadi al-Kaddzab (pendusta akbar).

Musailamah ternyata Nabi palsu. Ia tumpas di tangan Wahsyi, yang jua pernah membantai Sayyid Hamzah (galat seorang paman Rasulullah), melalui sebuah ekspedisi bernama Perang Yamamah di masa kepemimpinan Abu Bakar. Belakangan diketahui, keistimewaan Musailamah dari berdasarkan trik-trik sulap yg beliau pelajari pada pasar-pasar Abalah, Laqqah, Al-Anbar, & lain-lain. Seperti istilah Al-Jahizh, Musailamah memang menguasai teknik-teknik semacam Nayirjat (ilusi mata), Sadanah (trik yg dipakai para penjaga berhala buat mengelabui penyembahnya), Hawwa? (pawang ular), kecepatan tangan, & sebagainya.

Nabi berikutnya bernama Khalid bin Sinan al-Abbasi. Tidak seperti Musailamah, Khalid bukan insan yang gila kuasa. Ia pula jauh berdasarkan sifat seorang nabi palsu, meski status kenabiannya masih diperdebatkan.

Dalam al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam, Imam Ibn al-Jauzi menceritakan riwayat Ibn Abbas bahwa:

?Muncul barah pada sebuah lembah di antara Makkah dan Madinah. Sebagian orang menyembah api itu. Maka seseorang lelaki, berdasarkan klan Abbas, bernama Khalid bin Sinan, pergi memadamkannya. Sebelum itu dia sempat berpesan kepada sejumlah orang yg menemaninya,

?Kalau aku tewas, kuburkanlah saya pada loka itu. Sampai sekira satu tahun, datangilah makamku. Jika kalian melihat keledai tidak berekor, galilah makamku. Aku akan hidup lagi, & akan kuberi liputan pada kalian mengenai kebaikan global & akhirat.?

Api itu padam, Khalid wafat, dan sesudah setahun, tidak seorang pun memenuhi wasiatnya. Khalid pun dibiarkan terkubur begitu saja.?

Menurut al-Qurthubi dalam al-Jami? Li Ahkam al-Quran, barah yang dipadamkan Khalid saat itu terkenal menggunakan nama Nar al-Hadtsan (api peristiwa). Tidak seperti barah biasa, barah ini muncul menurut celah-celah gua (magharah) yang kerap melahap nyawa manusia. Syahdan, Khalid berhasil memadamkannya berkat bantuan Malaikat Malik, penjaga neraka.

Peristiwa itu terjadi sebelum Nabi diangkat menjadi Rasul. Maka sesudah keterutusan Nabi (bi?Tsah), tidak usang selesainya hijrah, seseorang wanita mendatangi dia, memperkenalkan diri, ?Saya anak Khalid bin Sinan?. Nabi bertanya, ?Khalid bin Sinan Al-?Abbasi?? Perempuan itu mengangguk. Nabi lantas menabikkan selamat datang kepadanya, & pada para sahabat, dia bersabda, ?Inilah putri saudaraku, Khalid bin Sinan, sosok Nabi yang disia-siakan oleh kaumnya (dhayya?Ahu qaumuh).?

Putri Khalid bin Sinan ini pun masuk Islam. Kelak, pada saat penaklukan kota Mesir, keliru satu putranya yg bernama Ka?Ab bin Yasar bin Dhannah ditawari menduduki jabatan Qadhi oleh Khalifah Umar bin Khattab. Sayang, seperti dikabarkan Imam Al-Suyuthi pada Husn al-Muhadharah fi Tarikh Mishra wa Qahirah, ia menolak.

Perdebatan soal kenabian Khalid bin Sinan bermula menurut penafsiran Al-Qur?An surat Al-Maidah ayat 19:

?Hai pakar buku sesungguhnya telah tiba kepadamu utusan Kami yang menyebutkan (syariat Kami) untukmu dalam waktu terputusnya (pengiriman) rasul-rasul.?

Pada umumnya, ahli tafsir memaknai diksi rasuluna dalam ayat di atas dengan Nabi Muhammad. Sebab beliaulah yg memutus mata rantai kekosongan rasul, atau lazim diklaim masa fatrah, pasca diutusnya Nabi Isa As. Ini misalnya ditunjukkan Syeikh Ibn ?Ajibah dalam al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Quran al-Majid, mengutip sebuah hadits pada Shahih Bukhari, Nabi bersabda, ?Aku lebih utama dari Isa di global juga pada akhirat, dan diantara kita berdua tidak terdapat Nabi.?

Agak tidak sinkron, Imam Al-Razi berpendapat bahwa rasuluna yg dimaksud ayat di atas merupakan Nabi yg diutus pada masa-masa fatrah, bukan Rasul yang memungkasi masa fatrah. Ini berarti masih ada Nabi dalam tempo-tempo jeda antara Nabi Isa & Nabi Muhammad.

Disokong sang antara lain riwayat Imam Al-Qurthubi dari Abi Khaitsamah & penafsiran Imam al-Zamakhsyari pada al-Kassyaf, Imam al-Razi mengutip pernyataan al-Kalabi, ?Nabi Musa & Nabi Isa berjarak 1700 tahun. Di antara mereka masih ada 2000 orang Nabi. Sementara jeda antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad adalah sekitar 600 tahun. Diantara mereka masih ada empat orang Nabi; 3 orang dari Bani Israel, dan satu orang berkebangsaan arab, yakni Khalid bin Sinan al-?Abbasi.?

Perdebatan wacana status kenabian sosok eksklusif sebetulnya tidak hanya terjadi pada Khalid bin Sinan. Bahkan pada figur-figur yang namanya dengan tegas diklaim dalam al-Quran pun terjadi ikhtilaf. Figur Lukman al-Hakim, umpamanya. Seperti diklaim pada al-Ma?Arif, karya Imam al-Dainuri, budak kulit hitam dari Habasyah kepunyaan salah seseorang Bani Israel itu umumnya tidak ditandai menjadi Nabi. Namun Said bin al-Musayyib, galat seorang Tabiin, menggunakan tegas menyatakan Lukman merupakan Nabi.

Yang menakjubkan merupakan belakangan timbul gagasan yang menyatakan bahwa Sidharta Gautama (atau kelak juga dikenal menjadi Budha) merupakan seorang muwahhid (monoteis). Bahkan, diantaranya dari Hamid Abdul Qadir, pengarang Budha al-Akbar; Hayatuhu wa Falsafatuh, beliau sebetulnya Nabiyullah Dzul Kifli.

Dalam agama Budha, Gautama atau Sakyamuni adalah mantan penguasa Kapilawastu yg melepas atribut duniawiah-nya. Ia lalu memperoleh kesadaran (ke-budha-an atau wahyu) sehabis ?Bertapa? Di bawah Pohon Bodhi.

Menurut al-Qasimi, pada Mafhum al-Tafsir wa al-Takwil alias Tafsir al-Qasimi, pohon bodhi yg dimaksud di situ merupakan apa yang disebut al-Quran sebagai syajarah tin (pohon tin) pada Surat al-Tin. Ini merupakan pohon nirwana yang ditanam bersamaan menggunakan Nabi Adam turun ke bumi.

Penafsiran al-Qasimi amat menarik, karena dalam tafsirnya, Imam Al-Qurthubi pernah menjelaskan bahwa lokasi pertama yang diinjak oleh Nabi Adam merupakan sebuah gunung bernama Budha, yg berada di Sarandib alias Srilanka. Salah seseorang putri Nabi Adam bernama Labudha, dan berkorelasi dengan kata Al-Budha. Menurut Imam Al-Alusi, pada Rauh al-Ma?Ani, nama anak Adam al-budha tersebut berarti pencerahan nalar. Imam Al-Kirmani juga menerangkan pendapat bahwa Dzul Kifli adalah semacam lelaki pertapa yang beribadah kepada Allah pada dalam goa.

Dari sini kemudian muncul teori bahwa Dzul Kifli sebetulnya bukan nama orang, melainkan laqab (julukan). Bagi Hamid Abdul Qadir, Kifli pada sana tak lain mu?Arrab (pengaraban) menurut Kapila, yang adalah kependekan menurut Kapilawastu. Dan menggunakan demikian, Dzul Kifli sebetulnya bermakna ?Yang empunya Kapilawastu? Atau ?Penguasa Kapilawastu?, yakni Sidharta Gautama.

Kalau analisis di atas sempurna, maka bukan tidak mungkin tokoh-tokoh yang diagungkan pada dunia timur, misalnya contohnya Konfusius atau Lao Tze atau bahkan Zoroaster, adalah pula Nabi. Hanya saja, di tangan para pengikutnya, syariat mereka lalu mengalami perubahan (hirafah). Dalam keyakinan Islam, bahkan kepercayaan -kepercayaan akbar macam Yahudi dan Nasrani, atau umumnya disebut kepercayaan samawi, pun mengalami penyimpangan. Itulah galat satu fungsi Islam, menjadi naskh (revisi) total atas syariat kepercayaan sebelumnya.

Di sinilah jua letak rasionalitas gagasan Kiai Agus Sunyoto, yang dalam bukunya Walisongo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, menyebut Dang Hyang Semar menjadi tokoh sejarah (yang diabadikan pada gambaran pewayangan) atau bahkan Nabi keturunan Adam yang diutus buat tanah Jawa. Ajaran yang dibawa sang Semar merupakan ajaran Tauhid bernama Kapitayan, yang menyifati Allah menjadi Tan Kena Kinaya Ngapa, Tan Kena Kinira (tidak bisa diperumpamakan, tidak bisa diperkirakan), seperti dengan ajaran laisa kamitslihi syai? Dalam Islam.

Orang sanggup saja nir konfiden dengan gagasan pada atas. Dalam hal Nabi Dzul Kifli, misalnya, terdapat poly penafsiran. Dalam Ma?Alim al-Tanzil, karya Imam al-Baghawi, Dzul Kifli diidentifikasi menjadi Yehezkiel (Hazkiyal), tokoh yang disebut dalam Perjanjian Lama. Imam Al-Maqdisi, pada al-Bad? Wa al-Tarikh, mengidentifikasi Dzul Kifli dengan Yusa? Bin Nun, orang yg menemani Nabi Musa dalam bepergian mencari Nabi Khidir. Sementara Imam Baihaqi, pada Dalail al-Nubuwwah, menyitir pendapat Imam Al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, guru Imam Sibawaih, bahwa:

?Terdapat lima nabi yang mempunyai dua nama; (1) Nabi kita Muhammad, yg jua bernama Ahmad; (dua) Isa dan Al-Masih; (3) Ya?Qub dan Israil; (4) Yunus dan Dzun Nun; (lima) Ilyas dan Dzul Kifli.?

Ilustrasi Sidharta Gautama

Demikianlah, menurut doktrin Ahlus Sunnah wal Jama?Ah, secara umum seseorang muslim harus mempercayai fenomena bahwa Allah mengutus Nabi & Rasul. Dalam konteks tafshil (jelas), orang hanya harus meyakini bahwa 25 orang yang disepakati sebagai Nabi adalah betul-betul Nabi, bukan tukang sihir atau tukang becak, umpamanya. Di sini, Dzul Kifli permanen mesti kita percaya menjadi Nabi, tak peduli siapa sebetulnya hakikat persona ini di dalam sejarah.

Satu hal sebagai kentara, manusia-insan digdaya yang lalu kita sebut menjadi Nabi itu pastilah membawa ayat-ayat, bukti kekuasaan Tuhan. Ini seperti termaktub pada al-Quran surat Ghafir ayat 78:

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum engkau , pada antara mereka terdapat yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka terdapat (juga) yg tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seseorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah.?

Wallahu a?Lam bis shawab.

Penulis: KH  Lukman Hakim Husnan, dosen STIQ Al-Lathifiyah Palembang.

Sumber: bangkitmedia.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Apakah Benar Sidharta Gautama Seorang Nabi?"