Teguran Rasulullah Kepada Sahabat Yang Berlebihan Dalam Beragama

?Sebaik-baiknya kasus merupakan yang tengah-tengah,? Kata Nabi Muhammad saw. Pada sebuah hadits.

Nabi Muhammad saw. Mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap moderat atau tengah-tengah dalam banyak sekali hal, termasuk dalam beragama. Tidak berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga melupakan kehidupan dunia. Ataupun sebaliknya. Semua harus dijalani secara seimbang & proporsional.

Suatu saat Nabi Muhammad saw. Pernah menegur Abdurrahman bin Amr bin Ash yg karena berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga mengabaikan istrinya. Abdullah bin Amr menghabiskan waktunya hanya buat shalat -baik wajib ataupun sunnah-, puasa, & dzikir. Dia tidak pernah sekedar beristirahat apalagi bergumul menggunakan istrinya.

Istri Abdullan bin Amr mengeluh dengan kelakuan suaminya yang lebih mementingkan ibadah & melupakan dirinya. Istri Abdullan bin Amr lalu mengadu kepada Nabi Muhammad saw. & menceritakan perilaku suaminya yang seperti itu. Nabi Muhammad saw. Lalu memanggil Abdullah bin Amr dan memerintahkan buat bersikap moderat. Tidak berlebih-lebihan pada beragama.

?Abdullah, aku itu pula seringkali menjalankan ibadah shalat, puasa dan ibadah lainnya. Tapi aku jua istirahat pula 'berkumpul' bersama istriku. Kalau dirimu beribadah terus tanpa memberi perhatian istrimu maka tidak kuakui sebagai umatku,? Istilah Nabi Muhammad saw.

Di lain ketika, hal yg sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. Kepada sahabatnya yg lain, Hanzhalah. Nabi Muhammad saw. Memerintahkan Hanzhalah buat berlaku moderat. Sebagaimana keterangan pada buku al-Musnad karya Imam Ahmad, dikutip menurut kitab Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari & Muslim, dalam waktu itu Nabi Muhammad saw. Membicarakan sebuah petuah kepada para sahabatnya pada sebuah majelis sehingga membuat hati mereka tersentuh dan menangis. Hanzhalah yg hadir pada kesempatan itu pula bergetar hatinya sampai menitikkan air mata.

Setelah majelis terselesaikan, Hanzhalah pergi ke rumah. Ia berbincang-bincang menggunakan istrinya mengenai hal ihwal duniawi. Perbincangan itu rupanya menciptakan Hanzhalah terbuai sehingga membuatnya melupakan apa yang sudah dia rasakan ketika bersama Nabi Muhammad saw. Di tengah dialog yg begitu seru menggunakan istrinya, Hanzhalah datang-tiba tersadar & segera ingat menggunakan apa yg beliau rasakan waktu bersama Nabi Muhammad saw. Pada majelis.

Hanzhalah merasa dirinya sudah melakukan kemunafikan. Alasannya, sebelumnya dia menangis sesenggukan dan hatinya bergetar saat mendengar petuah Nabi Muhammad saw., tetapi sesaat setelahnya dia menggunakan istrinya asyik menyampaikan hal-hal yg bersifat duniawi dan melupakan apa yg dirasakan waktu beserta Nabi Muhammad saw. Hanzhalah lalu menghadap pada Nabi Muhammad saw. Dia mengungkapkan pada Nabi Muhammad saw. Bahwa dirinya telah berbuat kemunafikan.

Di hadapan Nabi Muhammad saw., Hanzhalah membicarakan bahwa dirinya seharusnya selalu jangan lupa & merasakan perasaan yg sama ?Dimanapun dia berada- misalnya ketika berada dalam majelis bersama Nabi Muhammad saw. Yakni selalu bergetar hatinya & berlinang air matanya karena mendengar petuah Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, ia menduga dirinya telah melakukan kemunafikan karena hatinya ?Yg gampang berubah? Misalnya itu.

?Wahai Hanzhalah, jikalau kamu berada dalam syarat misalnya itu terus (hatinya bergetar & matanya berlinang), maka malaikat akan menjabat tanganmu pada jalan dan di pembaringanmu. Tetapi Hanzhalah, bersikaplah moderat, dengan terkadang serius, & terkadang rileks,? Kata Nabi Muhammad saw.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Teguran Rasulullah Kepada Sahabat Yang Berlebihan Dalam Beragama"