Mimpi Aneh Raja Yaman Tentang Diutusnya Nabi Muhammad

Kisah ini tentang tanda-tanda kenabian (dala?Il al-nubuwwah) Nabi Muhammad jauh sebelum beliau dilahirkan. Tanda-tanda kenabian tidak hanya muncul ketika seorang nabi sudah terpilih. Salah satunya adalah mimpi seseorang Raja Yaman, Rabi?Ah bin Nashr. Dalam al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam diriwayatkan:

?Imam Ibnu Ishaq mengatakan: Rabi?Ah bin Nasr, seseorang Raja Yaman di antara sekian poly raja-raja al-Tababi?Ah bermimpi melihat hal yang menyeramkan, lalu beliau memanggil semua dukun, tukang sihir, tukang ramal, & ahli nujum dari kerajaannya, sehabis berkumpul beliau berkata kepada mereka: ?Sesungguhnya aku bermimpi melihat hal yg menakutkanku, aku pun merasa ngeri dibuatnya. Oleh karenanya, jelaskan takwil mimpi itu kepadaku.? Mereka menjawab: ?Ceritakanlah kepada kami mimpi Baginda, maka kami akan mengungkapkan ta?Wil di pulang mimpi Baginda?. Rabi?Ah bin Nashr menyampaikan: ?Sesungguhnya apabila kuceritakan terlebih dahulu mimpiku pada kalian, saya nir akan merasa puas dengan penerangan kalian, lantaran sesungguhnya arti mimpiku tidak akan dimengerti selain sang orang yg mengetahuinya terlebih dahulu sebelum aku menceritakannya?. Kemudian mengatakan keliru seorang di antara mereka: ?Apabila itu yang dikehendaki Baginda, seharusnya Baginda mengutus seseorang buat memanggil Syathih dan Syiqq, karena tidak terdapat seorang pun yg lebih berpengetahuan mengenai hal ini dibandingkan mereka berdua, keduanya akan mengungkapkan apa yg baginda tanyakan?.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hal. 31-32)

Setelah mengalami mimpi itu, ia mengutus seorang untuk mengundang Syathih dan Syiqq. Syathih tiba lebih dulu & pribadi menghadap Raja Rabi?Ah bin Nashr. Sang raja mengatakan pada Syathih:

?Sesungguhnya aku mengalami mimpi yg mengerikan, jelaskanlah arti mimpi itu kepadaku. Apabila engkau berhasil mengetahui mimpi angker itu, kamu pasti sanggup memberikan ta?Wilnya.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hal. 31-32)

Dengan hening Syathih memprediksi mimpi menyeramkan yg dialami Raja Rabi?Ah bin Nashr. Ia mengungkapkan:

?Akan kulakukan, saya melihat sebuah gumpalan hitam (arang) yg keluar berdasarkan tempat gelap yang lalu jatuh ke tanah yang datar & melahap semua makhluk hidup.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hal. 32)

Raja Rabi?Ah bin Nashr membenarkan tebakan Syathih, kemudian ia bertanya: ?Apa ta?Wil mimpi itu menurutmu??. Syathih menjawab:

?Aku bersumpah demi siang dan malam, bahwa orang-orang Habsyi pasti menginjak negeri kalian, mereka niscaya menguasai wilayah antara Abyan sampai Juras.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, jus 1, hal. 33)

Rabi?Ah bin Nashr terkejut sambil berkata: ?Sungguh, hal ini sangat menyakitkan kita semua, kapan itu akan terjadi? Pada masaku atau setelahku??. Syathih menjawab: ?Tidak pada masa Baginda, akan tetapi setelahnya, enam puluh atau tujuh puluh tahun yang akan tiba?. Rabi?Ah kembali bertanya: ?Apakah daerah tadi berada dalam kekuasaan mereka selama-lamanya??. Syathih menjawab: ?Tidak. Daerah tersebut berada pada kekuasaan mereka kurang lebih tujuh puluh tahun lebih, sehabis itu mereka dibunuh dan lari dengan terbirit-birit.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hal. 33)

?Siapa yang membunuh dan mengusir mereka?? Tanya Rabi?Ah bin Nashr. Syathih menjawab: ?Orang itu merupakan Iram Dzi Yazan, dia mendatangi mereka dari Adn dan tidak meninggalkan seorang pun dari mereka pada Yaman.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, jus 1, hal. 33)

Rabi?Ah bin Nashr melanjutkan pertanyaannya: ?Apakah wilayah-daerah tersebut berada pada kekuasaannya atau tidak??. Syathih menjawab: ?Tidak.? Rabi?Ah bin Nashr balik terkejut sembari bertanya: ?Siapa orang yang mengakhirinya??.

Syathih mengungkapkan: ?Seorang nabi yg suci, yg memperoleh wahyu menurut Dzat Yang Maha Tinggi. Rabi?Ah bin Nashr bertanya: ?Darimana nabi itu asal??. Syathih menjawab: ?Ia merupakan galat seorang keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadlr, kekuasaan berada pada genggaman kaumnya sampai global berakhir?. Rabi?Ah mengatakan: ?Apakah dunia memiliki akhir??. Syathih menjawab: ?Iya, sebuah hari di mana insan generasi pertama sampai generasi terakhir dikumpulkan di dalamnya. Pada hari itu, orang-orang yang selalu berbuat baik akan bahagia & orang-orang yang jahat akan celaka?. Rabi?Ah bertanya lagi: ?Apakah benar apa yang engkau jelaskan kepadaku??. Syathih menjawab: ?Ya, demi sinar merah waktu matahari tenggelam, demi malam yg gelap gulita, demi subuh bila fajar sudah menyingsing. Sesungguhnya apa yang kuceritakan kepadamu merupakan kebenaran sejati?.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hal. 33)

Setelah Syathih mohon diri pergi, Rabi?Ah bin Nashr meminta Syiqq buat menghadap. Ia menanyakan hal yg sama pada Syiqq menggunakan tujuan untuk mengetahui apakah jawaban keduanya sama atau nir. Jawaban Syiqq pun hampir sama menggunakan Syathih. Perbedaannya hanya dalam pemilihan kata dan penyebutan daerah, misalnya nama Najran yg tidak sinkron dengan Juras dalam perkataan Syathih. Untuk contoh pemilihan istilah yg tidak selaras adalah waktu Rabi?Ah bin Nashr bertanya: ?Apakah kekuasaannya akan bertahan selamanya atau tidak??. Syiqq menjawab: ?Kekuasaannya akan dihentikan sang seseorang Rasul yg diutus menggunakan membawa kebenaran & keadilan, di antara orang-orang beragama dan orang-orang mulia, kekuasaan akan berada di genggaman kaumnya sampai hari pengadilan (yaum al-fashl).? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hal. 34)

Dari segi tata bahasa, Syiqq memiliki kemampuan berbahasa yang jauh lebih indah menurut Syathih, seperti penjelasannya yg sangat indah saat menjawab pertanyaan Rabi?Ah bin Nashr: ?Apa hari pengadilan itu??. Dengan latif Syiqq mengatakan: ?Hari Pengadilan merupakan hari pada mana para penguasa menerima balasan perbuatannya, hari di mana seruan dikumandangkan menurut langit, hari di mana seruan terdengar sang seluruh makhluk hidup dan yang telah meninggal, hari pada mana insan dikumpulkan buat ketika yang sudah ditetapkan, hari di mana keberuntungan dan kebaikan sebagai milik orang-orang yang bertakwa.? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, jus 1, hal. 34)

Setelah mendengar ta’wil Syathih dan Syiqq, Rabi’ah bin Nashr terus memikirkannya, takut jika semuanya benar-benar terjadi. Syathih dan Syiqq adalah  peramal/dukun yang sangat terkenal kesaktiannya. Kata-kata mereka tidak bisa dipandang remeh. Imam Wahb bin Munabbih meriwayatkan bahwa Syathih pernah ditanya:

?Dari mana engkau (menerima) pengetahuan ini?? Syathih menjawab: ?Aku mempunyai teman menurut (golongan) jin yg ikut mendengarkan kabar-informasi langit di gunung Tursina di saat Allah berbicara kepada Musa. Dia (jin) menyampaikan liputan-keterangan langit itu kepadaku (seperti) yang disampaikan Allah kepada Musa.? (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf, juz 1, hal. 60-61)

Dengan pertimbangan masak, Raja Rabi?Ah bin Nashr memutuskan buat memindahkan keluarganya ke Irak supaya terhindar menurut kehancuran yang akan didatangkan sang orang-orang Habsyi. Imam Ibnu Hisyam menulis:

?Ucapan Syathih & Syiqq menghipnotis diri Rabi?Ah bin Nashr, maka beliau siapkan anak-anak & keluarganya (pindah) ke Irak demi kebaikan mereka. Ia menulis surat buat mereka (berikan) pada raja menurut kerajaan Persia, bernama Sabur bin Hurrazad, lalu keluarganya menetap pada Hirah (sekarang Kufah).? (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, hal. 35)

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Mimpi Aneh Raja Yaman Tentang Diutusnya Nabi Muhammad"