Kisah Tangisan Seorang Kiai Atas Kematian Burung Beonya

Seorang kiai memiliki seekor burung Beo yang sangat cerdas. Burung itu bisa menirukan banyak sekali macam suara termasuk mampu mengungkapkan-kata layaknya insan. Sang kiai pun melatih burung kesayangannya buat mengucapkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah.

Dalam saat singkat burung kesayangannya ini bisa mengucapkan kalimat tauhid menggunakan fasih dan lancar. Setiap hari pun si burung terus mengucapkan kalimat tauhid & menghiasi hari-hari kediaman sang kiai. Suasana pun semakin sejuk dan semakin mengakibatkan oleh kiai tambah cinta kepada si burung.

Namun tiba-tiba suatu hari terdengar suara "keak… keak… keak!!" yang terdengar oleh sang kiai. Bergegas ia menuju sumber suara yang terdengar dari tempat biasa ia menempatkan burung Beonya setiap hari. Alangkah kagetnya sang kiai. Seekor kucing  telah menerkam dan memakan burung kesayangannya sampai terdengar suara parau terakhir dari si burung.

Sejak kematian burung Beonya, sang kiai pun jadi sering terlihat sedih. Ia pun sering mengunci dirinya pada kamar pribadinya & sporadis mengajak para santrinya berbicara. Kondisi ini membuat para santri heran dan bersedih.

Akhirnya, para santri pun sepakat buat mencari ganti burung Beo kesayangan kiai dengan burung lainnya yg lebih mengagumkan. Mereka setuju buat mengumpulkan uang dan membelikannya di pasar burung agar sang kiai tidak bersedih dan bermuram durja.

"Pak kiai...," ucap keliru satu santri tertua mengawali niatnya mengungkapkan output kesepakatan beserta para santri lainnya.

"Kami sangat bersedih menggunakan kematian burung Beo pak kiai... Izinkanlah kami membeli burung Beo yang baru agar pak kiai tidak terus menerus bersedih hati!? Ungkap sang santri sembari menundukkan kepala lantaran merasa takut bila sang kiai nir berkenan.

Sang kiai menghela nafas seolah ingin melepaskan beban yg dia rasakan selama ini. Kemudian ia pun memberikan penerangan kenapa ia murung & mengunci diri pada kamar setelah kematian burung Beo nya.

"Wahai para santriku... Bukannya aku sedih dengan matinya burung beo kesayanganku. Bukannya aku nir ingin mencari ganti burung Beo yg lebih baik dan lebih pandai . Terus jelas saya nir sesedih itu menggunakan matinya burung Beo itu," istilah sang kiai yg menciptakan semakin heran para santrinya.

Burung Beo

Setelah terdiam beberapa usang, sang kiai melanjutkan ungkapan hatinya pada para santri yang memenuhi aula tempat mereka umumnya mengaji.

"Yang saya sedihkan merupakan isyarat yg diberikan Allah lewat kematian burung Beo itu. Coba kalian renungkan, burung Beo itu sudah fasih berkata Laa Ilaha Illallah. Namun waktu diterkam kucing & mati, yang terakhir keluar berdasarkan mulutnya adalah suara keak.. Keak.. Keak!" ungkapnya.

"Aku takut bila nasibku nanti waktu dipanggil Allah balik kepada-Nya akan seperti burung Beo itu. Semasa hayati biasa mendzikirkan kalimat thayyibah itu, namun ketika mati global mulut ini nir mengucapkan kalimat itu. Malah mengucapkan yg lainnya,? Sambungnya.

Para santri pun tertunduk semua sambil merenungi perkataan sang kiai. Tak terasa air mata para santri keluar sambil lirih terdengar bunyi istighfar di ruang tadi.

Semoga kita diberikan rahmat Allah dan pulang kepada-Nya pada keadaan Husnul Khatimah. Amin.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Tangisan Seorang Kiai Atas Kematian Burung Beonya"