Kisah Sahabat Anas bin Malik Saat Menolak Perintah Nabi

Dalam kitab Sunan Abi Dawud, Imam Abu Dawud Sulaiman memasukkan sebuah riwayat menarik tentang Sayyidina Anas & Rasulullah shallallahu ?Alaihi wasallam. Berikut riwayatnya:

Anas bin Malik mengatakan: ?Rasulullah shallallahu ?Alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari dia mengutusku buat suatu keperluan, aku menyampaikan: ?Demi Allah, aku tidak akan pulang (mengerjakan perintahnya)?. Padahal diriku sebenarnya ingin pulang melaksanakan apa yg diperintahkan Nabi Allah shallallahu ?Alaihi wasallam kepadaku.?

Anas berkata: ?Lalu saya keluar (tempat tinggal ). Aku melewati sekumpulan anak-anak yg sedang bermain pada pasar, datang-tiba Rasulullah shallallahu ?Alaihi wasallam memegang tengkukku dari belakang, saya melihat kepadanya, & dia sedang tertawa, kemudian menyampaikan: ?Wahai Anas, pergilah sebagaimana yg kuperintahkan padamu (tersebut).? Aku menjawab: ?Baik, saya akan pergi (melaksanakannya), ya Rasulullah.?

Anas menyampaikan: ?Demi Allah, telah tujuh atau sembilan tahun saya mengabdi kepadanya, aku tidak pernah (mendengarnya mengomentari) kesalahan yg kulakukan dalam mengerjakan sesuatu menggunakan berkata: ?Kenapa kamu melakukannya begini dan begini,? Atau mengomentari (kelalaianku) melakukan sesuatu dengan berkata: ?Kenapa kamu tidak melakukan ini dan ini.? (Imam Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, juz 4, hal. 246-247)

Sayyidina Anas bin Malik berasal dari suku Najjar, salah satu klan berdasarkan suku Khajraz di Yatsrib (Madinah). Ayahnya bernama Malik bin Nadhr meninggal sebelum memeluk Islam, lalu ibunya, Ummu Sulaim, menikah lagi dengan Sayyidina Abu Thalhah al-Anshari, seseorang teman nabi yang turut serta dalam Bai?At al-?Aqabah yg ke 2. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, poly orang yg memberinya bantuan gratis, akan tetapi Ummu Sulaim nir bisa mengupayakan itu. Dalam salah satu riwayat yang disampaikan oleh Imam Tirmidzi diceritakan:

?Rasulullah tiba ke Madinah saat saya berusia delapan tahun, lalu ibuku menggandeng tanganku & membawaku dalam Rasulullah, dia berkata: ?Wahai Rasulullah, tidak seseorang laki-laki & wanita pun menurut kaum Anshar yg tiba kepadamu kecuali memberi hadiah untukmu, sedang saya tidak mampu memberimu hibah kecuali anakku ini. Ambillah, supaya dia sanggup melayanimu.? Anas mengatakan: ?Aku mengabdi dalam Rasulullah sepuluh tahun lamanya, nir pernah sekalipun dia memukul, mencaci atau berwajam masam kepadaku.? (Imam al-Dzahabi, Siyar A?Lam al-Nubala?, juz tiga, hal. 399)

Riwayat ini menampakan bahwa Sayyidina Anas adalah anak mini yg mempunyai dunianya sendiri, gemar bermain dan bersenang-bahagia. Andaipun disuruh melakukan sesuatu, tanpa segan ia mengatakan, ?Tidak?, meski yg menyuruhnya adalah Rasulullah. Ini bukan hal yg aneh, lantaran begitulah anak mini . Yang menarik pada sini adalah cara bersikap Rasulullah. Mendengar kalimat, ?Aku nir akan pergi melakukannya,? Beliau nir menampakkan kemarahan, berwajah masam dan menghardiknya dengan keras, tapi meninggalkannya. Baru lalu, waktu beliau menjumpai Sayyidina Anas pada pasar, beliau memegang tungkuknya & mengatakan, ?Wahai Anas, pergilah sebagaimana yg kuperintahkan padamu (tadi).?

Dan Sayyidina Anas menjawab, ?Baik, saya akan pergi (melaksanakannya), ya Rasulullah.? Ini menarik, lantaran Rasulullah nir bertanya, ?Apa kau telah melaksanakan perintahku?? Jika Rasulullah menanyakan itu, sanggup jadi Sayyidina Anas galau menjawabnya, lantaran beliau belum melakukannya, bisa saja pertanyaan semacam itu membuatnya terpojok dan akhirnya berbohong. Lantaran itu, Rasulullah menggunakan pendekatan teladan yg baik dan gampang dimengerti oleh anak kecil, didukung dengan wajah dia yg sama sekali tidak menerangkan kemarahan, malah tertawa tanggal tanpa beban.

Makam Sahabat Anas bin Malik

Hal menarik lainnya adalah jeda yang diberikan Rasulullah. Ketika perintahnya ditolak Sayyidina Anas, dia memberinya ruang supaya ia nir merasa ditekan. Anak kecil tentunya tidak selaras menggunakan orang dewasa. Bagi anak mini , ancaman dirasakan menjadi tekanan, karena fitrahnya memang senang bermain-main. Lantaran itu, selama sepuluh tahun melayaninya, Rasulullah nir pernah sekalipun berkata kasar dan menyalahkannya. Sayyidina Anas bercerita:

?Aku melayani Rasulullah shallallahu ?Alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Tidak seluruh pekerjaanku sinkron menggunakan perintah beliau, (akan tetapi) dia nir pernah berkata kepadaku (karena ketidak-becusanku) ?Ah/dasar?, dan nir pernah (juga) berkata padaku, ?Kenapa kamu lakukan ini?? Dan ?Kenapa nir kamu lakukan (seperti) ini?? (HR. Ahmad)

Artinya, Rasulullah sedang mendidik Sayyidina Anas menggunakan keteladanan, sehingga kesan yang ditangkap olehnya merupakan kelembutan pekerti & kemuliaan akhlak. Sikap Rasulullah inilah yang menumbuhkan rasa nir enak hati secara alami dalam perasaan Sayyidina Anas. Lantaran selama bertahun-tahun bersama Rasulullah, dia nir pernah merasa dipertentangkan menggunakan keadaan yg membuatnya berbohong, dan dibandingkan dengan anak kecil lainnya hingga menyebabkan perasaan kurang dihargai. Sikap Rasulullah ini memberitahuakn bahwa global anak-anak adalah global yg tidak sanggup dipandang secara menyeluruh menggunakan perspektif orang dewasa.

Lantaran itu, Rasulullah memperlakukan Sayyidina Anas sebagai anak kecil, bukan sebagai orang dewasa, sebagai akibatnya apapun kesalahan yang dilakukannya, dia tidak menyalahkannya, tapi memberinya model yg sahih. Nasihat & istilah-istilah memang berarti, akan tetapi bagi anak-anak, model keteladanan jauh lebih terasa adalah. Ini bisa dicermati menurut sekian poly riwayat yang menceritakan bagaimana Rasulullah bergaul menggunakan anak kecil, baik cucunya sendiri, maupun orang lain, termasuk Sayyidina Anas.

Pada akhirnya, Sayyidina Anas bin Malik menjadi maha pengajar. Ia meriwayatkan ribuan hadits, memiliki poly siswa, & menjadi penjaga ilmu. Menurut satu pendapat, ia meriwayatkan sekitar 2.286 hadits, dengan murid yg sangat poly. Ia mempunyai poly anak dan umur yg panjang, sebagaimana doa Rasulullah untuknya, saat ibunya meminta Rasulullah mendoakannya, ?Ya Allah, perbanyaklah harta & anaknya, panjangkanlah umurnya, dan ampunilah dosanya.? (Imam Ibnu al-Jauziy, Shifat al-Shafwah, juz 1, hal. 278)

Sayyidina Anas bin Malik wafat pada usia yg sangat tua karena penyakit kusta. Mengenai pada usia berapa dia mati, para ulama tidak sama pendapat. Abu Ubaid, Qatadah, Hamid dan al-Haitsam bin ?Adi berpendapat Anas mangkat di usia 91 tahun; al-Waqidi beropini di usia 92 tahun; Ibnu ?Aliyah, Sa?Id bin ?Amir, dan Abu Nu?Aim berpendapat di usia 93 tahun; pendapat lainnya berkata pada usia 103 atau 107 tahun (Imam al-Dzahabi, Siyar A?Lam al-Nubala?, juz tiga, hal. 406-407).

Intinya, kita wajib memperlakukan anak kecil sebagai anak mini . Jangan paksakan padangan orang dewasa pada mereka. Karena standar kebenaran anak mini , belum semapan orang dewasa. Kebenaran bagi mereka masih berganti-ganti, sinkron selera kesenangan mereka. Di samping itu, kita pula harus mengedepankan keteladanan pada berteman dengan mereka. Nasihat dan penerangan permanen wajib dilakukan, akan tetapi keteladanan tak bisa ditinggalkan. Bukankah demikian seharusnya?

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Kisah Sahabat Anas bin Malik Saat Menolak Perintah Nabi"