Ketika Nabi Musa Ditanya, Dimana Keadilan Allah?

Seorang pemuda yang masih belia tampak begitu kelelahan & kehausan. Maka tatkala tiba pada suatu oase yg bening airnya menggunakan tanaman rindang pada sekelilingnya, penunggang kuda itu menghentikan kudanya & turun di loka tersebut. Ia berbaring, lalu meletakkan sebuah bungkusan pada sampingnya.

Matahari sangat terik, namun di situ amat teduh, sebagai akibatnya tanpa sengaja ia tertidur pulas sesudah memuaskan dahaganya menggunakan meminum air bening di oase tersebut.

Ketika beliau terjaga, surya mulai condong. Ia sedang mengejar ketika karena ibunya sakit keras. Tampaknya dia anak seorang yg kaya raya, terlihat menurut pakaiannya yang glamor dan kudanya yang mahal. Dengan tergesa-gesa beliau melompat ke punggung kuda & bungkusannya tertinggal karena dia hanya berpikir untuk segera datang di rumah menunggui ibunya yg sedang sekarat. Bapaknya sudah meninggal dibunuh orang beberapa tahun yang kemudian.

Tidak usang setelah ia meninggalkan loka tersebut, seseorang penggembala lewat di loka tadi. Ia terkesima melihat ada sebuah bungkusan kain tergeletak di bawah pohon. Diambilnya bungkusan itu, lalu dibawanya pergi ke gubuknya yang buruk.

Alangkah gembiranya hati si anak gembala tersebut tatkala melihat bungkusan tadi ternyata isinya emas dan perak yang sangat berharga. Ia yatim piatu dan masih kecil sebagai akibatnya penemuan itu di anggapnya merupakan hadiah baginya.

Tak berapa lama , seseorang kakek yang sudah bungkuk berjalan terseok-seok melalui oase tersebut. Lantaran kelelahan dia beristirahat di bawah pohon yg rimbun. Belum sempat dia melepas lelah, anak belia penunggang kuda yang tertidur sebelumnya pada bawah pohon tadi datang hendak merogoh bungkusan yg tertinggal.

Tatkala dia sampai, alangkah terkejutnya pemuda tersebut melihat bahwa di pohon tadi nir lagi menemukan bungkusan kain. Yang nampak hanyalah seseorang kakek. Maka pemuda itu menggunakan bunyi keras bertanya kepada si kakek, ?Mana bungkusan yang tersebut pada sini??

?Saya nir memahami,? Jawab kakek menggunakan gemetar.

?Jangan bohong!? Bentak si Pemuda.

?Sungguh, saat saya datang pada sini, tidak terdapat apa-apa kecuali kotoran kambing,? Jawab si kakek.

?Kurang ajar! Kamu mau mempermainkan aku ? Pasti engkau yang mengambil bungkusanku & menyembunyikan pada suatu loka. Ayo kembalikan!?

?Bungkusan itu baru kuambil menurut kawan ayahku menjadi warisan yang telah dititipkan ayahku kepadanya buat diserahkan kepadaku bila saya sudah dewasa, yaitu kini ini. Kembalikan!? Lanjut si Pemuda

?Sumpah tuan, saya nir tahu,? Sahut kakek tersebut makin ketakutan.

?Kurang ajar! Bohong! Ayo serahkan pulang. Bila nir, memahami rasa nanti? Hardik Pemuda tersebut.

Lantaran kakek itu nir memahami apa-apa, maka beliau permanen bersikeras tidak melihat bungkusan tersebut. Si Pemuda nir bisa bisa mengendalikan kemarahannya lagi. Dicabutnya pedang pendek menurut pinggangnya dan akhirnya kakek tadi dibunuhnya. Setelah itu beliau mencari kesana-kemari mencari bungkusan yg beliau tinggalkan. Akan tetapi tidak ditemukan. Setelah itu beliau naik ke punggung kuda dan memacunya ke rumahnya dengan perasaan murka & kecewa.

Berita ini ditanyakan pada Nabi Musa sang galat seseorang muridnya.

?Wahai Nabiyullah, bukankah cerita tersebut justru menandakan ketidakadilan Allah??

?Maksudmu ?? Tanya Nabi Musa.

?Kakek itu nir berdosa tetapi menanggung malapetaka yang nir patut diterimanya. Sedangkan si anak gembala yg mengantongi harta tadi malah bebas tidak menerima balasan yg setimpal?.

?Menurutmu Tuhan nir adil ?? Ucap Nabi Musa terbelalak.

?Masya Allah. Dengarkan baik-baik latar belakang ceritanya?. Kemudian Nabi Musa pun bercerita.

?Ketahuilah, dahulu terdapat seorang petani hartawan dirampok seluruh perhiasan mal miliknya sang dua orang bandit yang kejam. Setelah berhasil merampok, harta itu dibagi 2 sang perampok tadi. Dalam pembagian harta rampokan tadi terjadi kecurangan oleh galat seorang bandit yang tamak sebagai akibatnya harta rampokkan tadi dikuasainya sendiri sesudah membunuh kawannya. Bandit yg tamak itu merupakan kakek yg dibunuh sang pemuda tersebut. Sedangkan bandit yang dibunuh oleh kakek itu merupakan ayah berdasarkan pemuda yg membunuh kakek tadi. Di sini berarti nyawa dibayar nyawa. Sedangkan petani yang hartawan itu adalah ayah menurut si pemuda gembala tersebut yg merogoh bungkusan kain tadi. Itulah keadilan Tuhan. Harta kekayaan sudah balik kepada yg berhak & kejahatan 2 bandit tadi telah memperoleh balasan yg setimpal. Meskipun peristiwanya nir berlangsung sempurna pada masanya?.

Hikmah Yang Bisa Dipetik Dari Kisah Diatas

Marilah kita melihat sejenak ke belakang. Ke masa lalu. Apakah kita pernah melakukan sebuah kesalahan? Minta maaf lah. Carilah ridho dari orang yg pernah kita dzalimi. Mungkin bukan kita yang akan merasakan efek buruk kesalahan kita. Bisa jadi anak kita ataupun cucu-cucu kita.

Apapun yang telah kita lakukan entah itu merupakan sebuah kebaikan ataupun sebuah keburukan. Pasti akan terdapat balasan yang setimpal bagi para pelakunya.

Allahumma Shalli ?Alaa Sayyidina Muhammad Wa ?Alaa Aali Sayyidina Muhammad.

Penulis: Muhammad Alfatih Sukardi

Sumber: bangkitmedia.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Ketika Nabi Musa Ditanya, Dimana Keadilan Allah?"