Enam Adab Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali

Pada bulan Ramadhan umat Islam di seluruh global diwajibkan berpuasa sebagaimana umat-umat sebelumnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanu wa ta?Ala pada surah Al-Baqarah ayat 183 menjadi berikut:

?Hai orang-orang yg beriman, diwajibkan atas engkau berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian supaya kamu bertakwa.?

Ibadah puasa nir hanya memiliki ketentuan hukum yg menentukan sah tidaknya, namun pula mempunyai adab eksklusif yang berpengaruh terhadap pahala yang diterima oleh seorang. Artinya adab berpuasa sangat krusial untuk diperhatikan lantaran memilih kualitas ibadah ini di hadapan Allah subhanu wa?Ta?La sebagaimana nasihat Imam Al-Ghazali pada risalahnya berjudul al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali hal. 439, menjadi berikut:

?Adab berpuasa, yakni: mengonsumsi makanan yg baik, menghindari perselisihan, menjauhi ghibah (menggunjing orang lain), menolak bohong, nir menyakiti orang lain, menjaga anggota badan berdasarkan segala perbuatan jelek.?

Keenam adab sebagaimana disebutkan pada atas akan diuraikan satu per satu berikut ini:

Pertama, mengonsumsi makanan yang baik. Selama berpuasa, khususnya di bulan Ramadhan, makanan yang sebaiknya kita konsumsi adalah makanan yang baik atau halalan thayyiba. Makanan yang baik tidak identik dengan makanan yang lezat atau mahal, tetapi adalah makanan yang baik bagi kesehatan dan tentu saja juga halal secara syar’i. Beberapa makanan dikenal sangat lezat seperti cumi-cumi, rempelo, hati, otak dan sebagainya. Tetapi semua makanan  ini mengandung protein sangat tinggi yang dalam jangka pendek atau panjang bisa merugikan kesehatan khususnya bagi mereka yang telah mengidap kelesterol tinggi.

Beberapa makanan yang baik kita konsumsi selama Ramadhan, disamping makanan pokok seperti nasi atau lainnya, adalah  kurma, madu, sayuran,  daging, ikan, dan lain sebagainya. Intinya adalah makanan yang secara kesehatan baik untuk dikonsumsi dan juga halal secara syar’i. Syukur-syukur makanan itu ada tuntunannya di dalam agama baik berdasarkan Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  seperti madu dan kurma sebagaimana telah disebutkan di atas.

Kedua, menghindari perselisihan. Pertengkaran atau perselisihan bisa terjadi kapan saja. Tetapi orang-orang berpuasa sangat dianjurkan menjaga kesucian bulan Ramadhan dengan tidak melakukan pertengkaran. Untuk itu diperlukan kesadaran penuh untuk menahan diri dari emosi yang dapat menjurus pada pertengkaran. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini:

?Dan jika seorang mengajak bertengkar atau mencela maka katakanlah, ?Sesungguhnya aku sedang berpuasa?. (Ucapkan hal ini dua kali).?

Jadi ungkapan “Aku sedang berpuasa” sebagaimana dimaksudkan dalam hadits di atas adalah untuk menyatakan ketidaksanggupan kita untuk berselisih atau bertengkar dengan pihak lain di bulan Ramadhan.  Intinya kita sangat dianjurkan untuk bisa menjaga perdamaian dan kerukunan bersama di saat kita sedang berpuasa.

Ketiga,  menjauhi ghibah/menggunjing orang lain. Menggunjing orang lain di luar bulan Ramadhan saja tidak baik, apalagi selama puasa di bulan suci ini. Tentu dosanya lebih besar dan dapat menghilangkan pahala berpuasa itu sendiri. Oleh karena itu setiap orang yang berpuasa perlu menyadari hal ini sehingga bisa bersikap hati-hati dalam menjaga lisannya.

Lisan memang merupakan salah satu organ manusia yang paling banyak mendatangkan dosa apabila kita tidak berhati-hati. Artinya banyak dosa yang diakibatkan ketidakmampuan kita menjaga lisan, seperti menggunjing, memfitnah dan sebagainya.  Semakin baik kita menjaga lisan, semakin banyak keselamatan kita dapatkan. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan Imam Bukhari sebagai berikut:

?Keselamatan manusia bergantung pada kemampuannya menjaga lisan.?

Keempat, menolak dusta. Menolak berkata dusta merupakan hal penting sebab sekali berdusta kita akan cenderung berdusta lagi untuk menutupi dusta sebelumnya. Di saat puasa,  kita harus mampu menghindari berkata dusta karena dusta dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala berpuasa. Juga, kita harus mampu menahan diri dari melakukan sumpah palsu sebab hal ini juga dapat merusak kualitas ibadah puasa kita. Tentu saja tidak hanya kualitas ibadah puasa kita menjadi menurun akibat dusta dan bersumpah palsu, tetapi juga kita akan mendapatkan dosa yang lebih besar.

Hal tersebut sebagaimana disinggung Rasulullah pada haditsnya yg diriwayatkan sang Imam Thabrani menjadi berikut:

?Takutlah kalian terhadap bulan Ramadhan lantaran pada bulan ini, kebaikan dilipatkan sebagaimana dosa pula dilipatgandakan.?

Kelima, tidak menyakiti orang lain. Menyakiti orang lain baik secara fisik maupun secara verbal merupakan perbuatan tercela. Setiap perbuatan tercela berdampak langsung terhadap kualitas ibadah puasa kita. Ibadah puasa yang kita jalani dengan susah payah dengan menahan dahaga dan lapar dari pagi dini hari hingga saat Maghrib,  akan sia-sia tanpa pahala apabila kita tidak mampu menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Menyakiti orang lain merupakan kezaliman dan oleh karenanya merupakan kemaksiatan.

Oleh karena itu, betapa pentingnya selalu mengingat bahwa pada pada bulan Ramadhan kita benar-sahih harus bisa menjaga mulut agar nir sekali-kali menggunakannya untuk menyakiti orang lain misalnya memfitnah, menghina dan lain sebagainya.

Keenam, menjaga anggota badan dari segala macam perbuatan buruk. Di bulan Ramadhan khususnya, hendaklah kita dapat menjaga tangan kita agar tidak kita gunakan untuk maksiat seperti memukul orang lain ataupun mencuri, dan sebagainya. Kaki juga harus kita jaga sebaik mungkin dengan tidak menggunakannya untuk pergi ke tempat-tempat tertentu untuk berbuat maksiat dan sebagainya. Demikian pula mata dan telinga kita hendaklah selalu kita jaga sebaik-baiknya agar tidak kita gunakan untuk melakukan perbuatan maksiat yang dosanya dilipatkan dalam bulan suci ini.

Singkatnya, jangan sampai kita berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain haus & dahaga saja karena banyak melanggar adab berpuasa sebagaiamana dikhawatirkan Rasululllah shallallahu ?Alaihi wasallam pada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad sebagai berikut:

?Banyak orang yg berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa pun selain daripada lapar dan dahaga.?

Semoga kita seluruh termasuk orang-orang yang mendapat rahmat & pertolongan dari Allah subhanahu wata?Ala sehingga ibadah puasa tahun ini akan dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya tanpa melanggar ketentuan hukum dan adab berpuasa. Dengan cara ini insya Allah puasa kita akan diterima oleh Allah subhanahu wata?Ala dan menerima ampunan-Nya yg sebesar-besarnya. Amin ya rabbal alamin.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Enam Adab Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali"