Cara Melatih Hati Agar Tidak Rakus Harta Benda

Selama ini banyak orang yang keliru paham atau galat mengartikan sifat zuhud. Zuhud bukan berarti tidak boleh kaya. Zuhud jua bukan harus hayati miskin dan meninggalkan segala gemerlap kehidupan dunia. Karena bagaimanapun tidak ada larangan bagi umat Islam buat meraih kekayaan setinggi-tingginya. Asal cara memperoleh dan penggunaannya sinkron dengan ajaran Islam.

Sikap zuhud harus sebagai pondasi kuat insan di tengah kehidupan duniawi yang penuh dengan rasa cinta dan ambisi terhadap materi. Menurut Wahib bin Ward, zuhud terhadap global merupakan tidak merasa putus asa manakala terdapat global (mal) terlepas berdasarkan genggaman dan tidak merasa bahagia jika ada global tiba. Sementara Ibnu ?Ajibah memaknai zuhud menjadi terbebasnya hati menurut ketergantungan selain kepada Allah.

Sederhananya, zuhud adalah melenyapkan keterkaitan hati dengan harta. Sehingga zuhud bukan berarti tidak kaya. Juga tidak identik dengan miskin. Orang kaya belum tentu tidak zuhud. Orang miskin juga belum pasti memiliki sikap zuhud. Karena zuhud adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan lahiriyah.  Sehingga yang mengetahui apakah dia zuhud atau tidak adalah dirinya sendiri, dan tentu saja Allah swt.

?Jangan kalian mengungkapkan bahwa seorang mempunyai sifat zuhud. Lantaran keberadaan zuhud merupakan di hati,? Kata Abu Sulaiman ad-Darani.

Imam Ahmad membagi zuhud ke dalam 3 tingkatan. Pertama. Tingkatan zuhud orang awam. Pada tingkatan ini, seseorang dipercaya zuhud manakala beliau meninggalkan keharaman. Kedua, tingkatan zuhud orang-orang istimewa (khawash). Yaitu meninggalkan hal-hal -bahkan yang halal sekalipun- yang melebihi kebutuhannya. Jadi beliau hanya merogoh sesuatu yang menjadi kebutuhannya saja. Ketiga, strata zuhud orang yg sangat istimewa (al-?Arifin). Pada tingkatan ini, seseorang akan meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk ingat kepada Allah.

Lalu bagaimana caranya supaya sifat zuhud mampu tumbuh di hati seseorang? Mengutip buku Akhlak Rasul dari Al-Bukhari dan Muslim, setidaknya ada lima faktor yang bisa menumbuhkan sifat zuhud pada pada hati seseorang:

Pertama, memikirkan kehidupan akhirat. Di dalam Islam, kehidupan di dunia adalah ladang akhirat. Jika dia beramal baik, maka dia akan mendapatkan pahala dan ganjaran. Juga sebaliknya. Bila dia berlaku buruk selama di dunia, maka ia akan mendapatkan siksa. Di akhirat kelak. Dengan senantiasa memikirkan kehidupan akhirat, maka dia akan selalu ingat bahwa amal yang dia kerjakan di dunia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sehingga dia tidak tertartik lagi dengan kenikmatan di kehidupan dunia yang sementara ini.

Kedua, menumbuhkan kesadaran bahwa kenikmatan di dunia bisa memalingkan hati dari ingat kepada Allah. Di samping itu, perlu juga ditumbuhkan dalam hati bahwa kenikmatan dunia membuat seseorang akan lama berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan semuanya kepada-Nya.

Ketiga, menumbuhkan kesadaran bahwa memburu dunia sangatlah melelahkan. Tidak jarang seseorang saling sikut, berbuat keji dan hina, untuk mendapatkan dunia. Hal itu tentu saja membuat derajat manusia semakin rendah di hadapan Allah, meskipun mungkin derajatnya tinggi di hadapan manusia.

Keempat, menyadari bahwa dunia itu terlaknat. Sebagaimana keterangan dalam hadits nabi, dunia dan yang ada di dalamnya adalah terlaknat kecuali dzikir kepada Allah, belajar atau mengajar, dan pekerjaan yang ditujukan hanya kepada Allah. Jadi apapun itu, jika membuat seseorang menjadi jauh dari Allah maka terlaknat.

Kelima, merasa bahwa dunia adalah hina dan godaannya bisa membahayakan kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-A’laa ayat 16-17; "Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

Sekali lagi zuhud bukan berarti anti-harta benda. Juga bukan wajib hayati miskin atau identik menggunakan kemiskinan. Namun melepaskan keterkaitan hati dengan harta. Contohnya, poly teman Nabi Muhammad saw. Yang kaya namun tetap zuhud seperti Abduraahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Mereka memiliki harta yang melimpah, namun hartanya tidak membutakan mata & hati mereka sebagai akibatnya melupakan akhirat.

Wallahu A?Lam

Sumber: Situs PBNU

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Cara Melatih Hati Agar Tidak Rakus Harta Benda"