KISAH PALING SEDIH: SIAPA SAJA YANG BACA PASTI NANGIS

KISAH PALING SEDIH: SIAPA SAJA YANG BACA PASTI NANGIS - Kisah Paling Sedih dan mengharukan. Menurut saya pribadi menilai kisah inspiratif ini sebagai salah satu kisah paling dan mengharukan di dunia karena saya yakin siapa yang membaca kisah paling sedih nyata seorang ibu yang telah ditinggal pergi suaminya pasti akan menangis, pasti terharu.

Kisah Hikmah Paling Sedih

Saya berharap kamu bertanya-tanya sebelum membaca kisah paling murung ini, siapkan tisu, kalau kebetulan kamu membaca kisah paling menyedihkan di kamar sendiri, lebih baik sambil nyalain musik bertema sedih pula misalnya instrumental do'aku .

Semoga insiden pada bawah ini membuat kita belajar bersyukur buat apa yg kita miliki :

Aku membencinya, itulah yg selalu kubisikkan pada hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah sahih-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah lantaran paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, saya tidak pernah menampakan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya lantaran saya tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul asa meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial & dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat mengasihi suamiku lantaran menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, saya menjadi istri yg teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku pula memanjakanku sedemikian rupa. Aku tidak pernah sahih-sahih menjalani tugasku menjadi seorang istri. Aku selalu bergantung padanya lantaran aku menduga hal itu telah seharusnya selesainya apa yg dia lakukan padaku. Aku sudah menyerahkan hidupku padanya sebagai akibatnya tugasnyalah membuatku senang dengan menuruti seluruh keinginanku.

Di tempat tinggal kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika terdapat sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tidak suka handuknya yg basah yg diletakkan di tempat tidur, saya sebal melihat dia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci waktu ia memakai komputerku meskipun hanya buat menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah bila dia menggantung bajunya pada kapstock bajuku, aku juga murka jikalau dia menggunakan pasta gigi tanpa memencetnya menggunakan rapi, saya marah bila beliau menghubungiku hingga berkali-kali ketika saya sedang bersenang-senang menggunakan sahabat-temanku.

Tadinya saya memilih buat nir punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi saya tidak mau mengurus anak. Awalnya beliau mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya dia menyembunyikan keinginannya begitu pada sampai suatu hari aku lupa minum pil KB & meskipun dia tahu beliau membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya selesainya lebih menurut empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah waktu saya mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yg sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar saya tidak hamil lagi. Dengan patuh dia melakukan seluruh keinginanku lantaran saya mengancam akan meninggalkannya beserta kedua anak kami.

Waktu berlalu sampai anak-anak tidak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, saya bangun paling akhir. Suami & anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, dia mengingatkan kalau hari itu terdapat peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab menggunakan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, ketika itu saya memilih ke harta benda & tidak hadir di acara ibu. Yaah, lantaran merasa terjebak dengan perkawinanku, saya jua membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke tempat kerja, umumnya suamiku mencium pipiku saja & diikuti anak-anak. Namun hari itu, ia jua memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak & melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia pulang mencium sampai beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat buat pulang.

Ketika mereka pergi, akupun menetapkan untuk ke salon. Menghabiskan ketika ke salon merupakan hobiku. Aku datang di salon langgananku beberapa jam lalu. Di salon aku bertemu keliru satu temanku sekaligus orang yg nir kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan aktivitas kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, tetapi betapa terkejutnya saya ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun mengambil tasku hingga bagian terdalam saya tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yg terjadi sampai dompetku tidak bisa kutemukan aku menelepon suamiku & bertanya.

"Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan & aku tidak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya pulang ke tasmu, jikalau nir galat saya letakkan di atas meja kerjaku." Katanya mengungkapkan menggunakan lembut.

Dengan murka , aku mengomelinya menggunakan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya terselesaikan bicara. Tak usang kemudian, handphoneku pulang berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya menggunakan setengah membentak. "Apalagi??"

"Sayang, aku pergi kini , saya akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang terdapat dimana?" tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku pulang menutup telepon. Aku berbicara menggunakan kasir & berkata bahwa suamiku akan tiba membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya telah membolehkanku pergi & mengungkapkan saya sanggup membayarnya nanti kalau saya kembali lagi. Tapi rasa malu karena "musuhdanquot;ku pula ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi buat berhutang dulu.

Hujan turun saat saya melihat keluar dan berharap kendaraan beroda empat suamiku segera hingga. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin nir tabah sebagai akibatnya mulai menghubungi handphone suamiku. Tak terdapat jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak lezat & marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika bunyi bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, "selamat siang, bunda. Apakah ibu istri menurut bapak armandi?" kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seseorang polisi, dia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan waktu ini beliau sedang dibawa ke tempat tinggal sakit kepolisian. Saat itu saya hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok menggunakan resah. Tanganku menggenggam erat handphone yg kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku menggunakan sigap bertanya terdapat apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya saya sampai pada tempat tinggal sakit. Entah bagaimana jua tahu-tahu semua famili hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya membisu seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu wajib melakukan apa lantaran selama ini dialah yg melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya sehabis menunggu beberapa jam, sempurna waktu kumandang adzan maghrib terdengar seseorang dokter keluar dan mengungkapkan liputan itu. Suamiku sudah tiada. Ia pulang bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yg menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar fenomena itu, saya malah sibuk menguatkan ke 2 orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di ke 2 mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat namun kesedihan mereka sama sekali tidak sanggup membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah & saya duduk pada hadapannya, saya termangu menatap paras itu. Kusadari baru kali inilah saya sahih-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya & kupandangi dengan akurat. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yg telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yg sudah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yg dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap supaya airmata tidak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat seluruh bagian wajahnya supaya kenangan anggun mengenai suamiku tidak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan berdasarkan imam mesjid yg mengatur prosesi pemakaman tidak sanggup membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang sudah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tidak pernah mengatur makannya. Padahal beliau selalu mengatur apa yg kumakan. Ia memperhatikan vitamin & obat yg harus kukonsumsi terutama waktu mengandung & sesudah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku bila saya sedang malas makan. Aku tidak pernah memahami apa yang ia makan karena saya tidak pernah bertanya. Bahkan saya tak memahami apa yg dia sukai dan nir disukai. Hampir semua famili memahami bahwa suamiku adalah penggemar mie instant & kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku memahami dia mungkin terpaksa makan mie instant karena saya hampir tak pernah mengolah untuknya. Aku hanya mengolah untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tidak perduli dia sudah makan atau belum saat pergi kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari lantaran menurut tempat kerja cukup jauh berdasarkan tempat tinggal . Aku tidak pernah mau menanggapi permintaannya buat pindah lebih dekat ke kantornya lantaran tak mau jauh-jauh berdasarkan tempat tinggal sahabat-temanku.

Saat pemakaman, aku tidak sanggup menahan diri lagi. Aku pingsan saat melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yg menimbun. Aku tidak tahu apapun sampai terbangun pada loka tidur besarku. Aku terbangun menggunakan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia lantaran mereka tidak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yg kujalani selesainya kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan namun saya malah terjebak di dalam cita-cita buat bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, saya duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yg kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan bila aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk waktu mandi, saya berteriak memanggilnya misalnya biasa & ketika malah ibuku yg tiba, saya berjongkok menangis pada dalam kamar mandi berharap ia yang tiba. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali saya tidak sanggup melakukan sesuatu di tempat tinggal , membuat sahabat kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam saya menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya pada sebelahku.

Dulu aku begitu kesal jikalau tidur mendengar suara dengkurannya, akan tetapi sekarang saya bahkan tak jarang terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu saya kesal lantaran beliau sering berantakan di kamar tidur kami, namun sekarang saya merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu saya begitu kesal jika beliau melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia menciptakan kopi tanpa alas piring pada meja, kini bekasnya yg tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun nir mau kuhapus. Remote televisi yg biasa disembunyikannya, kini menggunakan gampang kutemukan meski saya berharap bisa mengganti kehilangannya menggunakan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan lantaran saya baru menyadari bahwa beliau mencintaiku dan saya telah terkena panah cintanya.

Aku pula murka dalam diriku sendiri, saya murka karena semua kelihatan normal meskipun ia telah tidak ada. Aku murka karena baju-bajunya masih pada sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku murka karena tidak sanggup menghentikan seluruh penyesalanku. Aku marah karena tidak terdapat lagi yang membujukku agar tenang, tak terdapat lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena saya ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah lantaran menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena sudah sebagai istri yg buruk pada suami yg begitu paripurna. Sholatlah yg bisa menghapus dukaku sedikit-sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu poly perhatian berdasarkan famili untukku & anak-anak. Teman-temanku yg selama ini kubela-belain, hampir tak pernah memberitahuakn btg hidung mereka sehabis kepergian suamiku.

Empat puluh hari selesainya kematiannya, famili mengingatkanku buat bangkit berdasarkan keterpurukan. Ada 2 anak yang menungguku & harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini saya memahami beres & tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini saya tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku buat kupakai buat keperluan eksklusif & setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir bersama kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya saya terdiam tidak menyangka, ternyata semua gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan buat keperluan tempat tinggal tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain buat memenuhi kebutuhan rumah tangga karena saya tidak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang saya tahu kini aku wajib bekerja atau anak-anakku takkan mampu hayati karena jumlah honor terakhir dan kompensasi bonusnya takkan relatif buat menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tidak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur sang dia.

Kebingunganku terjawab beberapa saat kemudian. Ayahku datang bersama seseorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris menaruh sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan semua kekayaannya padaku dan anak-anak, dia menyertai ibunya dalam surat tersebut akan tetapi yg membuatku tidak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf lantaran harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. Maaf lantaran harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf lantaran aku tak sanggup memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku saat yg terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak merupakan hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku sanggup, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini saya sudah menabung sedikit demi sedikit buat kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah sehabis aku pulang. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya buat membesarkan & mendidik anak-anak. Lakukan yg terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yg manja. Lakukan poly hal buat menciptakan hidupmu yg terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu buat mewujudkan mimpi-mimpi yg tidak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan jika aku menyusahkanmu & semoga Tuhan memberimu jodoh yg lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan lantaran ayah tak sanggup mendampingimu. Jadilah istri yang baik misalnya Ibu & Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi & selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, terdapat gambar kartun menggunakan kacamata yg diberi pengecap menjulur khas suamiku jika dia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku mempunyai beberapa iuran pertanggungan dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku menciptakan beberapa usaha menurut hasil deposito tabungan tadi dan bisnis tadi cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya sanggup menangis terharu mengetahui betapa akbar cintanya pada kami, sehingga waktu ajal menjemputnya dia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir buat menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tidak sanggup menghapus sosoknya yg masih begitu hayati pada dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan buat anak-anakku. Ketika orangtuaku & mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku ketika suamiku pergi.

Kini ke 2 putra putriku berusia duapuluh 3 tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda berdasarkan tanah seberang. Putri kami bertanya, "Ibu, aku harus bagaimana nanti selesainya sebagai istri, soalnya Farah kan ga sanggup masak, ga mampu nyuci, gimana ya bu?"

Aku merangkulnya sambil mengungkapkan "Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yg dia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar mendapat kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun problem, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta."

Putriku menatapku, "misalnya cinta bunda buat ayah? Cinta itukah yang menciptakan mak tetap setia dalam ayah hingga sekarang?"

Aku menggeleng, "bukan, sayangku. Cintailah suamimu misalnya ayah menyayangi mak dulu, misalnya ayah mengasihi kalian berdua. Ibu setia dalam ayah lantaran cinta ayah yang begitu akbar pada bunda dan kalian berdua."

Aku mungkin tidak beruntung lantaran tidak sempat memperlihatkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun buat membencinya, namun menghabiskan hampir sepanjang residu hidupku buat mencintainya. Aku bebas darinya lantaran kematian, akan tetapi aku tak pernah mampu bebas dari cintanya yg begitu ikhlas.

Kisah Paling Sedih

*** mungkin sebagian berdasarkan kamu pernah membaca kisah ini, namun saya konfiden kisah tadi bisa SANGAT MENGINSPIRASI sahabat-temanmu yg belum membacanya***

BANTU SHARE / BAGIKAN KISAH PENUH HIKMAH INI YA

asal : http://bundaiin.Blogdetik.Com

Tidak ada komentar untuk "KISAH PALING SEDIH: SIAPA SAJA YANG BACA PASTI NANGIS"