Hadapi COVID-19, Belajarlah Pada Kisah Tzalbazar

Wabah virus Corona yang kini mendunia mengingatkan saya dalam kisah Tzalbazar, Azzam Al-Jormy, & gua kematian. Apabila Tzalbazar ingin sekali meninggal karena benci Tuhan, Azzam oleh sufi sangat ingin mati justru lantaran rindu Tuhan. Begini kisahnya:

Ratusan tahun dari kini , di salah satu pojok Bumi pada daratan Afghanistan, tinggallah seseorang lelaki yg semenjak kecil hidup miskin. Namanya Tzalbazar. Lelaki ini sudah bosan hayati & benci sekali pada Allah. Ia menduga Allah tak adil padanya lantaran kemiskinan yang usang beliau derita itu.

Sudah tiga kali dia mencoba bunuh diri tapi selalu gagal. Orang-orang selalu saja memergoki dirinya pada waktu-ketika terakhir waktu beliau hampir berhasil mengusir nyawanya sendiri. Bahkan, pernah 5 kali ia bertarung melawan perampok, akan tetapi sialnya selalu saja beliau yang menang. Tzalbazar putus harapan. Bukan cuma miskin, meninggal pun susah baginya.

Lelaki kelahiran Feyzabad ini akhirnya merantau berdasarkan satu desa ke desa lain hanya buat mencari orang yang sanggup membunuhnya. Di setiap desa ia bertanya pada mana ada orang sakti yg bisa menolong mencabut nyawanya. Akhirnya, sampailah dia pada desa Galalabad. Seorang penduduk desa memberitahu bahwa di pinggir desa terdapat pula seorang lelaki sakti yang pula ingin meninggal, akan tetapi telah 10 tahun belakangan ia hanya berani bertapa pada depan sebuah gua. ?Berdoa saja dalam Tuhan semoga dia bisa membantu engkau mangkat ,? Istilah penduduk desa itu.

Tzalbazar segera bergegas pulang ke pinggir desa kemudian bertemu Azzam Al-Jormy yang ternyata seorang ahli thariqah menurut desa Jorm. Sudah 10 tahun beliau menetap pada depan sebuah gua di pinggir desa Galalabad. Ia kerap terlihat duduk bersila berjam-jam di depan gua itu dengan tasbih di tangannya. Tak tabah, Tzalbazar segera menyapanya.

?Orang tua, dari jauh aku tiba ke sini untuk minta donasi Anda? Istilah Tzalbazar

?Apa yang bisa aku bantu?? Tanya Azzam Al-Jormy

?Tolong bunuh saya. Saya sudah bosan hidup lantaran selalu miskin semenjak mini ?. Jawab Tzalbazar

Azzam Al-Jormy lalu tertawa. Dia heran dalam Tzalbazar, bagaimana mungkin buat sanggup mati saja susah, apalagi buat jadi orang kaya. Akhirnya beliau mengatakan dengan nada agak berat.

?Dengarkan, gua yang saya jaga selama 10 tahun ini sebenarnya gua kematian. Siapa saja yg masuk ke dalam gua ini pasti mati. Jadi jika kamu ingin cepat mati, masuklah cepat ke gua itu, kamu niscaya mangkat misalnya orang-orang yg pernah masuk ke dalamnya kemudian tak pernah balik ? Jelas Azzam Al-Jormy

?Tapi saya dengar Anda pula ingin meninggal? Mengapa Anda nir masuk saja ke gua itu bila benar ini gua kematian?? Sergah Tzalbazar

?Apabila saya sengaja masuk ke gua itu, berarti aku bunuh diri,? Kentara Azzam Al-Jormy. ?Padahal ilmu thariqah yg saya pelajari mengajarkan saya buat menjadi orang yg paling bermanfaat bagi orang lain sebelum aku dipanggil Allah SWT. Saya sedang menunggu kapan giliran saya masuk ke pada gua itu agar saya mampu cepat melihat Wajah Allah.? Lanjut Azzam Al-Jormy

Tzalbazar tak banyak bertanya lagi, dia segera masuk ke dalam gua itu. Wajahnya sumringah, sebentar lagi dia mati. Dia sudah muak menggunakan kesengsaraan di global ini.

Benar saja, baru beberapa langkah memasuki gua, dia melihat poly tengkorak manusia berserakan. Mereka merupakan korban-korban yang meninggal akibat memasuki gua itu. Tapi, bukan ngeri melihat tengkorak-tengkorak itu, Tzalbazar malah tambah masuk ke dalam gua. Begitu berjalan tiga langkah, datang-tiba dia mendengar suara keras sekali berdegum dari pada gua hingga meruntuhkan beberapa stalaktit yang menempel di dinding gua.

Rupanya, bunyi menggelar inilah yang membuat orang-orang yang pernah masuk ke pada gua itu panik kemudian meninggal mendadak. Mereka menciptakan dugaan yg bermacam-macam mengenai bunyi menggelegar itu lalu meninggal mendadak akibat dugaan mereka sendiri, bukan akibat suara itu. Inilah yang terjadi dalam Tzalbazar. Dia bukan panik tapi malah tertawa gembira menantang-nantang bunyi keras berdegum itu.

?Hoooooi, siapa engkau ?? Teriak Tzalbazar tak mau kalah. ?Malaikat pencabut nyawa atau biang setan? Maju sini jika berani!? Gertak Tzalbazar

Begitu Tzalbazar balas berteriak dengan berani, tiba-tiba saja dinding atas gua itu runtuh menimbulkan bunyi yang lebih menggelegar lagi. Ternyata itu adalah suara ribuan emas batangan yg berjatuhan berdasarkan atap gua. Inilah sesungguhnya misteri gua itu selama ini: jika terdapat orang nir mati dampak bunyi menggelar yang timbul berdasarkan dalam lalu dia malah berani menantang bunyi menggelegar itu, maka bunyi tantangan yg berani itu sebagai kunci runtuhnya ribuan emas batangan yg bergelantungan di dinding gua. Inilah yang selama ini tidak diketahui penduduk desa Galalabad.

Maka, menggunakan bahagia hati Tzalbazar keluar gua sembari membawa berkarung-karung emas yg tak ternilai itu. Wajahnya sumringah. Dia bakal jadi orang kaya-raya. Apa yang baru saja beliau alami di dalam gua diceritakannya dalam Azzam Al-Jormy.

?Tapi, anak belia, buat apa emas-emas itu? Bukankah tersebut engkau ingin sekali tewas? Mengapa sekarang kamu terlihat seperti orang yg ingin hidup selamanya?? Tanya Azzam Al-Jormy

?Dengarkan, wahai ahli agama,? Sergah Tzalbazar. ?Tadi aku mau meninggal karena saya bosan hidup akibat miskin. Tapi kini kan aku kaya-raya menggunakan emas-emas ini, buat apa aku ingin cepat-cepat tewas?? Jelas Tzalbazar

Usai berkata seperti itu Tzalbazar menyerahkan 2 karung emas kepada Azzam Al-Jormy sebagai ungkapan terima kasih. Tapi Azzam menolak menggunakan cepat. ?Aku datang ke gua ini buat cepat mangkat karena rindu dalam Allah, bukan menginginkan emas-emas ini yg justru menjadi penghalang diriku melihat Wajah Allah,? Jelas oleh sufi dengan mantap.

Tzalbazar tercenung mendengar uraian Azzam. ?Kalau begitu aku batal ingin cepat mati, akan tetapi bukan berarti aku ingin hayati berfoya-foya dengan emas-emas ini. Akan saya bagikan kekayaan akbar ini pada fakir miskin supaya hidupku yang hanya sekali ini bermanfaat buat orang poly sebelum saya mati dunia?. Kata Tzalbazar

Demikianlah kisah Tzalbazar, Azzam, dan gua kematian. Mendekati kematiannya Tzalbazar juga sebagai seseorang sufi yg tidak cinta global. Sepanjang hidupnya dia justru membagi-bagikan kekayaannya -sesuatu yg selama ini justru hilang darinya & karenanya beliau membenci Tuhan.

Tapi, apa hubungannya kisah dua sufi ini dengan wabah Corona?

Kawan, ayo ambil pelajaran berharga menurut kisah mereka. Analogikan gua pada desa Galalabad itu adalah endemi Corona yg sekarang melanda global. Keduanya sama terkenal, sama menyimpan teror mematikan.

Tapi perhatikan, saat banyak orang meninggal akibat perkiraan negatif pada kepala mereka sendiri mengenai gua itu, ke 2 tokoh pada cerita ini justru bertahan hidup dampak perkiraan positif pada kepala mereka mengenai gua yg sama. Pikiran positif inilah yg membuat Azzam Al-Jormy tentram tinggal 10 tahun di depan gua, sebagaimana Tzalbazar yang juga tidak panik waktu suara menggelegar menurut dalam gua terdengar olehnya.

Virus Corona tentu saja bukan tanpa bahaya, tapi bukan berarti nir mampu kita versus menggunakan pikiran positif kita. Selama ini kita hanya terfokus pada informasi orang-orang yang meninggal dampak virus ini, persis seperti rakyat desa Galalabad yg bertahun-tahun juga tercekam sang informasi bahwa gua di desa mereka menebar maut ketimbang menjadi gudang harta pusaka.

Tak banyak kita baca atau dengar cerita mengenai mereka yg sembuh menurut Covid-19 ini, persis sebagaimana rakyat desa Galalabad juga tidak pernah mendengar kisah tentang emas melimpah ruah pada pada gua mematikan itu.

Karena itu, yuk sebar cerita-cerita penuh optimisme mengenai virus ini, sebagaimana Tzalbazar yang selalu bercerita baik tantang gua yg mematikan itu. Sehatkan jiwa kita, jangan biarkan jiwa-jiwa yg semula bercahaya itu redup kemudian sakit akibat pesimisme dan teror yang merajalela. Percayalah, niscaya terdapat banyak nasihat besar di balik tersebarnya virus Corona ini pada muka Bumi, hanya saja kita baru tahu sedikit mengenai pesan tersirat itu.

Jadilah misalnya Azzam Al-Jormy, yg tidak segera masuk ke pada gua itu meski dia memahami jika segera dia masuk ke dalamnya seluruh dahaga spiritualnya tentang Allah segera terlampiaskan. Untung beliau bersabar tidak buru-buru mati bunuh diri akibat egoisme dalam beragama, maka beliau memberi manfaat pada Tzalbazar misalnya yang dia yakini menurut ajaran tarekatnya.

Atau jadilah Tzalbazar, selesainya mengalami teror gua, beliau justru berbalik menceritakan hal-hal penuh optimisme dalam gua itu padahal selama ini gua itu dilegendakan menjadi mematikan.

Virus Corona bisa mematikan, tapi bukan berarti tidak banyak orang sembuh sesudah terinfeksi virus ini.

Teruslah jaga optimisme Anda. Jangan lama -usang hanyut sang cerita mengerikan mengenai gua. Ada banyak emas pada dalamnya!

Penulis: KH. Helmi Hidayat, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sumber: bangkitmedia.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Hadapi COVID-19, Belajarlah Pada Kisah Tzalbazar"