CERITA PENUH HIKMAH: JANGAN LIHAT ORANG DARI PENAMPILANNYA

CERITA PENUH HIKMAH: JANGAN LIHAT ORANG DARI PENAMPILANNYA - Setiap kali pulang kerja di sore hari, aku terbiasa memelankan kecepatan motor. Lalu menikmati jalan kecil yang sedikit padat di sore hari itu dengan melirik tepiannya. Mencari-cari jajanan untuk dibawa pulang. Paling tidak membuat putri kecilku yang akan datang menyambut tersenyum senang melihat bawaan khusus untuknya.

Masih satu belokan jalan lagi, saat mataku tertumbuk dalam gerobak bakso. Ah, itu saja. Bakso kan kegemaran putriku. Stang motorpun kubelokkan dan berhenti tepat di sisi gerobak. Aroma bumbu bakso yang khas menyambut hidungku waktu aku melepas helm. Perutku eksklusif mengirim sinyal kelaparan ke otak dalam beberapa detik. Hm? Cita rasanya tak relatif hanya membeli satu porsi. Kalau aromanya saja sesedap ini, niscaya cita rasanya pula lezat .

"Bang, 5 porsi. Bungkus ya!"

Si Abang yang sedang asyik meracik tiga mangkuk bakso pribadi melirikku & mengangguk dengan senyum lebar. "Oke, Bu. Silakan duduk dulu Bu, saya layani Nenek dulu nih Bu." ujarnya sambil menunjuk ke arah dua kursi plastik berwarna hijau jelas di dekatnya. Satu kursi sudah diduduki seseorang Nenek berbaju daster batik menggunakan jilbab merah marun. Aku mengangguk kecil, & duduk di kursi yang terdapat pada sebelah si Nenek.

Begitu duduk, tanganku merogoh tas yg bergantung miring di pundakku. Mengambil benda segiempat berwarna putih. Ponsel kesayanganku, hibah berdasarkan suamiku tahun lalu. Begitu membuka locknya, mataku mulai menelusuri notifikasi yg masuk. Kiriman kelompok Bbm, notifikasi komentar Facebook, mention Twitter dan terakhir kiriman sticker lucu di Line menurut putriku. Jariku mengetuk notifikasi terakhir, membalas kiriman stiker putriku.

Nenek

"Nek, baksonya udah nih!" istilah Abang tukang bakso sedikit keras mengalahkan deru bunyi tunggangan yang berlalu lalang pada depannya. Aku jua ikut mendongak, lalu berdiri & bersiap menyebut pesananku.

"Baksonya campur atau engga, Bu?" tanya si Abang padaku sembari menaruh plastik berisi 3 porsi bakso pada si Nenek.

Aku mendekatinya. "Dua lengkap, satu hanya pake mie yg putih, dan dua lagi hanya baksonya saja. Sambelnya dipisah dan semuanya jangan pake micin ya Bang."

Tangan si Abang dengan terampil merogoh 5 mangkuk & menjejerinya menggunakan rapi. Ia merogoh beberapa butir bakso & menceburkannya ke pada kuah panas yang mengeluarkan uap panas ketika tutupnya dibuka. Sambil merogoh mie, dia melirik si Nenek yang tampak sibuk merogoh kantong daster batiknya.

"Kenapa, Nek?" tanyanya kuatir. Aku juga jadi ikut melihat ke arah si Nenek.

Wajah Nenek yg tampak pucat, masih sibuk merogoh kantong sambil melihat ke lantai mencari-cari sesuatu. "Aduh, Bang. Dompet saya kok tidak ada ya? Tadi lihat dompet jatuh gak?"

"Yah si Nenek gimana sih? Tadi kan aku sibuk melayani pesanan Nenek. Lagian jika emang jatuh pada sini, Nenek pasti lihat kan?" nada bunyi si Abang sedikit keras & mulai kesal. Sementara Nenek tanpa sengaja bertemu pandang denganku.

Aku menghela napas. Hatiku sedikit tersentuh melihatnya. Mungkin saja bakso itu memang ingin dimakannya bersama anak cucunya. Kalaupun beliau memang menipu & ternyata memang tak punya uang berdasarkan awal, niscaya dia memang benar-benar hanya ingin makan kalau sampai berani memesannya.

Si Abang yg masih mengomel waktu melayani permintaanku, mulai bertambah kesal. Sementara si Nenek tampak semakin bingung harus berbuat apa. Ia hanya berdiri memandangi si saudara tertua tanpa bisa mengatakan apa-apa.

"Ya udah, Bang. Biar aku saja nanti yang bayar," kataku akhirnya. Lalu kulemparkan senyuman ikhlas pada Nenek. "Bawa saja, Bu. Jangan kuatir. Anggap saja saya lagi nraktir."

"Ya Allah, makasih ya Mbak. Makasih banget. Saya sahih-benar kehilangan dompet. Mbak tinggal di mana? Nanti saya bayar lagi jikalau aku tahu rumahnya Mbak." Nenek mengulurkan tangan padaku.

"Tidak usah, Bu. Tidak usah. Saya senang sanggup bantu Ibu. Anggap aja itu dari anak Ibu." Tak sadar aku menyambut genggaman tangan si Nene, mencium tangannya dan menepuk-nepuknya menggunakan ringan.

Sambil terus mengucap terima kasih, Nenek pun berjalan pergi menjauhi gerobak. Saat itulah kudengar lagi si Abang berbicara.

"Entar norma tuh, Bu. Hari ini berhasil menipu Ibu, mungkin besok orang lain. Jangan dibiasakan bu percaya sama orang begitu. Mereka memang pengen makan perdeo saja."

Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku menduga apa yg sudah terjadi maka biarlah. Toh, hanya 3 porsi bakso yang jika memang hanya untuk membohongiku, bisa jadi hambatan lapar perut mereka. Selama aku ikhlas, berbohong atau tidak, semoga itu jadi rezeki halal untuk si Nenek & orang-orang yang akan makan bersamanya.

*****

Sekitar 2 minggu kemudian, aku singgah lagi pada warung bakso si Abang. Dia tampak lega melihatku.

"Akhirnya Ibu tiba lagi. Alhamdulillah."

Aku tertawa kecil sambil melepas sarung tangan dan helmku, berkiprah mendekati gerobaknya setelah terselesaikan memarkir motorku dengan baik.

"Lima porsi ya Bang. Kali ini semuanya pake mie putih & bakso aja. Tidak pake micin," ujarku sembari duduk di kursi plastik yang masih tersedia pada dekat gerobak. Si Abang mengangguk & sekali lagi memamerkan ketangkasannya meracik bakso.

Kali ini, saya menunggu tanpa melakukan apa-apa. Hanya menonton si Abang membagikan mie ke pada mangkuk-mangkuk, lalu menaburkan seledri, daun bawang & bawang goreng. Terakhir, dia menciduk bakso dari dalam panci kuah, menuangkan sedikit kuah sebelum mengikat plastik bungkusan bakso. Tak lupa, beliau mengambil 5 plastik mini berisi saus dan sambal dan memasukkan semua bungkusan bakso itu beserta pelengkapnya ke dalam plastik lebih akbar. Setelah selesai, iea menyodorkannya padaku.

"Nih, Bang!" Tanganku menyodorkan selembar uang limapuluhribuan padanya. Ia menggeleng sambil tersenyum.

"Gak usah, Bu. Mulai kini , berapapun yang Ibu beli, sudah dibayarin," ungkapnya ringan.

"Hah?" Mulutku terbuka. Mataku yg umumnya lebih seperti garis itu kali ini misalnya mau keluar. Tak salahkah pendengaranku? Siapa yang bayar? Dari tadi hanya saya yang duduk dan memesan bakso. Tak ada orang lain.

Si Abang tertawa lagi. Tampak malu-malu waktu menjelaskan padaku. "Itu Bu, Bu Haji yg bunda bayarin tempo hari telah memberi saya uang buat bakso yg akan Ibu pesan. Beliau pula akan singgah ke sini lagi buat membayarkan seluruh bakso yg Ibu pesan. Berapapun jumlahnya."

"Hah?" Aku makin resah. Masih kaget menggunakan apa yang kudengar dan masih tak memahami harus menyampaikan apa. Setelah beberapa dtk, akhirnya otakku balik normal.

"Engga ah, Bang. Saya engga mau. Sudah deh. Ini saja relatif. Kalau Ibu itu datang lagi, bilang saja bila saya berterima kasih sekali. Tapi aku tidak senang berutang budi sama orang. Lagian aku memang menganggap bunda itu misalnya mak aku , maka saya bayarin."

"Iya deh, Bu. Nanti aku sampaikan."

Sambil meraih helm sesudah menggunakan sarung tanganku, aku kembali bertanya. "Jadi Ibu itu orang kaya ya Bang?"

Si Abang mengangguk dengan antusias. "Iya Bu, kayaknya kaya banget. Mobilnya aja mobil mercy gitu. Trus malah supirnya ikut mengawal beliau ketika turun."

Aku teringat sesuatu. "Hayoo, Bang. Waktu itu pake dimarah-marahi lagi tuh si Ibu."

"Hehehe, iya bu. Saya malu banget saat Ibu itu bilang jika nanti ada orang mau beli bakso terus gak mampu bayar, saya nir boleh murka lagi dan nanti Bu Haji yang akan membayarnya. Waktu dia datang hari itu, Bu Haji jua pesan 100 porsi untuk karyawannya di tempat kerja." kata si Abang dengan paras sedikit menggelap lantaran memalukan.

Aku tertawa. "Makanya Bang, jangan senang melihat orang berdasarkan penampilannya," kataku sebelum mengakhiri dialog & pulang membawa motorku pergi ke tempat tinggal .

Sepanjang jalan, saya memikirkan dan membayangkan wajah bengong si Abang ketika Nenek itu tiba ke warungnya lagi menggunakan penampilan tidak sinkron. Dia pasti kaget sekali. Aku pula sedikit membuat malu dalam diriku sendiri, yg jua sempat menduga si Nenek adalah pengemis biasa. Untunglah, hatiku masih lebih menang daripada otakku. Kalau saja saya pula berhati tega.. Uuggh! Pasti malu yang sama pun menimpaku.

***Pesan Moral : Jangan lihat orang dari penampilannya!!!

Hikmah lain oleh Habib Ali Al-jifry:

BAGAIMANA CARA MEMANDANG PELAKU MAKSIAT (MUTIARA TASAWUF HABIB ALI ALJIFRY)

Kisah Penuh Hikmah Habib Ali Al Jufry

Habib Ali Al Jifri Menjelaskan :

kenapa kamu melihat dirimu lebih baik berdasarkan dalam orang lain ?Coba pikirkan ???Sembari tersenyum Habib Ali Al-Jifri berkata : Sebab ketaatanmu ???? Hmmm..Berhati-hatilah.....!!!! Ayyuhal siswa (orang yang hendak menuju kepada Allah)jangan kau melihat orang yang berdosa ataupun orang yg melakukan maksiat menggunakan pandangan penghinaanini adalah pandangan yang sangat membahayakan dan pandangan seperti ini adalah dihentikan (haram) lantaran akan menaruh kesan/bekas pada hati ,akan mendholimi hati & pandangan semacam ini MENYEBABKAN HATI MENJADI GELAP....!!!

Habib Ali Al Jifri Bercerita : masih ada abid (ahli ibadah) dimasa bani israil yaitu orang yang sudah beribadah selama 500 tahun dan dia hanya beribadah saja & dia tidak pernah berbuat maksiat kepada Allah sama sekali .

Abid (pakar ibadah) bani isroil melihat seseorang fasik menurut bani isroil yang nir pernah taat kepada Allah Azza Wajalla, jadi keduanya sangat berseberangan .Saat keduanya melihat satu sama lain mereka saling berpaling. Apa sebabnya ?Abid (ahli ibadah) ini berpaling sebab keangkuhanya terhadap pelaku maksiat itu (fasik), dia (abid) mengira bahwa Allah nir akan mengampuni dosanya selama lamanya, dia melihat bahwa dirinya lebih baik dari pada fasik karena ibadahnya (abid),

Sambil menyelingi Habib Ali Al Jifri Menjelaskan : makna ibadah yg sebenarnya adalah ibadah yg akan menambahkan rasa "rendah hati" dan selalu merasa kekurangan.

Abid (ahli Ibadah) ini bangga sekali dengan Amal Ibadahnya.

Tetapi orang yg bermaksiat itu (Fasiq) pula berpaling menurut Abid,tapi karena apa ?Karena beliau membuat malu kepada Allah Azza Wajalla ,waktu dia berpaling menurut abid itu dia mengatakan :" ASTAGFIRULLOH SIAPAKAH AKU INI,HINGGA BERTEMU DENGAN ORANG YANG BAIK DAN AHLI IBADAH SEDANGKAN AKU INI HANYALAH ORANG FASIKdanquot;

Adalah Abid ini termasuk golongan bani isroil yang mempunyai karomah (kemuliaan) lantaran ibadahnya yang indah,maka diantara karomahnya merupakan saat dia berjalan maka awan senantiasa menangunginya (Ngiyupi..Jowo red), apabila datang mentari dipagi hari maka datang-lah awan menangunginya .

Maka saat beliau (abid) bertemu dengan fasik tersebut, lalu dia berpaling berdasarkan fasik lantaran takabur.

Habib Ali Al-jifry menerangakan : fokus dalam cerita ini adalah mengenai "pandangan" , pandangan pada orang fasik itu merupakan pandangan "sombong" dan pandangan fasik pada abid adalah pandangan lantaran rasa "malu" .

Waktu mereka berpisah, awan yg berada diatas abid menaungi tiba tiba meninggalkanya dan mengikuti si fasik kemudian menaunginya terus setelah itu .

Apakah sebabnya ????

Lantaran dia (abid) memandang menggunakan pandangan penghinaan

MAKA TIDAK DIBENARKAN BAGIMU UNTUK MENGHINA SESEORANG...!!!!HINAKAN-LAH MAKSIAT TAPI JANGAN KAU MENGHINA PELAKU MAKSIAT...!!!HINAKA-LAH KUFUR TAPI JANGAN KAU MENGHINA ORANG KAFIR...!!!

Lantaran dzat yang dihinakan dalam kafir itu merupakan hakikat kekufurannya, apakah hakikat kekufuran itu ?Yaitu orang yang meninggal pada keadaan KUFUR TETAPI SELAGI DIA HIDUP MAKA DIA TIDAK BOLEH DIHINA..KARENA SESUNGGUHNYA KITA TIDAK MENGETAHUI BAGAIMANA DIA AKAN MATI .

MAKA KITA TIDAK DIBENARKAN MENGHINA SESEORANG-PUN DARI MAKHLUK ALLAH

terdapat 3 jenis bentuk pandangan, sebagai akibatnya kita nir mendholimi hati ini (maksudnya adalah pandangan yang nir boleh kita lakukan)

1. Melihat pada aurot (yakni apa yg diingini nafsu) dengan pandangan Nafsu2. Melihat dunia menggunakan pandangan pengagungan (Ainu al ta'dhim)3. Melihat makhluk Allah dengan pandangan penghinaan (Ainu Al tahqir)

tiga pandangan ini mudah mudahan kita dijauhkan menurut padanya , kita berlidung menurut 3 perkara ini dengan pandangan yang akan menaruh pancaran dalam hati ini, sedangkan pandangan yang dapat menaruh pancaran pada hati ini adalah :

1. Pandangan yg dibenarkan Allah Azza Wajalla buat dipandang menggunakan pandangan tafakkur (Ainu Al tafakkur)

dua. Pandangan kepada orang tua ,kepada ulama ,pada saudara saudara muslim menggunakan pandangan kasih sayang / cinta "Ainu Almahabbahdanquot;

tiga. Pandangan kepada pelaku maksiat dengan pandangan belas kasihan (Ainu Al syafaqoh)

4. Pandangan pada orang yg taat dengan pandangan memuliakan (Ainu Al-ijlal)

Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

Sumber :

gambar: google dan facebook

http://bundaiin.Blogdetik.Com/index.Php/2015/04/29/jangan-lihat-penampilan/

https://www.facebook.com/1578576669027820/photos/a.1578578625694291.1073741827.1578576669027820/1681246295427523/?type=1&__mref=message_bubble

Tidak ada komentar untuk "CERITA PENUH HIKMAH: JANGAN LIHAT ORANG DARI PENAMPILANNYA"