Amalan Kiai Salman Dahlawi Untuk Meredakan Hujan Lebat

Ketika gerakan reformasi mulai bergulir, ditandai dengan lengser-nya Presiden Soeharto, pergolakan & kerusuhan merebak dimana-mana. Dan, waktu situasi semakin memanas, Nahdlatul Ulama merasa perlu mengajak semua warga nahdliyin buat menggelar istighasah, berdoa bersama memohon pertolongan Allah SWT.

Ketika itu masyarakat nahdliyin di Klaten, Jawa Tengah, tidak mau ketinggalan, menggelar istighasah pada Masjid Raudlatush Shalihin. Malam itu ribuan kaum muslimin berkumpul di masjid terbesar di Klaten itu, yang terletak pada tengah perkampungan industri cor logam Batur.

Ketika istighasah akan dimulai, datang-tiba turun hujan lebat, sebagai akibatnya para jamaah kalang kabut. Saat itulah tampil seseorang kiai. Melalui pengeras bunyi ia mengajak semua jamaah membaca surah Al-Fil sebelas kali. Setiap kali hingga dalam kata tarmihim, dibaca juga sebelas kali. Meski gelisah lantaran mulai kebasahan, dengan serempak para jamaah membaca surah Al-Fil beserta-sama.

Ajaib! Begitu pembacaan surah itu genap sebelas kali, hujan pun mulai reda. Bahkan tidak lama kemudian berhenti sama sekali. Dan rembulan kembali muncul terang benderang. Para jamaah berdecak kagum & terheran-heran. Sebagian berbisik, ?Iki merga karomahe Kiai.? (Ini karena karomah Kiai).

Para jamaah yakin, meski seluruh insiden tersebut tidak lepas dari kehendak dan biar Allah, kemujaraban doa tidak hanya lantaran bacaannya, tapi pula yg lebih krusial siapa yg membaca. Kiai yg memimpin bacaan Surah Al-Fil itu tiada lain KH. Muhammad Salman Dahlawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Manshuriyah, Popongan, pesantren tertua di Klaten.

Kiai kelahiran 1936 ini juga dikenal menjadi guru musryid Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyah, yang ratusan ribu muridnya beredar di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, & beberapa loka di Sumatra.

Kiai Salman merupakan anak lelaki tertua KH.M. Mukri bin KH. Kafrawi, dan cucu lelaki tertua KH. M. Manshur, pendiri pesantren yg sekarang diasuhnya. Kiai Manshur merupakan putra Syekh Muhammad Hadi Girikusumo, salah seseorang khalifah Syekh Sulaiman Zuhdi, mursyid atau pengajar pembimbing Thariqah Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Mekah.

Sebagai cucu lelaki tertua, Salman memang dipersiapkan sang kakeknya, Kiai Manshur, yg di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur menjadi aulia, buat melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah. Pada 1953, saat Salman berusia 19 tahun, oleh kakek, yang wafat 2 tahun lalu, membaiatnya menjadi Mursyid.

Sorogan dan Bandongan

Untuk menambah bekal keilmuan, Gus Salman nyantri ke pesantren pimpinan KH. Khozin pada Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur, selama kurang lebih empat tahun, 1956-1960. Tapi, sebulan sekali ia masih sempat nyambangi pesantren yg diasuhnya di Popongan, yang selama dia mondok pada Kediri diasuh sang ayahnya. Sebelum menjadi Mursyid, Salman menimba ilmu di Madrasah Mamba?Ul Ulum, Solo, dan beberapa kali nyantri pasan, pengajian Ramadan, kepada KH. Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang, Jawa Tengah.

Sejak 21 Juni 1980, Pesantren Popongan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Manshur, buat mengenang pendirinya, bersamaan peresmian yayasannya. Seperti di pesantren lain, semula santri yg datang hanya buat nyantri & ngaji menggunakan sistem sorogan dan bandongan ?Sistem pengajian tradisional- pada pesantren. Baru pada 1963 didirikan beberapa forum pendidikan formal, mulai dari Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Diniyah, Madrasah Aliyah, & terakhir Taman Kanak-kanak Al-Manshur (1980).

Saat ini Pesantren Al-Manshur terdiri dari 3 bagian: pesantren putra, pesantren putri, & pesantren sepuh, yang diikuti sejumlah orang tua yg menjalani suluk, yaitu laris atau amalan tarekat. Berbagai aktivitas ditata ulang. Program tahfidzul Qur?An, menghafal Al-Qur?An, contohnya, ditangani oleh KH. Ahmad Jablawi, kakak misan Kiai Salman, sekaligus dia mengasuh santri putri. Sementara pengelolaan madrasah formal diserahkan pada KH. Nasrun Minallah, saudara termuda Kiai Salman. Kiai Salman sendiri mengasuh santri putra dan santri sepuh.

Untuk mengantisipasi perkembangan zaman, kiai yang dikaruniai tiga putra dan 5 putri berdasarkan istri pertama Mu?Ainatun Sholihah ini juga sudah menyiapkan proses kaderisasi dan regenerasi. Dan semenjak 2001 beliau menikahi istri kedua, Siti Aliyah, sepeninggal istri pertama, yg wafat dalam 2000. Sejak itu ia pula memulai proses regenerasi dengan melibatkan putra-putrinya dalam pengelolaan pesantren.

KH. Salman Dahlawi

Belakangan, seiring menggunakan usianya yg kian lanjut, Kiai Salman menyiapkan kader eksklusif, baik menjadi pengasuh pesantren juga mursyid thariqah, yaitu Gus Multazam, 35 tahun. Sebab, belakangan kondisi fisik kiai yang tawadhu? Ini memang agak lemah. Maka Gus Multazam, putra ketujuh yang lahir di Mekah inilah, yg tampil sebagai badal, pengganti, pada beberapa pengajian. Misalnya dalam pengajian fikih di hadapan para santri sepuh setiap hari Selasa.

Figur Kiai Salman amat bersahaja, ramah, dan tawadhu?. Pada bulan Ramadan 1425 H kemudian, dia genap berusia 70 tahun. Ketika berbicara menggunakan para tamu, Kiai Salman lebih acapkali menundukkan kepala, menjadi wujud sikap rendah hati. Tak jarang, bahkan dia sendiri yang membawa baki berisi air minum menurut dalam rumah buat disuguhkan kepada para tamunya.

Seperti halnya para ulama, semakin sepuh justru semakin poly yang sowan memohon doa restu atau nasihat. Demikian juga dengan Kiai Salman, kian hari kian banyak kaum muslimin dari berbagai wilayah, dan aneka macam kalangan, yg sowan kepadanya. Baik untuk konsultasi eksklusif, bertanya perkara kepercayaan , juga sekadar silaturahmi minta doa restu. Bagaikan pohon, semakin tua semakin rindang, semakin banyak juga orang bernaung dari sengatan matahari di bawah rimbunan dedaunannya.

Oleh: KH.M. Nawawi Syafi?I, Batur, Ceper, Klaten, Jawa Tengah

Sumber: bangkitmedia.Com

ADS HERE !!!

Tidak ada komentar untuk "Amalan Kiai Salman Dahlawi Untuk Meredakan Hujan Lebat"